Wednesday, August 3, 2016

Perasaan, perasaan, perasaan

*Perasaan, perasaan, dan perasaan

1. Jatuh cinta itu manusiawi. Urusan perasaan, urusan membolak-balik hati itu adalah milik Allah. Boleh jatuh cinta? Ya boleh, tidak ada ulama dari mazhab manapun yg melarang jatuh cinta kepada seseorang. Apalagi, aduhai, seperti terjatuh, kita tdk pernah tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Tiba2 perasaan itu sudah mekar tak berbilang. 

2. Lantas, kalau kalian jatuh cinta, so what? Nah, ini bagian yg menariknya. Kalian mau menyatakan perasaan itu? Lantas so what? Kalian mau dekat2 dgn seseorang itu? Kalian mau telpon2an, tahu dia sedang apa, apakah bisulnya sudah sembuh, apakah panunya tidak melebar, apakah konstipasinya sudah hilang, sudah bisa ke belakang? Kebanyakan di usia remaja, hingga 20-an something, lantas kemudiannya ini yg tidak jelas. Pacaran? Tidak pacaran? Langsung menikah?

3. Ketahuilah, kita hidup dalam norma2, nilai2, batasan2 yg harus dihormati. Kecuali kalau kalian menolak norma2, nilai2, batasan2 tersebut, silahkan (dan berhenti sudah meneruskan membaca notes ini, karena kalian sudah tdk se-zona waktu lg dgn tulisan ini). Itu benar, memiliki perasaan itu kadang serba salah, makan tak enak, tidur tak enak. Itu benar, ada keinginan utk tahu apakah seseorang itu balik menyukai, keinginan utk bilang, cemas nanti dia digaet orang. Tapi kalau hanya ini argumen kalian, oh dear, orang2 sakau, ngobat, lebih tersiksa lagi saat dipisahkan dari hobinya tersebut. Mereka bisa mencakar2, bahkan melukai diri sendiri hingga begitu mengenaskan dan (maaf) is dead. Sy rasa, seingin apapun kalian jumpa dia, paling cuma nangis, tidak akan mati. Itulah kenapa hidup kita ini punya peraturan, agar semua orang bisa punya pegangan, selamat dr merusak dirinya sendiri. Sy tdk akan menggunakan dalil2 agama dalam notes ini--karena orang2 yg pacaran, kadang risih mendengarnya. Jadi kita sama2 kuat, sy pakai logika kalian sj.

4. Tapi saya harus bilang agar lega, bagaimana dong? Ya silahkan saja kalau mau bilang. Tapi camkan ini baik2, cinta sejati adalah melepaskan. Catat itu baik2, tanyakan pd pujangga kelas dunia, hingga pujangga amatiran narsis tere liye, hampir semua bersepakat, cinta sejati adalah melepaskan, lepaskan dia jauh2, maka kalau memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terjadi. Jadi? Kalau kalian belum jelas so what-nya, lantas kemudian mau apa setelah bilang, maka mending ditahan, disimpan dalam hati. Tuhan itu mendengar, bahkan desah tersembunyi anak manusia di pojok kamar paling gelap, paling sudut, di salah-satu kampung paling terpencil, paling jauh dari peradaban, paling tdk ada aksesnya. Jodoh itu misteri. Kalau nggak pakai usaha, nanti nggak dapat, gimana dong? Tentu saja usaha, tapi bukan dengan pacaran. Usaha terbaik mencari jodoh adalah: dgn terus memperbaiki diri. Nggak paham, kok malah aneh, malah disuruh memperbaiki diri. Ya itulah, dalam banyak hal, kalau kita nggak nyambung, memang nggak ngerti. Misalnya, banyak orang yg mikir kalau mau dapat ikan itu harus mancing di sungai. Padahal sebenarnya sih, kalau mau ikan, ya tinggal pergi ke pasar ikan. Lebih tinggi kemungkinan dapat ikannya--asumsinya punya uang.

5. Tapi apa salahnya pacaran? Boleh2 saja dong? Saya justeru merasa lebih semangat, lebih kreatif, lebih apa gitu setelah pacaran? Nah itu dia, kalian benar2 menyimpan bom waktu jika meyakini pacaran itu memberikan energi positif. Pacaran itu bentuk hubungan, dan sebagaimana sebuah bentuk hubungan antar manusia, posisinya rentan rusak, gagal, dan binasa. Boleh jadi betul, riset canggih akademik membuktikan orang2 pacaran bisa memperoleh motivasi baik, tapi saya, tidak akan memilih menggunakan 'pacaran' sbg sumber energi, mengingat sifatnya yg temporer sekali. Mending sy milih kekuatan bulan, jelas2 bulan itu sudah ada milyaran tahun, pacaran paling mentok hitungan jari tangan bertahannya. 

6. Baik, baik, lantas kalau tidak boleh pacaran, gimana dong? Kongkretnya apa yg harus sy lakukan? jawabannya mudah: Tidak ada yg perlu dilakukan. jatuh cinta, alhamdulillah, itu berarti tanda kita normal. lantas? Biarkan saja. Sibukkan diri sendiri dgn hal2 positif, isi waktu bersama teman2, keluarga. Belajar banyak hal, mempersiapkan banyak hal. Hanya itu. Nggak seru, dong? Lah, memangnya kalau pacaran seru? Paling juga cuma nonton ke manalah, pergi kemanalah. Pacaran itu seolah seru, karena dunia telah menjadi etalase industri entertainment. Pesohor2 menjadi teladan--padahal akal sehat siapapun tahu itu bahkan rendah sekali nilainya. Dari jaman batu, hingga kelak dunia ini game over, pegang kata2 saya: menghabiskan waktu bersama orang tua, kakak, adik, teman2 terbaik selalu paling seru. Apalagi jika ditambah dgn terus belajar, produktif, dsbgnya.

7. Lantas bagaimana sy melewati masa2 galau ini? Lewati seperti kebanyakan remaja lainnya. Lurus. Boleh kalau kalian mau menulis diary tentang perasaan2 kalian. Boleh galau menatap langit2 kamar. Boleh cerita2 curhat sama teman dekat dan orang tua. Boleh, tapi ingatlah selalu perasaan itu punya kehormatan. Kalian pasti sebal kan lihat teman sekelas yg tiba2 datang ke sebuah pesta ultah (padahal dia tidak diundang), sudah tdk diundang, makannya paling banyak, teriakannya paling kencang, paling gaya, norak, tidak tahu malu. Nah, ada loh--bahkan banyak-- orang2 yg tdk sadar kalau dia sebenarnya juga norak dan tidak tahu malu dalam urusan perasaan. Ya, kita sih kadang tdk merasa kalau sudah genit, ganjen, lebay. Sy tahu, istilah menjaga kehormatan perasaan ini boleh jd susah dipahami, tapi itu nyata, orang2 yg bisa menjaga perasaannya, maka se galau apapun dia, sesengsara apapun dia menanggung semua perasaan, besok lusa, kemungkinan untuk tiba di ujungnya dgn selamat akan lebih besar. Jangan coba2 berdua2an, jangan coba2 pergi kemanalah hanya berdua, bergandengan tangan, dsbgnya. Itu benar2 menghabisi kehormatan kalian. 

8. Nah, bersabarlah. Tunggu hingga kalian memang telah siap. Jika sudah yakin, silahkan kirim sinyal2, menyatakan perasaan, lantas silahkan libatkan orang tua. Btw (masih ngeyel), tapi banyak juga orang2 yg menikah tanpa pacaran bercerai, kok. Dan sebaliknya, orang2 yg pacaran malah langgeng? Itu benar. Sama benarnya dgn banyak orang2 yg mabuk2an, ngobat, tetap saja umurnya panjang. Eh, ada tetangga, alimnya ampun2an, malah meninggal lebih dulu. Harusnya kan kalau mereka melanggar peraturan, langsung ada petir menyambar. Menikah, membina keluarga, langgeng atau tdk, bahagia atau tidak, boleh jadi tdk ada korelasinya dgn pacaran atau tidak. Kita mungkin tdk pernah tahu misteri ini, tapi dengan menjalani prosesnya dgn baik, mengakhirinya dgn baik, semoga fase berikutnya berjalan dgn baik.

9. Sungguh jangan habiskan masa muda kalian yang cemerlang hanya sibuk mengurus perasaan. Masa muda itu sangat penting, lebih baik habiskan untuk sekolah, belajar, dan semua kegiatan yg akan bermanfaat bagi masa depan kalian. Termasuk jangan lupa, ada keluarga, ada teman2 terbaik loh, bukan cuma pacar. Kalian mungkin tidak bisa melihatnya sekarang, tapi 20-30 tahun lagi, kalian akan ngeh sekali nasehat ini. Orang2 yg dulu sibuk pacaran, sibuk gaul, memang terlihat keren dan hebat, tapi saat usia mereka melesat 40, 50, situasinya akan berbalik arah.

Pikirkanlah.

*Tere Liye
Read more...
separador

Sunday, July 24, 2016

Usia 1/4 abad

Jika usia kita sudah 25 tahun, hampir 25 tahun, atau sudah lewat 25 tahun, mungkin hal2 berikut menarik diperhatikan. Ini hanya catatan ringan, jadi tidak perlu terlalu serius.

1. Berhentilah berpikir kalau kita masih remaja

Dalam definisi apapun, usia 25 tahun bukan lagi usia remaja. Jadi, tidak pantas bersikap seperti remaja yang masih kekanak2an. Bicaralah yang biasa2 saja, menulislah yang biasa2 saja, tidak pantas lagi kalau masih mau manja2, genit2, apalagi merasa imut menggemaskan. Apalagi kamu, Bambang, Joko, Agus, ayo, dek, nggak pantas lagi merasa diri kita paling imut menggemaskan.

2. Mulailah mengambil tanggung-jawab

Usia 1/4 abad itu sudah matang sekali. Yang kuliah, harusnya sudah lulus, dan mulai bekerja. Yang tidak kuliah, semestinya juga sudah bekerja. Kalaupun ambil S2 atau S3, cara berpikirnya sudah berbeda. Mulailah mengambil tanggung-jawab. Masa’ kita masih harus minta uang buat beli pulsa? Minta uang buat beli bensin motor? Sudah masih minta uangnya ke orang tua, eh, cuma dipakai buat telpon2an pacaran, keluyuran pacaran. Jaman dulu, anak2 usia 18 tahun bahkan sudah bisa mandiri. Entahlah, apa yang jadi sumber masalah hari ini, usia 1/4 abad tapi masih merepotkan orang tua.

3. Mulailah memikirkan cita-cita hidup dengan serius

Hidup ini tidak cuma makan, tidur, makan tidur, dstnya. Mulailah memikirkan apa yang akan kita lakukan. Apa yang hendak kita capai. Lihat ke belakang, apa hal yang telah kita capai? Dan apalagi yang hendak kita capai? Kejar impiannya, dek. Jangan bangun kesiangan, malas ngapa2in, entah besok lusa jadi apa, bodo amat. Tabiat malas itu amat berbahaya.

4. Berhenti penuh drama

Nonton drama Korea sih boleh. Tapi berhentilah hidup penuh drama. Dikit2 lebay, dikit2 heboh, dikit2 rusuh. Kita sudah 1/4 abad, bukan remaja lagi. Kita sudah dewasa, dan sebagaimana mahkluk dewasa, tahu keputusan apa yang harus diambil. Kita juga bisa memfilter mana omongan orang lain yang bermanfaat, mana yg harus ditinggalkan. Kita juga bisa memilih, mana hal penting yg harus diikuti, mana yg sudah tidak berguna lagi. Jomblo misalnya, tidak ada masalah serius dengan menjadi jomblo, malah bisa fokus sekolah dan meniti karir. Daripada menghabiskan waktu penuh drama. Berhenti penuh drama.

5. Jaga kesehatan

Kesehatan itu adalah investasi. Semakin muda kita memulai proses menjaganya, maka akan kita petik di masa depan manfaatnya. Tidak merokok, tidak begadang, apalagi minuman alkohol, dsbgnya sejak muda, itu akan dirasakan manfaatnya di masa tua. Apalagi jika ditambahkan dengan sering olahraga, menjaga makanan, itu investasi yang baik.

6. Asupan gizi untuk jiwa

Ini kadang sering betul kita abaikan. Di dalam tubuh kita itu ada yang disebut “jiwa”. Nah, jika kita sibuk memoles fisik luar, kapan kita akan mulai memoles bagian dalam kita? Kapan kita akan mulai memberikan asupan gizi bagi “jiwa” kita. Kalian tahu kenapa orang dewasa itu banyak masalahnya? Kesibukan tidak ada habis2nya? Waktu yang tidak berkah? Rasa syukur yang dangkal? Bahkan saat hidupnya sudah cukup pun, dia rela mencuri, korup, dan aniaya? Karena jiwanya tidak diberikan asupan gizi. Jika usia kita sudah 1/4 abad, mendesak sekali kita mulai melengkapi hidup ini dengan pemahaman2 terbaik, pelajaran2 penting. Jangan malas membaca buku2 yang baik, jangan malas belajar dan memperhatikan. Dan lebih penting lagi, jangan malas belajar agama.

7. Berhenti menghabiskan waktu mubazir

Masih suka berantem di media maya? Masih suka bertengkar di kolom komentar website berita? Postingan orang lain? Ayolah, berhenti menghabiskan waktu sia-sia. Kita sudah 1/4 abad lebih, ngapain harus ribut hanya karena hal2 tidak penting. Aduh, rugi amat kalau masih suka mengotot, hanya orang2 kurang kerjaan yang menghabiskan waktunya sia-sia. Lebih baik fokus produktif, terus belajar dan berkarya. Dan pastikan, kita juga tidak menghabiskan waktu banyak dengan gagdet/HP. Masa' iya, tiap menit hanya terlihat melototin HP terussss--sementara kewajiban dan pekerjaan kita menumpuk tidak beres-beres. 

Kurang lebih begitu. Semoga bermanfaat.

*Tere Liye
Read more...
separador

Thursday, July 14, 2016

Kekacauan paham

Siapa di sini yang sering sekali ditanya: "kapan menikah?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, tertawa, "Belum dapat jodohnya." atau "Makanya cariin, dong.", Ada juga yang menerima pertanyaan ini sedikit formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan, "Insya Allah segera." Ada juga yang jengkel sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam titik ekstrem, membuat malas berangkat kondangan, atau menghadiri acara keluarga--tempat di mana modus pertanyaan favorit ini sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali bertanya: "kapan menikah?", "kapan nyusul?" Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?
Siapa di sini yang sering ditanya: "kapan punya momongan?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus terang, ada juga yang sepulang dari acara tersebut, setelah menerima pertanyaan tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih. Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2 belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari tamu2 undangan lainnya.
Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak, kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi kenapa orang2 masih saja menanyakannya?
Saya sering menyaksikan teman sendiri, kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya paham rasa terganggu itu.
Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini tanpa kesimpulan solusinya.
Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan hal simpel. Kalian pernah datang ke pemakaman? Pernah datang ke acara menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, "kapan nyusul yang mati?" Kenapa tidak ada yang sambil sumringah, mencoba memecah situasi dengan percakapan ringan, "hallo om, pak, ibu, kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?"
Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran? Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy mengerti.

*Tere Liye
Read more...
separador

Wednesday, July 13, 2016

Ibu rumah tangga

Untuk jadi sarjana ekonomi atau insinyur, kita butuh 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA, 4 tahun kuliah, dapat gelar sarjananya.

Untuk jadi apoteker, akuntan, psikolog, dokter dan gelar profesi lain, kita tambah lagi 2 tahun sekolah profesi, pengabdian, dsbgnya.

Tetapi untuk menjadi ibu rumah tangga? Dikumpulkan seluruh pendidikan tersebut, ditambah lagi bertahun2, bertahun2, bertahun2 kemudian, tetap tidak akan cukup untuk bisa memastikan seseorang berhak menyandang: ibu rumah tangga terbaik. Karena panjang dan pentingnya proses pendidikan ibu rumah tangga.

Nah, kalau semua orang ingin sekolah tinggi2 demi gelar, profesi, pekerjaan, dsbgnya, maka ajaib sekali, kenapa orang2 begitu menyepelekan pendidikan super tinggi untuk menjadi ibu rumah tangga? Padahal memiliki anak yang berakhlak baik, keluarga yang bahagia, jauh lebih penting dibandingkan kesuksesan karier dan sebagainya.

Berikan pendidikan kepada anak2 perempuan kita setinggi mungkin, agar kelak saat menjadi Ibu, sungguh berguna semua ilmunya. Satu Ibu yang baik, akan melahirkan satu keluarga yang baik. Satu generasi Ibu yang baik, maka akan datanglah penerus yang dijanjikan.

*Tere Liye
Read more...
separador

Thursday, July 7, 2016

22 Kode Rahasia yang Wajib Diketahui Pengguna Smartphone

Tak banyak orang tahu bahwa Smartphone Android memiliki banyak sekali kode rahasia yang sangat berguna bagi penggunanya. Beberapa kode rahasia tersebut bahkan mampu menampilkan kondisi smartphone kita.

Jadi, silakan dicatat kode rahasia ini jika kalian akan membeli smartphone second agar tidak salah beli.

1. Kode: *#06# Mengetahui Nomer IMEI
2. Kode: *#0000#* - Cek Asli atau Palsu
3. Kode: *#*#2664#*#* - Cek Kemampuan Layar Sentuh
4. Kode: *#*#0*#*#* - Cek Performa Layar LCD
5. Kode: *#*#1472365#*#* - Cek Kualitas GPS
6. Kode: *#*#34971539#*#* - Cek Informasi Kamera
7. Kode: *#*#232331#*#* - Cek Bluetooth
8. Kode: *#*#0842#*#* - Cek Getar dan Flashlight
9. Kode: *#*#0673#*#* atau ##0289## - Cek Audio / Suara
10. Kode:  *#*#197328640#*#* - Cek Operator dan Internet
11. Kode: *#*#7780#*#* - Factory Reset
12. Kode: *#*#7594#*#*: Mematikan HP Android kamu tanpa perlu ada pilihan bermacam-macam
13. Kode: *#*#4636#*#*: Menampilkan informasi mengenai ponsel, baterai, penggunaan ruangan penyimpanan dan WiFi
14. Kode: *2767*3855#: Melakukan wipe total, termasuk Firmware
15. Kode: *#*#273283*255*663282*#*#*: Untuk backup semua foto dan video dari gallery
16. Kode: *#*#8255#*#*: Akses GTalk Service Monitor
17. Kode: *#*#36245#*#*: Akses Email Debug Info
18. Kode: *#*#225#*#*: Events Calendar
19. Kode: *#*#426#*#*: Debug info Google Play Service
20. Kode: *#0228# Cek kode sinyal dan baterai
21. Kode: *#7284#  Cek kode usb
22. Kode: *2767*3855#  Reset handphone


Catatan!!!
Harap berhati-hati saat mencoba kode rahasia diatas. Kami tidak bertanggung jawab atas hilangnya aplikasi atau data atau hal-hal lain yang menjadikan handphone anda tidak berfungsi. Beberapa kode diatas bisa menyebabkan perubahan serius, salah satu contohnya pada kode Reset Handphone dan Reset Factory. Perbedaan versi OS atau tipe Android juga bisa menyebabkan kode rahasia diatas tidak berfungsi. 
Read more...
separador

Wednesday, July 6, 2016

Jenis-jenis Gombal Ala Tere Liye

Jenis-jenis gombal (baca sampai selesai, biar tahu)

1. Gombal kelas internasional
Bilang ke pacar 'Aku cinta kamu karena Allah, dek." Pacar? Sambil pegangan tangan? Mesra2an. Aduh, nggak banget deh. Jangan bawa2 Tuhan utk urusan pacaran yg jelas melanggar banyak peraturan Tuhan. Malaikat saja mungkin gerah berada di sekitar, mungkin pergi ratusan kilometer, menjauh.

2. Gombal kelas nasional
Orang pacaran yg ngaku2: "Cinta kita suci, ini anugerah Tuhan yang tidak kita minta." Sambil mojok berdua. Asyik berduaan, asyik pegangan tangan. Suci? Tapi dikotori dengan pacaran, yg melanggar begitu banyak peraturan Tuhan. Ya ampun sejak kapan pacaran masuk dalam definisi suci.

3. Gombal kelas provinsi
"Nggak juga bang tere, pacar aku serius kok". Wushhh, hening deh. Serius? Sejak kapan pacaran masuk definisi serius? Kalau serius ya menikah. Satu-satunya keseriusan dalam pacaran adalah: serius pacaran. Asyik masyuk, menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

4. Gombal kelas kabupaten
"Kami pacarannya islami kok, tahu batas-batasnya." Ya ampun, justeru dengan pacaran, batas terbesarnya sudah dilanggar. Kalau memang ada pacaran islami, maka besok lusa, acara bergosip di televisi akan ngaku gosip islami. Yang pembawa acara gosipnya seperti cacing kepanasan akan membuka acara dengan: "Hei hei pemirsa, assalammualaikum, hallllo apa kabar sih? Kalian tahu nggak penonton, masya Allah, subhanallah, kucing sebelah rumah selingkuh. Astagfirullah. Mari kita berdoa semoga selingkuhannya diberikan jalan tobat, Allah SWT berfirman, Rasul Allah bersabda, dst, dstnya."

5. Gombal kelas kecamatan
"Beneran loh, Bang, pacaran itu menambah semangat belajar." Oh iya? Lantas hitung sendiri nanti ya, berapa banyak waktu sia-sia yang dihabiskan, berapa banyak galau, tidak menentu. Dan silahkan cek sendiri, apakah kalian jadi peserta olimpiade Matematika dunia dan dapat medali emas gara2 pacaran. Kalau mau jujur2an, mau mendengarkan, mau obyektif, besok lusa, saat kalian sudah 40, 50 atau 60 tahun, pikirkan, apakah memang ada manfaatnya pacaran jaman kalian masih remaja dulu?

6. Gombal kelas kelurahan/desa
"Aku rela berkorban demi dia". Bela-belain beli kado, hadiah, buat siapa? Pacar? Tapi beliin orang tua, adik, kakak, kado, hadiah malah amit2. Bela-belain ngantar siapa tadi? Pacar? Rela hujan2an, rela ngutang, rela semua. Tapi ngantarin orang tua, adik, kakak, malah ogah.

7. Gombal kelas RT/RW
"Aku sayang kamu tulus dan murni." Hoax, dek. Pegang tangan pacar tiap minggu (padahal dosa), pegang tangan orang tua cuma tiap lebaran. Masih bergaya pula bilang kalau "cinta kami tulus dan murni" dan mengaku-ngaku paham benar hakikat cinta. 

8. Gombal kelas gang/selokan
"Abi udah makan belum?" "Mama udah belajar belum?" Ya ampun, baru pacar? Sudah panggil abi-ummi? Mama-papa? Ini benar2 gombal kelas gang. Lantas besok2 kalau putus? Jadi janda-duda dong? Kalau pacaran 5x, putus 5x? Berarti sudah pernah jadi janda 5x dong? Ini horor.

Semoga kalian mau memikirkannya, dan tidak tertipu dengan para penjahat perasaan di luar sana. Karena sekali urusan ini merusak kalian, yg rugi kita sendiri. Orang lain mah jangan2 sudah sibuk dengan pacar2 berikutnya, mana ingat dengan korban2 sebelumnya.

*Tere Liye
Read more...
separador

Tuesday, July 5, 2016

Jurus Sakti Mandraguna Ala Tere Liye

Wah, besok lebaran. Asyik. Banyak ketupat, opor, rendang, kue-kue. Belum lagi amplop THR, seru ini. Tapi juga sekaligus horor. Apalagi yang jomblo, ditanya kapan nikah, mana calonnya, terus keluarga pd tertawa (ngetawain) kayaknya ‘nista’ banget jadi jomblo pas lebaran.  Juga yang pengantin baru (juga lama), ditanya mana momongan? Kok belum isi juga? Pun sama, yg sudah punya anak, teteeep ditanya, kok belum ada adiknya? Juga tambahkan pertanyaan, kapan lulus? kapan wisuda? dll.

Nah, berikut saya kasih tips jitu menghadapi hal-hal ini (tapi ini bergurau saja):

1. Bertanya lebih dulu, sebelum ditanya

Misal, pas tiba di rumah pakde/bude, persis masuk, habis salaman, maaf2an, pas mereka mau nanya hal itu, kalian nanya duluan. Kalian harus tahu, strategi pertahanan terbaik itu adalah justeru menyerang. Apa yg ditanya? Banyak, tergantung situ, tega atau nggak. “Pakde, kapan punya rumah baru?” “Bude, kok kulkasnya, tipinya masih jelek gini, kapan beli baru?” atau khusus buat yg suka nyinyir berat selama ini, juga bisa, “Pakde, kapan punya istri kedua? Kok baru satu saja sih?” Dijamin, nggak akan ada yg nanya kalian lagi. Paling juga jadinya dimusuhin, di blokir nggak boleh lagi datang.

2. Cool!

Kunci utama menghadapi pertanyaan ini adalah, cool! Apa itu cool? Tsaaaa.... memasang gaya paling keren seluruh dunia, tersenyum lima senti, menjadi orang paling bahagia. “Kapan nikah?” Cool. “Kapan punya bayi?” Cool. “Kapan ada adiknya lagi?” Cool. Kapan wisuda? Cool. Tidak usah dijawab, fokus saja cool. Bila perlu dramatis sambil benerin gaya rambut, bergaya menepuk2 baju, cool. Tidak usah dijawab. Pasti keki sendiri yang nanya.

3. “Appaaa?”

Ini juga jurus jitu. Kalau ada yang nanya urusan ini pas silaturahmi keluarga, selalu jawab dengan “Appaaa?”. Kapan nih nikahnya? jawab: “Apppaaa?” (sambil digaya2in nggak dengar gitu).  Iya, kapan nih nikahnya? jawab lagi: “Apppaaa?” (sambil ngucek2 kuping). Eh, situ budek atau tai kupingnya sekilo, kapan nikahnya? jawab saja lagi: “Appaaa?” 

4. Bertukar posisi dengan lincah

Ini strategi baru. Efektif buat ngadepin mak-mak, babe-babe, pakde, bude yg suka basa-basi kelewatan. Bagaimana cara melakukannya? Gampang. Jangan lama2 ada di sebuah posisi. Baru duduk, langsung pindah. Baru pindah, sudah pindah lagi. Baru makan ini, sudah bertukar posisi, makan yg lain. Biar susah orang lain ngikutin kita. Atau bila perlu, habis salam, maaf2an, langsung pulang. Nggak ada kesempatan buat ngobrol apapun. Aman.

5. Dramatis

Ini juga tips menarik. “Kapan punya bayi?” Jawab pertanyaan itu dengan diam sejenak, lantas mulailah menangis, terisak, tergugu, bila perlu sampai jatuh ke lantai.. “Kapan menikah?” Juga sama, jawab saja dengan menangis sedemikian sedihnya, pegang tangan yg nanya, tambahin dengan kalimat, “Pakde, calon saya itu tega banget mendadak pindah ke London. hiks hiks hiks.... Pakde mau ngasih tiket ke sana? hiks hiks hiks biar saya nyusul ke sana buat ngelamar.... Sekalian hotel bintang lima, uang saku 2.000 dollar. hiks hiks” Tahun depan, kalau Pakde ini masih nanya--dan dia nggak ngasih uang tsb, dia berarti memang tidak punya nurani lagi. Cuma bisa nanya, bantu kagak.

6. Amin

Apapun pertanyaan orang lain, jawab, “Amin.” Ini juga jurus efektif. Kapan punya adik? Amin. Kapan wisuda? Amin. Kapan lulus? Amin. Mau makan ketupat? Amin. Mau amplop THR? Amin. Apapun dijawab Amin. 

7. Hehe....

Kapan Nikah? Hehehe.... Kapan wisuda? Hehehehe... Kapan lulus? Hehehe.... ini strategi simpel, tapi efektif utk tdk saling menyakiti. Apapun pertanyaannya jawab dengan tertawa, hehehe... Tapi pastikan saja, tidak tertawa pas sendirian lagi makan opor, hehehe. Sendirian lagi makan ketupat, hehehe... Kalau sampai begitu, doooh, hayati sedih betul lihatnya, bang, benar2 mendesak memang harus segera menikah, sampai nggak tega.

8. Jurus Super Tega

Terakhir. Jika kalian memang sudah mengkal banget ditanya, dan desperate mau jawab apa, silahkan pakai jurus super tega ini. “Kapan menikah? Kok masih sendiri saja?” jawab: “Lah, Pakde kapan mati? Kok masih hidup saja?”. “Kapan hamil? Kok belum isi-isi sih?” jawab: “Lah, Bude kapan matinya? Kok masih sehat?” Dijamin kalian bisa dicoret dari daftar penerima hibah harta warisan, hehe... Atau lebih parah lagi, diusir dari rumah. Tapi mau bagaimana lagi? Itu memang pertanyaan susah dijawab. Kan “kapan menikah”, “kapan punya bayi” itu sama persis dengan pertanyaan “kapan mati”, itu rahasia Tuhan,toh? Siapa coba yg bisa jawab? Sudah tahu rahasia Tuhan, masih banyak nanya pula. Kacau banget.

Kurang lebih begitu. Saya tdk bertanggungjawab atas komplikasi, efek samping, efek depan, belakang, atas kiri kanan bawah dari saran2 di atas. 

*Tere Liye
Read more...
separador

Followers