Showing posts with label It's For You. Show all posts
Showing posts with label It's For You. Show all posts

Sunday, February 3, 2019

Generasi Kurang Ajar

*Generasi Kurang Ajar

Saat di atas sana, elit politik hiruk pikuk dengan pemilihan, rebutan jabatan, lantas besok bagi2 jabatan, tidakkah ada yang mau menyadari generasi apa yang hendak kita lahirkan 10-20 tahun dari sekarang?

Video anak sekolah yang asyik main kuda-kudaan sementara gurunya mengajar di depan adalah realitas negeri ini. Mungkin di sekolah2 yang bagus, di sekolah kalian, semua baik-baik saja, tidak begitu, karena bibit muridnya memang sudah bermutu, tapi di luar itu, di sekolah2 lain, murid kurang ajar dengan gurunya adalah fakta. Bergaya mereka seolah sudah paling hebat sedunia, baju-celana sok dikeren-kerenkan, rambut sok gaya, nyolot dengan gurunya, tapi kosong kepalanya. Menertawakan guru, orang tua, mengolok2 orang lain adalah hobi anak-anak ini.

Silahkan tengok di desa-desa, kampung-kampung, sudut-sudut kota, entah itu kota kecil hingga metropolitan, generasi kurang ajar seperti ini buanyak jumlahnya. Maka generasi apa yang akan kita lahirkan 10-20 tahun dari sekarang? Apakah mereka punya kompetensi? Apakah mereka punya skill? Apakah mereka akan jadi solusi kehidupan, atau justeru hanya menambah beban, dengan jumlah jutaan orang. Besok lusa, hanya berbaris jadi pekerja kasar dengan gaji minimal, tanpa masa depan. Itupun masih untung, setidaknya masih bekerja.

Di tengah hiruk-pikuk politik hari ini, tidakkah kita mau melihat hal ini sejenak? Kita punya masalah sosial yang serius. Lahirnya generasi ‘kurang ajar’. Mereka tidak sopan dengan orang lain, susah diatur, melawan, menganggap dirinya paling oke, menyuruh semaunya, berteriak semaunya, tapi apesnya, meski sudah bergaya, generasi ini bahkan pulsa masih minta dengan orang tua, bensin motor masih mengemis ke orang tua. Maka jangan bicara tentang mandiri, tahan banting, apalagi tentang kreatifitas, mereka lebih suka semua serba instan, jalan pintas.

Semoga masih ada yang mau memikirkan realita ini. Kenapa mereka ‘kurang ajar’? Karena hilangnya teladan baik di sekitar kita--malah sebaliknya, contoh buruk berterbaran. Kenapa mulut mereka kotor, suka memaki, karena ada contoh di sekitarnya.

Jika orang-orang tidak peduli lagi soal ini, hanya soal waktu, generasi berikutnya bahkan mulai kehilangan kata “permisi”, “tolong”, “terima kasih”, dan “maaf”. Mereka hanya sibuk menertawakan orang lain, mengolok-olok, merasa hebat sekali, padahal sejatinya, hidup merekalah yang seharusnya ditertawakan. Di dunia tiada bermanfaat, di akherat lebih-lebih lagi.

*Tere Liye

**silahkan share jika bermanfaat. tidak perlu ijin lagi.

Read more...
separador

Tuesday, May 15, 2018

Kids Jaman Now

*Kids Jaman Now

Saya tahu, kalian mualas-nya minta ampun disuruh baca buku, juga baca tulisan/artikel panjang. Tapi semoga kalian bertahan membaca catatan ini hingga selesai. Semoga setelah selesai baca, menumbuhkan sesuatu:

1. Sekolah yang serius

Sekolahlah yang serius. Jangan main2, jangan malas. Itu betul, banyak orang sukses macam Bill Gate, Mark Zuckerberg, Ibu Susi yang bisa sukses tanpa lulus sekolah formal. Tapi ketahuilah, Bill Gate dan Zuckerberg misalnya, dia DO dari Harvard. Sementara Ibu Susi, dia berhenti dari SMAN 1 Yogya. Itu sekolah/kampus top semua. Itu bukti, mereka memang sekolah serius setidaknya diterima di tempat2 top tersebut. Lah kita? Sekolah di mana sih? Sampai PD banget bilang: sekolah tidak penting. Mereka juga DO karena sudah punya passion, atau tuntutan hidup lain. Kita? Cuma karena malas, ngeles, pengangguran tiada daya. Jadi, sekolahlah yang serius. Dan jangan lupa hormati guru2 kalian.

2. Banyaklah baca-baca buku

Ayo, di usia kalian, membaca seharusnya menjadi hobi yang sangat menyenangkan. Berhentilah main gagdet tidak jelas, tidak ada habis2nya. Ganti dengan membaca buku. Baik, kalau mau baca lewat gagdet silahkan (karena sekarang banyak buku di dalam gagdet), tapi kongkret, baca, bukan main. Buat yg tidak suka baca, sukanya nonton, perbanyaklah menonton video yang bermanfaat, seperti National Geographic, dkk, ilmu pengetahuan. Bukan hanya nonton video yang tidak jelas manfaatnya. Kan nggak lucu, saat kalian ditanya apa hewan terbesar di dunia, kalian jawab: gajah. Itu jelas tanda kids jaman now yang kepalanya jarang diisi pengetahuan.

3. Jangan keluyuran, kelayapan

Saya tahu, sebagian kids jaman now itu suka keluyuran. Naik motor bahkan belum punya SIM, nongkrong di flyover, ngebut2an berasa sudah kayak Valentino Rossi, padahal aslinya cuma Ujang. Rossi itu yang nyium tanah dengkulnya. Lah, kids jaman now, yg nyium tanah malah pipi dan jidatnya. Aduh. Juga nongkrong dimanalah, ngabisin waktu seolah sudah jadi manusia tersukses di dunia. Berhenti. Sana Ujang, pulang, bantu Mamaknya dirumah angkat jemuran kasur. Itu kasur bahkan bekas ngompolmu semalam.

4. Tidak perlu-perlu amat pacaran

Ampun dah. Sebagian Kids jaman now itu, bahkan SMP saja pacarannya sudah ngalah2in Romeo & Juliet dikali dua, kuadrat pula. Lihatlah di facebook, twitter, instagram, baru SMP, baru pacaran sehari, sudah manggil Papa-Mama. Itu sangat over sekali. Super-duper over. Kita kira itu keren? Kagak. Kita kira itu tanda hebat? Kagak. Kita sih sudah merasa paling oke sedunia, tapi justeru orang sedunia lihatnya aneh sekali. Lagian, nanti pas putus, langsung deh lebay banget di media sosialnya. Seolah besok kiamat, hidupnya nelangsa tak terkira. Tidak perlu pacaran itu.

5. Mulailah tahu tanggung-jawab kalian

Kids jaman now itu kadang lupa, seusia kalian, tanggung-jawab itu sudah ada. Bukan cuma bisa teriak minta uang pulsa, teriak minta belikan motor, teriak minta belikan HP. Kapan sih kalian akan teriak: Papa, ini rapot saya, pontennya 10 semua. Mama, ini piala yg saya bawa dari olimpiade Fisika. Well, baik, tidak semua orang jenius dan bisa begitu. Iya, itu betul, tapi kita selalu bisa mencari bentuk tanggung-jawab lain. Membantu pekerjaan rumah, nyapu, ngepel. Bukan cuma bisa makan doang, bukan cuma bisa tidur2an doang.

6. Berhenti coba-coba hal buruk.

Merokok? Ew, itu tidak keren. Kalian tidak perlu mencoba-coba hal tersebut. Karena orang dewasa sekarang yg perokok, mereka bahkan mati2an mau berhenti tapi tidak bisa. Jangan ikuti jalan itu. Bikin tato di badan? Apalagi. Minuman keras? Apalagi yang ini. Narkoba? Ampun dah, itu benar2 tipuan sesat. Ada teman ngajak keluyuran malam2 ke tempat2 buruk, jangan mau. Ada teman ngajak duel, gladiator, jangan mau. Tidak apa di bilang tidak jantan. Karena sebenarnya, sssttt... justeru yg bilang tidak jantan itulah yang sangat2 tidak jantan. Mereka tidak bisa melawan dirinya sendiri--itulah ketidakjantanan nomor 1.

7. Tidak perlu ikut2an trend

Hanya karena teman kalian sedang suka pakai lipstik (misalnya), maka tidak perlu ikut2an pakai. Apalagi Bambang, Ujang, Agus, Joko, aduh, kamu ngapain ikut2an pakai lisptik emaknya? Kita itu sudah cantik/tampan apa-adanya. Tidak perlu ikut definisi orang lain. Biarin saja orang lain sibuk dengan trend-nya, kita tahu persis mau ngapain, dan itu lebih bermanfaat. Ini termasuk idola masa remaja. Hanya karena artis idola kalian putih, maka kalian tidak perlu maksa jadi putih. Hanya karena artis kalian suka posting selfie di akun medsosnya, nggak usah ikut2an begitu. Mereka mah enak, wajah sudah dioplos kosmetik, perawatan muahal, jadi keren. Lah kita? Ikutan selfie, ngeliatin gigi koneng di sana, kan nggak lucu.

8. Perbanyaklah belajar agama

Sebagian kids jaman now itu mungkin menganggap agama itu tidak relevan lagi. Jangankan kids jaman now, yang kids jaman old saja banyak yang menyepelekan agama. Tapi ketahuilah, saat hidup kita jatuh dalam sekali, agama adalah lampu penerang yg baik. Belajarlah agama. Minimal punya pemahaman baik. Dan pastikan kalian tidak ikut2an paham ekstrem. Kalau semua dibilang setan, semua dibilang jahat, itu jelas esktrem.

9. Perbanyaklah aktivitas yang bermanfaat dan positif.

Yang suka menjahit, jahit. Yang suka main futsal, main futsal. Yang suka menulis, nulis. Semua orang itu pada dasarnya cenderung pada hobi yang baik. Maka jangan malas. Justeru perbanyak. Boleh jadi, besok lusa, itu jadi jalan kalian untuk berbuat baik, jalan rezeki, bahkan pencapaian dan prestasi2 kalian.

10. Terakhir, milikilah teman yang oke

Kids jaman now, penting sekali kalian punya teman2 yang baik. Apa itu teman yg baik? Gampang lihatnya, apakah dia rajin sekolah, apakah dia mengajak ke hal2 baik, apakah dia asyik dan menyenangkan. Bukan malah berteman ke anak2 yg suka nongkrong malam2, berteman ke anak2 yg langganan bikin kasus di sekolah. Kita jadinya malahan ikutan bermasalah. Milikilah teman2 yang baik, maka insya Allah, kalian juga akan ikut baik.

*Tere Liye

Read more...
separador

Friday, July 14, 2017

Selfie...

Aturan main selfie yang betul:

1. Jangan selfie di depan pintu, di tengah jalan, di tempat orang lewat. Kita menghambat orang lain. Apalagi selfie di atas pesawat terbang, di kolong kereta, di bawah kapal laut, ayolah, kita itu bukan Spider-Man.

2. Jangan selfie tiap menit. Itu memang terserah kita sih, tapi selfie tiap menit itu adalah kelainan jiwa. Tiap jam saja sudah mencemaskan, apalagi tiap menit.

3. Jangan selfie di tempat umum secara berlebihan. Monyong2 di restoran, kayang2 di jembatan. Boleh kalau cuma 1-2 x, tapi kalau kelamaan, orang sebelah kita bisa bingung, menyangka kita lagi kesurupan.

4. Habis selfie, boleh lihat hasilnya. Tapi jangan lama banget, sampai 1 jam terus diamat2i hasil fotonya. Dibuka, dilihat, dilihat, dilihat lagi. Itu level narsis yang mematikan.

5. Jangan selfie tidak pada tempatnya. Selfie bareng pemadam kebakaran yg lagi memadamkan api. Selfie bareng dokter yg lagi operasi. Selfie sambil naik motor. Memang hasil fotonya jadi keren (menurut kita sih). Tapi lebay pangkal musibah. Besok2 kita malah selfie bareng malaikat maut.

6. Hormati ibadah, tempat ibadah, dsbgnya. Jangan malah selfie bareng Imam shalat yg lagi ruku'. Saking penginnya, juga selfie bareng khatib pas lagi ceramah di mimbar. Pun ibadah2 agama lain.

7.  Terakhir, jangan selfie hal2 yang sangat private, lantas di posting pula di medsos. Selfie lagi mandi, selfie lagi di toilet, dsbgnya, dsbgnya. Segila apapun keinginan kita dipuji banyak orang, kepengen tenaaar banget, maka ketahuilah, selalu ada batasnya.

Di dunia ini banyak orang yg sama sekali tidak pernah selfie, tapi hidupnya amat bahagia. Jangan kita malah sebaliknya, setiap hari selfie, setiap saat pamer foto, ternyata kita sendiri tahu persis hidup kita begitu2 saja, jauh dari bahagia sejati.

*Tere Liye

Read more...
separador

Monday, June 26, 2017

BANGKRUT

Jamaah facebook, twitter yang berbahagia. Ketahuilah, ada istilah bangkrut yang menarik sekali di dalam agama kita.

Apa itu “bangkrut”? Bukan bangkrut tak ada hepeng, nelangsa.
Melainkan adalah orang2 yg sebenarnya membawa pahala shalat, puasa, zakat, dll. Tapi karena dia suka sekali mencaci orang lain, berkata buruk ttg orang lain, menuduh, dll, akhirnya kelak saat hari perhitungan, untuk membayar tabiat buruk ini maka diambillah pahala kebaikannya, dibayarkan kepada orang yang dia jahati dulu. Apesnya, habis pahalanya diambil, tetap tidak sebanding, tidak terbayar, maka diambillah dosa-dosa orang yang dia jahati, diberikan ke dia sebagai gantinya. Bangkrut sudahlah dia, tidak punya pahala, malah ketimpaan dosa, minus seminus-minusnya timbangan dia.

Jamaah facebook wal twitteran yang dirahmati Allah. Berhati-hatilah dengan apa yang kita retweet, share, mention, dll di media sosial ini. Betul, itu kadang sepele, tapi implikasinya bisa mengerikan.

Misal, kita lagi benci dengan si Agus, tiba2 ada tweet yang menulis, “Si Agus ternyata punya panu di pantat”. Saking bencinya kita, tanpa cek dan re-cek, kita ikutan retweet, share, maka kemana-mana sudahlah itu tulisan, “Si Agus ternyata punya panu di pantat”. Padahal itu bohong belaka. Kita memang bisa minta maaf, bisa. Juga bisa tobat. Tapi sekali dilepas tweet itu tadi, gaungnya terlanjur jauh sekali. Ribuan orang, puluhan ribu orang, bahkan jutaan orang terlanjur percaya soal panu di pantat si Agus. Yang kalau lihat si Agus, mereka bergumam, “ah, si Agus ini ada panunya, loh”. Tidak sesederhana maaf yang kita minta. Sungguh, maaf tidak bisa menganulir begitu sajakerusakan yang terjadi. Itu semua kelak akan diperhitungkan.

Jamaah facebook wal twitteran yang insya Allah semua bercita-cita masuk surga. Maka berhati-hatilah dengan apa yang kita lemparkan di media sosial ini. Karena boleh jadi, itu kelak akan membuat kita bangkrut. Daripada rese, penuh benci, perbanyaklah posting yang bermanfaat. Yang boleh jadi, menjadi jalan bagi kebaikan kelak. Hal-hal yang sekiranya tidak perlu dikomentari, mending didiamkan saja. Hal-hal yang belum jelas kebenarannya, belum tahu validitas faktanya, mending dilupakan saja.

Demikianlah. Akhirulkalam, sebagai klarifikasi ketahuilah, si Agus memang tidak ada panu di pantat-nya. Eh? Maaf, ngelantur. Tulisan ini serius sekali awalnya, saya nulisnya sambil deg-deg-deg-an introspeksi, jangan2 kita adalah bagian yang kelak akan bangkrut, maka jadilah contohnya begitu. Biar sedikit ringan. Semoga kalian tidak fokus soal panu-nya, melainkan fokus pada: NGERI menjadi orang2 yang bangkrut.

*Tere Liye

Read more...
separador

Friday, June 9, 2017

Kaum Bumi Datar

Kalian kenal dengan orang ini? Saya juga tidak kenal, bukan tetangga saya di Bandung. Tapi mari kita kenalan dengan salah-satu ilmuwan terkemuka dunia Islam. Namanya lebih simpel dikenal: Al Battani. Nama lengkapnya panjang: Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn Jābir ibn Sinān al-Raqqī al-Ḥarrānī aṣ-Ṣābiʾ al-Battānī. Dengan berjenggot, memakai sorban, Al Battani lebih mirip pemimpin klan yang dibenci jaman sekarang. Padahal, dia adalah ahli astronomi dan matematikawan hebat.
Lahir tahun 858 di Harran (sekarang lebih dikenal dengan Turki), ayahnya adalah pembuat alat2 scientific terkenal, maka tak pelak lagi, sejak kecil, dia terbiasa dengan pelajaran IPA. Dia tidak suka bolos pas pelajaran IPA, dan tidak membenci Matematika. Tumbuh-lah Al Battani menjadi penyuka astronomi. Dia mengamati bintang-gemintang, matahari, bulan, dia mengembangkan begitu banyak pengetahuan dunia ini.
Salah-satu penemuannya yang paling terkenal adalah menghitung bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari 5 jam 46 menit dan 2 detik. Wah jaman itu, tahun 858, jangankan HP android, sepeda BMX saja belum ada di benak orang2. Dunia 'masih gelap', kagak ada itu lampu neon, lampu minyak sih ada, tapi Al Battani, sudah bisa menghitung tahun dengan akurat, membuktikan bahwa tanggalan kita kelebihan beberapa jam loh. Atau kalian benci sekali dengan persamaan trigonometri, yang harus dihafal bahwa tangen sama dengan sinus dibagi cosinus. Belum lagi akar tangen, bla-bla-bla... Arghhhh... itu nyebelin pelajarannya, maka ketahuilah, Pakde Al Battani inilah yang menemukannya. Trigonometri juga karib dengan astronomi, tidak heran dia menemukan persamaan ini.
Dan ketahuilah, Islam juga karib sekali dengan astronomi. Dalam agama Islam, penentuan bulan Ramadhan, hari raya, melewati perhitungan rumit dan juga lihat hilal. Penentuan kapan adzan maghrib, isya, dll, lihat benda langit, ini, itu, semua membutuhkan ilmu astronomi. Bahwa, bumi bergerak mengelilingi matahari, bahwa bulan berputar mengelilingi bumi, dan seterusnya. Bahwa Bumi itu bulat, Ndro.
Maka, mengherankan sekali, jika hari ini, ada sekelompok orang yang asyik banget melabeli pemeluk agama Islam dengan: "kaum bumi datar". Siapapun muslimnya, dia langsung nyolot, "Dasar lu kaum bumi datar". Ew, siapa sih orang2 ini? Duuuh, orang2 ini tidak pernah belajar sejarah, tidak pernah tahu apapun soal astronomi dalam agama Islam. Hanya karena ada 1-2 orang Islam yg bilang bumi ini datar, bukan berarti 1 milyar muslim lainnya bilang bumi ini datar. Lihatlah, AL Battani, seribu tahun silam dia bahkan sudah bisa menghitung tahun. Orang2 ini, entah apakah karena keterbatasan pengetahuannya, atau kebenciannya, sengaja betul melabeli Islam itu 'bodoh' soal astronomi.
Terakhir, ijinkan saya memberitahu kalian sebuah sejarah. Dari sekian banyak ahli astronomi Islam, kenapa saya mengambil AL Battani? Karena dialah penulis banyak karya, salah-satunya buku Kitāb az-Zīj ("Book of Astronomical Tables"). Saya tidak bilang buku ini 100% ide pemikiran Al Battani, karena di dalamnya juga banyak pemikiran astronomer2 sebelumnya seperti Ptolemy. Tapi adalah fakta, kalian tahu Copernicus? Yeah, dialah ashli astronomi yg dikenal dengan pernyataan 'matahari adalah pusat semesta, bukan bumi pusat semesta' tahun 1500-an. Kalian kenal dengan Galileo? Dia juga ahli astronomi yg harus menghadapi Roman Inquisition gara2 bilang bumi yang memutari matahari. Maka dua orang ini, menggunakan dan terinsipirasi dari karya2 Al Battani. Copernicus bahkan setidaknya 23 kali menyebut nama Al Battani di dalam tulisannya: De Revolutionibus Orbium Coelestium. Dua ahli astronomi yg lahir 700 tahun setelah AL Battani, 'meminjam' begitu banyak pengetahuan untuk membantah pendapat umum saat itu.
Demikianlah tentang Al Battani. Maka jika ada orang yang masih nyolot memaki pemeluk agama Islam (manapun) dengan sebutan: 'kaum bumi datar', ingatkan dia tentang sejarah. Ingatkan dia tentang, bahkan untuk urusan menentukan adzan shalat saja, Islam menggunakan ilmu astronomi. Tapi tidak perlu bertengkar dengan orang2 ini, karena repotnya bertengkar dengan mereka, justru kita yang akan disuruh belajar sejarah dan dimaki "sumbu pendek".
Entahlah. Bingung, bingung memikirkan kelakuan orang jaman sekarang.
**foto adalah 'modern artist's impression' dari AL Battani. Jaman itu belum ada kamera, jd kagak ada yg sempat selfie bareng Pakde ini.
***silahkan share kemana2, tidak perlu lagi minta ijin. bila perlu print, tempel di tiang listrik, mading sekolah, buletin sekolah, atau kalau mau lebih seru, share ke group yg suka banget maki2 "kaum bumi datar".
Read more...
separador

Sunday, May 28, 2017

Puasa Kekinian

Berikut hal-hal kekinian bulan Ramadhan yang seharusnya diperbaiki.

1. Shalat tarawih, tapi tidak shalat isya. Lebih-lebih, shalat isya di rumah, baru datang ke masjid pas tarawihan. Lebih-lebih, datang ke masjid hanya buat nongkrong, cuci mata, kagak shalat sama sekali. Jangan lakukan yang beginian.

2. Bukber (alias buka bersama) di resto/hotel atau di manalah, tapi tidak shalat maghrib. Bukber bareng teman itu seru, sekalian silaturahmi. Apalagi ditraktir. Wah seru. Tapi pastikan shalat maghrib tetap ditegakkan. Nah, ada yg lebih kacau lagi, ikut bukber tapi nggak puasa. Mana makannya paling banyak pula. Ndro, situ memang ujian buat teman2nya.

3. Sibuk selfie di masjid. Ayo, masjid itu bukan tempat wisata. Seharian kita sudah bebas mau selfie di mana saja, tidak perlu ditambahi pas di masjid. Jika lagi ceramah, dengarkan dgn baik, bukan malah update foto, update status. Pun main whatsapp, line, bbm. Duuh, hidup tidak sebercanda itu juga. Buat amannya, HP memang tidak perlu dibawa sama sekali. Shalat paling cuma berapa menit, kita bebas main HP 23 jam lainnya seharian.

4. Puasa pol, tapi shalat lima waktu nggak. Yang satu ini sejak jaman dinosaurus hingga jaman android kekinian memang rumit sekali. Banyak yang bisa puasa ramadhan pol sebulan, tapi shalat lima waktunya bolong-bolong. Semoga pas ramadhan, bisa pol juga shalatnya, pun setelah ramadhan. Apalagi yang jomblo, situ tahan menjomblo bertahun2, masa’ shalat 5x sehari saja nggak kuat.

5. Ngurusin badan. Puasa itu betul, bisa jadi momen buat ngurusin badan. Asyik lihat timbangan. Tapi bulan Ramadhan bukan itu tujuannya. Nggak ada: ‘hai orang beriman, berpuasalah, agar besok kamu jadi kurus’. Lagian, kalaupun pas puasa turun 5 kilogram, ntar habis lebaran malah naik 10 kilogram.

Kurang lebih demikianlah. Jika kalian mau nambahi, silahkan tulis di kolom komentar.

*Tere Liye

Read more...
separador

Friday, May 19, 2017

Usia

Waktu kita masih kecil, boleh jadi, di kelas, kita adalah orang paling muda. Dan kita senang dengan fakta tersebut, menjadi yang paling muda diantara yang lain. Beranjak besar, kita juga masih sering menemukan hal tersebut, sebagai yang paling muda di antara sekitar, menyenangkan.

Tapi waktu tidak terasa melesat sangat cepat.

Dulu, pemain bola yang sedang top-topnya, usianya berbeda belasan tahun, dia lebih tua. Sekarang, usia pemain sepakbola yang sedang top-topnya ternyata lebih muda dibanding kita. Artis, pesohor, yang dulu jaraknya jauh dengan kita, seolah mendongak ke atas, sekarang kitalah yang bertahun-tahun lebih tua, menatap ke bawah.

Dan perlahan tapi pasti, di antara sekitar, kita tidak lagi menjadi yang paling muda. Bermunculan orang-orang yang lebih muda. Di sekolah, bermunculan adik-adik kelas. Di kampus, bermunculan angkatan baru. Di kantor, staf-staf yang lebih muda wara-wiri di sekitar kita, dan boleh jadi, mereka ternyata bekerja lebih baik, lebih pintar dan lebih segalanya dibanding kita.

Waktu melesat dengan cepat sekali. Mau kita menyadarinya atau tidak, kita tidak bisa menghentikan secara fisik tubuh kita semakin tua. 10 tahun lalu? Di mana kita? Hari ini, lihatlah di mana juga kita berada. 5 tahun lalu? Apa yang kita lakukan, hari ini, pun lihatlah apa yang sedang kita lakukan. Apakah kita tidak pernah khawatir sekali saja, tidak pernah melihat ke belakang, melakukan evaluasi, apakah kita memang telah berjalan sesuai yang kita cita-citakan, atau boleh jadi, bahkan hingga hari ini, kita tidak tahu apa sih yang sedang kita lakukan, tujuan, entah kemana sebenarnya?

Tuliskan usia kita di atas secarik kertas, tatap lamat-lamat. Jika di sana awalnya sudah angka 2, maka kita bukan lagi remaja. Jika di sana awalnya sudah angka 1, maka jelas kita tidak lagi kanak-kanak.

Kita tidak lagi menjadi yang termuda dalam banyak hal. Pikirkanlah usia kita. Apa yang telah kita lakukan selama ini? Apakah prestasi? Atau hanya menghabiskan waktu tiada berguna. Semoga itu bermanfaat memperbaiki banyak pemahaman.

*Tere Liye

Read more...
separador

Monday, May 1, 2017

Yang Telah Lama Pergi (baca sampai selesai, diresapi)

Tempat tidur kita lebih empuk, tapi kenapa tidur kita tidak lebih nyenyak dibanding orang tua kita dulu yang hanya tidur di atas tikar.

Rumah kita lebih luas, banyak kamarnya, tapi kenapa tidak terasa lapang dan menenangkan dibanding orang tua kita dulu yang hanya punya rumah sempit dan terbatas.

Mobil, motor, kendaraan kita lebih hebat, tapi kenapa perjalanan yang kita lakukan terasa lama, lambat, menyesakkan dibanding orang tua kita dulu yang kemana-mana jalan kaki.

Makanan kita lebih lezat dan berlimpah, tapi kenapa tidak menyehatkan secara fisik maupun jiwa dibanding orang tua kita dulu yang makan seadanya, terbatas pula.

Semua teknologi membuat kita menghemat banyak hal, masak air pakai dispenser, nyuci pakai mesin cuci, semua bisa dihemat waktunya, tapi kenapa, kita selalu merasa kurang, selalu dikejar-kejar waktu dibanding orang tua kita dulu yang semua serba manual.

Hari ini, kehidupan modern terasa begitu megah, hebat dan canggih, tapi sungguh, kenapa kita semakin beringas, sikut2an, ambisius, dibanding orang tua kita dulu yang kuno dan tertinggal.

Hari ini, kehidupan modern terasa begitu menakjubkan, hotel mewah, pesawat mewah, internet cepat, komunikasi melesat, semua ada, tapi entah kenapa, kebahagiaan tidak kunjung menetap di hati kita, kita lebih sibuk pamer, saling mengumumkan, dibanding orang tua kita dulu yang bahkan tidak punya listrik di rumahnya.

Apa yang hilang dari kehidupan kita?
Boleh jadi: keberkahan.
Yang telah lama pergi. Meninggalkan kita.

*Tere Liye

Read more...
separador

Wednesday, March 8, 2017

Nasib Generasi 2000an

1. Generasi yang lulus tahun 70-80an masih menikmati, lulus kuliah, kerja sebentar, mereka bisa nyicil rumah di kawasan tengah perkotaan. Generasi  yang lulus kuliah tahun 90-an, masih bisalah nyicil rumah, agak minggir dikit lokasinya, kerja 2-3 tahun. Generasi yg lahir tahun 2000-an? Kalian terima nasib, saat kalian lulus kuliah nanti, perlu bertahun-tahun, bertahun-tahun, bertahun-tahun, dan itupun hanya nun jauh di pinggir kota. Karena harga tanah sudah meroket, dan cuma dimiliki kelompok tertentu. Di Jakarta hari ini, hanya 50% penduduknya yang punya rumah sendiri. Tidak terbayang 20-30 tahun lagi.
2. Generasi yang besar tahun 70-80-an, mereka masih biasa melihat pohon pisang, mendengar suara kodok, menatap setu/danau kecil, hamparan sawah, kambing, sapi lewat, dll di sekitar mereka. Generasi yg besar tahun 90-an, juga masih nyisa, meski tinggal sedikit di sekitar rumahnya. Generasi yang lahir tahun 2000-an, kalian harus pergi jauh hanya untuk melihat pohon pisang. Besok-besok, tidak mengejutkan jika anak-anak kecil hanya tahu pohon pisang dari gambar saja. Duluuu sekali, anak-anak malah menggunakan pohon pisang, diikat 3-4 batang, jadilah dia perahu petualangan di atas sungai/setu/danau.
3.  Jaman dulu, sekolah itu masuk jam 7.30, pulang jam 1-an. Selesai. Paling ditambah sore hari, belajar ngaji di masjid/mushalla dekat rumah. Generasi 2000-an, sepertinya seharian dihabiskan di sekolah. Dari pagi, siang, sore. Belum lagi tambahan les ini, kursus itu, dll. Jaman dulu, banyak anak sekolah berangkat hanya bawa buku dua, pulpen satu, beres. Hari ini, tas sekolah anak-anak besar dan berat sekali. Tapi ada bagusnya, anak sekarang jadi lebih susah bolosnya. Jaman dulu, bolos lebih mudah, itu buku masukin ke saku, kabur. Sekarang, bawa2 tas super besar, susah mau kemana2.
4. Anak yang sekolah jaman 70-80an, masih merasakan kemana-mana itu cepat dan mudah (meski cuma naik omprengan). Jarak lima kilometer, bisa ditempuh 5-10 menit. Ajaib kan? Anak yg sekolah tahun 90-an, juga masih bisa berangkat siang, tidak perlu berangkat pagi buta masih gelap. Tapi generasi 2000-an, jarak lima kilometer bisa menghabiskan waktu 60 menit. Semakin lama, penduduk perkotaan menghabiskan waktu banyak sekali di jalan raya. Dulu tidak ada istilah ‘tua di jalan’. Sekarang mobil2, meski semakin canggih, justeru semakin merayap di jalanan.
5. Dulu, lulus kuliah tahun 70-80an, pintar bahasa Inggris, sudah lebih dari cukup dapat pekerjaan bagus. Tahun 90-an, juga masih sakti skill tersebut. Generasi 2000-an, terima nasib, pintar bahasa Inggris, hanya jadi salah-satu poin saja. Itu sih sudah standar. Pencari pekerjaan lain malah ada yang bisa bahasa Inggris, Mandarin, dll, dll. Kalian akan semakin keras bersaing mendapatkan pekerjaan. Tes-nya lebih banyak, seleksinya lebih ketat, pesaingnya tambah buanyak.
Daftarnya masih puanjang. Tapi kita cukupkan sampai di sini saja. Sebagai penutup, sekali lagi sy akan mengulang poin 1, bahwa sesuai data BPS 2016, ketahuilah 48,91 persen penduduk Jakarta tidak punya rumah sendiri (sebagai perbandingan, tahun 1999, angkanya baru 35%).
Saat kalian besok dewasa, angkanya akan lebih sadis lagi. Boleh jadi, 20-30 tahun lagi, 70% penduduk Jakarta hanya nyewa di Jakarta. Rumah hanya dimiliki kelompok tertentu saja. Selamat datang di negeri persewaan dan kontrakan. Bayar uang sewa, listrik, air, keamanan, iuran, dll, seumur hidup, tapi tidak pernah punya rumahnya.
*Tere Liye
Read more...
separador

Wednesday, February 15, 2017

7 Peraturan Jatuh Cinta

Kalian harus menguasai 'peraturan jatuh cinta' sbb:
1. Jatuh cinta itu memulainya amat mudah, tapi menghentikannya susah payah.
Pahami peraturan sederhana ini. Buat kalian yang belum pernah jatuh cinta mungkin tidak tahu, tapi buat yang sekarang lagi patah hati, mereka sudah level S-3 atau profesor pahamnya. Maka, kalau kalian percaya dengan peraturan ini, berhati2lah selalu untuk jatuh cinta, bukan sebaliknya, malah asyik bermain dengan perasaan. Jangan coba2 membuka bendungan hati kalian, nanti jebol tidak terkendali.
2. Jatuh cinta itu tidak pernah rumit. Sederhana. Selalu sederhana. Tapi orang2nya lah yang membuat rumit.
Camkan baik2. Lagi2, buat kalian yang belum pernah jatuh cinta mungkin tidak paham, tapi besok lusa, ketika kalian mencemplungkan diri dalam urusan ini, ingat peraturan tersebut. Kitalah yang selalu membuat rusuh, galau, ribet, bego diri sendiri. Jatuh cintanya sih nggak. Cinta itu selalu simpel. Orang2nya yg rumit. Dalam urusan yang sudah pasti sekalipun orang2 tetap saja membuat rumit, apalagi dengan perasaan tidak jelas, hubungan tdk lurus, lebih rumit lagi.
3. Cinta itu bisa redup, bahkan padam, pun juga bisa menyala tinggi. Tergantung kita.
Bohong banget kalau cinta orang itu terussss saja menyala tinggi. Itu hanya trik pemasaran film, buku2, dsbgnya. Dilebih2kan, biar yang nonton atau baca senang hatinya. Cinta itu persis seperti api unggun. Kita sendiri yang menentukan apakah api unggun itu akan terus menyala atau padam. Nah, kebanyakan, orang2 bahkan sukarela menyiram api unggunnya dengan minyak tanah sekontainer, maka menyala tinggilah dia sesaat, membakar dirinya sendiri, merusak. Tanpa sempat berpikir, apakah perasaannya itu sungguhan atau karena dia tidak mampu mengendalikan diri. Tanyakan ke orang tua kalian, yang membuat pernikahan itu awet hingga 50 tahun, bukan karena cintanya terus menyala tinggi. Tapi karena mereka punya komitmen, kepercayaan. Dengan dua hal tsb mereka memutuskan untuk jatuh cinta lagi, jatuh cinta lagi pada suami/istrinya hingga bertahan puluhan tahun.
4. Jatuh cinta itu tidak bisa membuat kenyang. Pun, jatuh cinta tidak bisa membuat kita produktif.
Saya serius. Memang betul, orang2 bisa saja enggan makan saat hatinya sedang riang karena cinta. Tapi itu tidak membuat kenyang. Come on, lebih penting krisis kelaparan di negara Afrika sana dibanding krisis cinta satu dunia. Jika kalian paham peraturan ini, maka kalian akan tahu: ada banyak hal lebih penting dibandingkan urusan jatuh cinta. Juga benar, orang2 yang jatuh cinta memang lebih kreatif, lebih semangat, tapi itu tidak membuatnya otomatis produktif. Saat dia berhasil membuat novel, lagu atau karya2 monumental, itu karena ybs sendiri memang produktif, bukan karena perasaan tsb. Coba saja lihat, milyaran orang2 jatuh cinta, tdk semuanya jadi pencipta karya masterpiece.
5. Jatuh cinta itu harus diuji, bukan diterima apa adanya
Hari ini, banyak sekali orang2 yang mudah jatuh cinta, lantas bilang, telah kuberikan segalanya untuknya. Aduh, kalian kebanyakan nonton film atau baca buku tentang cinta deh. Jatuh cinta itu butuh diuji, habis2an. Bukan dengan tangan terbuka malah diterima begitu saja. Bahkan dalam fase paling awal, ketika perasan itu mulai berkecambah di hati. Jika kalian menyukai orang lain misalnya, maka silahkan diuji. Minimal uji dengan waktu dan jarak. Apakah perasaan tsb memang semakin besar atau semakin kecil. Habis2an diujinya. Bila perlu disimpan dalam hati selama bertahun2. Jika memang jodohnya, pasti akan jadi. Bukan malah terlihat murahan banget. Di jejaring sosial, berceceran, tumpah bikin becek di mana2 perasaan kita.
6. Jatuh cinta itu bukan alat pembenaran diri.
Contoh paling kacau adalah ketika dua orang sesama jenis bilang mereka jatuh cinta dan maksa menikah? Hello, memangnya dengan kata cinta kita bisa menganulir berjuta peraturan dunia? Bilang semuanya jadi oke dan dibenarkan. Hei, 'cinta' itu bukan argumen. Maka juga saat ada pasangan beda agama ingin menikah, 'cinta' itu bukan alat pembenaran, yang kemudian membuat gugur peraturan lainnya. Kalau pengin melanggar peraturan agama, langgar saja, tidak perlu bawa2 kata cinta. Pahami peraturan ini, cinta bukan alat pembenaran, buat kalian yang mencemplungkan diri dalam perasaan ini, maka 'cinta' bukan alasan kalian menyerahkan segalanya, 'cinta' bukan pembenaran untuk disakiti, 'cinta' bukan pembenaran untuk merusak diri sendiri. Please, jangan mau dibuat bego.
7. Kita yang mengendalikan perasaan, bukan sebaliknya.
Pahami peraturan ini baik-baik. Mau seheboh apapun perasaan itu, kitalah yang mutlak mengendalikan kemudi perasaan. Jangan ijinkan perasaan mengambil-alih. Gunakan akal sehat. Kalian harus tahu, utk orang yang jatuh cinta, bahkan saat yg dicintainya itu jahat, dia tetap saja merasa baik. Saat yg dicintainya itu berkhianat, selingkuh, dia tetap saja punya alasan atau penjelasan baiknya. Padahal, orang sedunia juga tahu itu tindakan bodoh. Kenapa tetap dilakukan? Karena dia membiarkan perasaan mengendalikan akal sehatnya. Jika kita tidak mampu utk mengendalikan kemudinya, minta pendapat orang lain, seperti orang tua, sahabat baik, dengarkan nasehat mereka, bukan sebaliknya.
Silahkan pahami 7 peraturan jatuh cinta ini.
*Tere Liye
Read more...
separador

Tuesday, February 14, 2017

Cowok Norak

Kalian, anak gadis, kalian harus mengenal ciri-ciri cowok norak. Biar kalian paham sekali, dan tidak tertipu gayanya:

1. Punya motor, yang membelikan Ibu-Bapaknya. Bensin? Juga dibelikan Ibu-Bapaknya. Lantas itu motor dia gunakan buat antar-jemput kalian sebagai bukti cinta (sementara Ibunya minta tolong antar ke Pasar, itu anak ogah, malu). Kalian senang punya cowok begini? Duh, itu cowok norak sebenarnya.

2. Punya HP, yang membelikan Ibu-Bapaknya. Pulsa? Ngemis minta pulsa sama Ibu-Bapaknya juga. Lantas itu HP dia gunakan buat whatsapp, nge-Line, dsbgnya sama kalian, berjam-jam, nggak bosan-bosan (sementara Ibunya nanya lagi dimana, dia ogah2an reply, ditunda2 reply-nya, apalagi buat nelpon Ibunya, lupa dia). Kalian cekikikan hepi dapat cowok begini? Duuh, apa kata dunia.

3. Lantas dia bergaya mengajak kalian nonton, traktir makan, pergi ke mall. Padahal seumur2 dia tidak pernah ngajak Ibu-nya nonton, traktir makan, pergi ke mall. Padahal seluruh isi dompetnya dikasih Ibu-Bapaknya. Bergaya sekali ngajak kalian nge-date dengan uang dari Ibu-Bapaknya. Kalian bahagia punya cowok begini? Sumringah digandeng di Mall? Nonton, seolah bioskop milik berdua? Duuh, pikirkanlah dek.

Ini momen yang sangat pas untuk membahas tentang cowok norak ini. Karena hari ini, hari kasih-sayang. Cowok2 norak nan ganjen seperti ini akan sibuk beli bunga dan cokelat demi orang lain. Sibuk ngucapin hari kasih sayang. Sementara Ibu-nya? Disuruh beli cabe keriting di pasar saja dia ogah. Disuruh hal kecil sama Bapaknya saja dia banyak membantah. Jangan harap dia bakal beliin Ibu-Bapak-nya cokelat, beliin kerupuk saja ogah. Bilang I Love U sama Ibu-Bapak saja kagak pernah.

Semoga kalian paham setelah membaca tulisan ini. :)

*Tere Liye
**tulisan ini sarkasme level 10, jika ada yang tersedak saat membacanya, tanggung resikonya.
Read more...
separador

Apa yang membuat kita tidur nyenyak?

Apa yang membuat tidur kita nyenyak? Apakah kasur yang empuk? Bantal yang nyaman? Ruangan yang lapang, sejuk, tenang dan bersih? Atau pakaian tidur katun yang lembut dan begitu enak dipakai? Kalau jawabannya iya, maka ini sedikit membingungkan, kawan. Bukankah ada orang-orang yang bahkan kamar tidurnya bagai istana, luasnya berbilang puluh meter persegi, ranjangnya begitu luas, tapi tetap saja dia susah memejamkan mata, sering terbangun, hempas sana, hempas badan sini, susah sekali untuk tidur. Lantas, sebaliknya, bukankah banyak orang-orang yang ranjangnya keras, bantalnya kaku, kamar tidurnya sempit, pengap, tapi nyenyak sekali tidurnya, tidak terganggu dengan suara berisik di sekitarnya.

Apa yang membuat tidur kita nyenyak?
Saya pernah punya teman, (ini cerita sekalian buat narsis, jd harap dimaklumi), dia ini petani bersahaja, waktu itu kami berdua mendaki gunung tertinggi di sumatera. Hujan turun lebat, angin kencang, kabut mengepung sekitar, jarak pandang hanya belasan meter, sisanya basah, basah dan basah. Rencana kami yang harus tiba di puncak saat matahari terbit gagal total, sudah jam 7 pagi, kami masih 600-700 meter lagi dari puncak, tertahan di lereng2 yg dipenuhi belukar rendah, lambat sekali menerobos hujan, kelelahan. Teman saya ini menggeleng, saat sy bertanya terus naik atau bagaimana, dia malah bilang break dulu. Terlalu beresiko jalan di tubir2 jurang dengan situasi seperti sekarang, lebih baik istirahat.

Astaga? Istirahat di mana? Dia menunjuk, lantas menyibak jalanan setapak, saya ngikut, dan tibalah kami di sejenis cekungan gua. Tidak lebar, hanya 1 meter, tidak juga dalam, paling mentok 1,5 meter. Dari balik bebatuan, dia mengeluarkan botol minyak tanah, menyalakan api dengan kayu-kayu lembab yang sengaja disimpan di cekungan itu oleh penduduk lokal yang sering jadi guide pendakian. Mulai masak menu sarapan: mie rebus. Satu mangkok buat saya, satu mangkok buat dia. Habis isi mangkok, dia bilang mau tidur. Eh? Tidur dimana? Itu teman santai tidur bersandarkan bebatuan, kaki selonjor, jeplak di tanah lembab, dan dalam hitungan menit, dia sudah mendengkur. Saya tidak percaya melihatnya. Pakaian kami basah total, tas, logistik, semua basah. Hujan deras menderu di luar cekungan, angin kencang membuatnya tampias, menciprati kami di dalam, dingin menusuk tulang, dan dia bisa tidur lelap dengan semua situasi tersebut. Tinggallah saya yang kedinginan, sambil terus menyalakan api dengan ranting basah, agar cekungan itu tetap hangat.

Apa yang membuat kita tidur nyenyak?
My dear anggota page, jika kita terlalu susah membayangkan hakikat kebahagiaan, terlalu rumit bahkan dengan pertanyaan2 prolog-nya saja, maka topik ini boleh jadi menarik sebagai dasar. Tidur. Iya, benar sekali, tentang tidur. Apa yang membuat kita tidur nyenyak? Jawabannya: karena rasa kantuk yang nikmat. Darimana rasa kantuk nikmat itu bisa datang? Dari kita sendiri. Itu benar, lagu2 klasik bisa jadi pengantar tidur yg baik, perut kenyang juga bisa jadi pemicu kantuk yang oke, situasi sekitar, tempat tidur, dsbgnya, tapi sesungguhnya kantuk yang nikmat, datang dari kita sendiri.
Maka sama seperti kebahagiaan, jangan-jangan dia juga datang dari kita sendiri. Bukan dari sekitar kita. Kabar baik, misalnya seperti kita tiba2 dpt hadiah sebuah pulau, memang bisa membuat bahagia beberapa hari, minggu, tahun, tapi cepat atau lambat, tinggal kabar saja, malah bagi orang2 rakus, justeru menyiksa karena malah pengin dua pulau lagi. Kabar buruk, misalnya kehilangan, kegagalan, memang bisa membuat kita susah hati beberapa saat, tapi cepat atau lambat, tinggal kabar saja, bahkan tidak terasa apa2 lagi, cuma ingatan. Menjadi biasa saja. Jangan-jangan kebahagiaan itu memang ada di diri kita masing2. Dan kita tidak bisa menipunya. Kalau kulit luarnya bisa ditipu, maka hati sendiri siapa mampu?

Kembali lagi ke soal tidur tadi, apa yang membuat kita tidur nyenyak? Dokter bisa memberikan pil tidur jika kita membutuhkannya. Dan kita bisa tidur nyenyak karena itu. Tapi semua orang paham, itu tidak hakiki. Itu dusta solusi yang jika tidak segera ditemukan akar masalahnya, maka justeru membuat ketergantungan, melingkar-lingkar saja. Kitalah yang menentukan apakah memiliki kantuk nikmat itu. Sesuatu yang baru terasa nikmatnya setelah dia pergi meninggalkan kita. Semoga kita semua termasuk orang2 yg pandai dan senantiasa bersyukur.

*Tere Liye, repos tulisan 5 tahun lalu
Read more...
separador

Tuesday, February 7, 2017

Resepsi Pernikahan

Boleh mengadakan acara resepsi saat pernikahan? Jawabannya: tentu saja boleh. Ada sunnah Nabi atas hal ini. “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing’’ (HR. Bukhari dan Muslim). Tapi di tengah jaman serba pamer, mubazir, dll hari ini, ada beberapa hal yang mungkin bermanfaat jika kita bersedia memikirkannya.

1. Resepsi itu adalah pemberitahuan penuh rasa syukur
Resepsi pernikahan itu poin pentingnya ada dua: pertama, pengumuman bahwa si fulan sudah menikah. Kedua, bentuk rasa syukur. Maka keliru jika resepsi dijadikan ajang pamer. Kusut jadinya, berbelok dari tujuan mendasarnya. Resepsi pernikahan bukan pertunjukan status sosial keluarga, bukan pula pamer gelar-gelar pendidikan, apalagi pamer kekayaan, jabatan, kekuasaan. Soal ini kadang susah sekali diingatkan, orang-orang keras kepala akan bilang: "Toh hanya sekali seumur hidup"; atau "Apa salahnya? Ada uangnya ini, dan itu uang saya." Baiklah. Itu hak semua orang, terserah. Tapi adik-adik sekalian, pikirkanlah poin paling penting ini jika besok lusa kalian akan menikah. Ada banyak keluarga yang sampai tega berhutang, juga membebani anak-anaknya, hanya untuk show, bahwa dia bisa membuat resepsi pernikahan yang mewah. 

2. Resepsi itu adalah kepatuhan atas sunnah Nabi, bukan malah membuat maksiat
Kenapa kita melakukan resepsi? Karena Nabi nyuruh. Kita patuh. Maka, lagi-lagi repot sekali urusannya, jika ternyata, resepsi itu mengundang maksiat. Banyak jenisnya. Mulai dari menentukan tanggal nikah melalui cara-cara mistis. Memanggil pawang hujan. Pakai acara dangdutan, dengan penyanyi berpakaian tidak pantas. Hingga demi bedak dan riasan tidak luntur, kita jadi meninggalkan shalat. Kan repot sekali, gara2 resepsi pernikahan, pengantin jadi tidak shalat. Keluarganya tidak shalat. 

3. Resepsi itu adalah bersilaturahmi, bukan mengumpulkan amplop
Sudah jadi tradisi yang membekas sekali di sekitar kita, jika ada resepsi, maka lazimnya ada kotak besar untuk memasukkan amplop. Semakin mewah itu resepsi, kotak amplopnya semakin megah, mewah pula. Juga pernikahan di kampung-kampung, pun ada amplopnya juga. Saya tidak mengerti poin tradisi ini? Apaan sih? Ekses dari tradisi ini tidak sederhana, itu memiliki dampak negatif. Di amplop2 itu ditulis nama, siapa yang ngasih, besok lusa, seolah menjadi 'hutang'. Semakin bagus kartu undangan, semoga semakin banyak amplopnya, dll. Tetangga, kerabat, kolega yang kaya-kaya diundang, yang miskin tidak. Dan lain sebagainya. Aduh, mungkin saatnya kita kembali memikirkannya. Gunakanlah teladan Nabi, wasiat-wasiatnya, itu mungkin bisa membantu melihat situasi ini lebih jernih.

4. Resepsi itu adalah kebermanfaatan, bukan mubazir dan mengganggu.
Poin terakhir, resepsi pernikahan itu diadakan, karena ada azas manfaatnya. Maka, ketika dia berlebihan, mubazir, sia-sia, suramlah cahaya baik dalam resepsi tersebut. Belum lagi jika sampai mengganggu, bikin macet, bikin susah, dan menimbulkan kesulitan di sekitarnya. Saya tahu, lagi-lagi itu sekali seumur hidup, tidak setiap hari juga bikin repot, tapi sejatinya, justeru karena acara tersebut sangat spesial, maka berhati-hatilah. 

Ingatlah selalu, telah menunggu jalan panjang setelah resepsi. Hakikat pernikahan itu sendiri.
Ketahuilah, jika kita bisa menempatkan resepsi pernikahan dengan baik, maka biasanya, kita juga bisa menempatkan pemahaman hidup dengan baik pula. Itu memiliki korelasi yang mungkin menarik direnungkan. Ingatkan orang-orang di sekitar kalian, termasuk orang tua, agar bisa menahan diri. Jika susah melakukannya, pastikan, generasi berikutnya, anak-anak kita, tidak mengalami hal yang sama kita alami.

*Tere Liye, repos catatan lama
Read more...
separador

Sunday, January 22, 2017

Kenapa jodoh jauh?

Kenapa jodoh jauh-jauh dari kita? Berikut beberapa alasannya. Tapi tulisan ini tidak serius, ini cuma buat ‘becanda’ saja. Syukur2 kalau bermanfaat.

1. Karena kita jarang mandi
Bagaimana kalian akan dapat jodoh jika kalian jarang mandi? Mandi dengan rajin dan teratur itu adalah salah-satu petunjuk jika seseorang sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Bagaimana mungkin jodoh akan dekat-dekat, eh, mengurus diri sendiri saja tidak serius. Jadi poinnya bukan di jarang mandinya, melainkan di: mengurus diri sendiri. Jangan mimpi dapat jodoh, kalau bertanggung-jawab atas sendiri saja tidak bisa. 

2. Kebanyakan galau
Dikit-dikit galau, dikit-dikit dirundung suasana hati nggak menentu. Pantas saja jodohnya nggak mampir. Bahaya ini mah. Jodoh itu membutuhkan keseriusan. Kalau cuma buat main-main, maka levelnya memang pacaran saja. Yang masih sibuk galau2 ria, sibuk kepo, sibuk stalking, wah, jodoh kalian masih jauh kayaknya. Mulailah serius dan fokus ke rencana hidup, baru jodohnya mulai dekat-dekat. Karena sstt... yg sudah serius saja kadang masih susah nemu jodohnya, loh.

3. Teori melulu, kagak ada prakteknya
Kita bisa saja dapat ponten 10 ujian mendapatkan SIM. Tapi kalau nggak pernah bawa mobil, dijamin nggak bakalan bisa nyetir. Teorinya jago, tapi prakteknya nol. Sama, kita jago sekali teori cinta, jodoh, dsbgnya, tapi cuma teori doang, nggak bakal ketemu jodohnya. Soal quote, nasihat2 cinta, wah jago banget. Tapi sudah menikah? Belum. Akunnya penuh dengan petuah2 cinta. Tapi sudah berkeluarga? Belum. Itu sih emang begitu orangnya. 

4. Terlalu tinggi memasang standar
Eh, boleh2 saja pengin dapat jodoh yang paket empat sehat lima sempurna. Kaya, terkenal, baik hati, ganteng, saleh, dll, dstnya. Masalahnya, yang kayak begitu mau nggak sama kita? Kalau cuma kepengin sih boleh. Tapi kita hidup di dunia nyata, bukan dongeng princess. Paling hanya 1 banding sejuta yang kayak Cinderella--itupun karena Cinderella memang baik hatinya. Lah, kita? Judes, bawel, pemalas, suka iri hati, dll, dsbgnya, nggak bakal nemu sama pangerannya. Papasan sih mungkin, tapi habis itu melengos pangerannya.

5. Mental masih cemen
Jangan protes dan marah dulu. Tapi sesungguhnya, banyak yang sebenarnya belum dapat jodoh, karena memang mentalnya masih cemen. Bilangnya sih sudah siap dan berani, tapi mentalnya tidak sesiap itu. Dek, kalau mau menikah, bahkan tidak perlu punya rumah megah dulu, mobil mewah dulu, ini, itu, emas kawinnya cukup baut. Sah. Setelah menikah baru betul2 kerja-keras, banting tulang. Itu baru yang disebut mental baja. Ini juga buat yg sudah pacaran 5 tahun, 10 tahun. Kenapa belum menikah? Karena kalau dia kredit mobil atau rumah, sudah lama lunas. Lah ini, tetap saja pacaran.

6. Takut gagal. Trauma
Ada orang menikah, kemudian bubar jalan, apa sebenarnya yang terjadi? Tidak ada apa-apa yg terjadi. Biasa saja. Itulah dunia. Tuhan temukan seseorang dengan orang yang salah, untuk besok2 semoga bertemu dengan yang betul. Itu juga jodoh. Sesimpel itu saja sebenarnya. Tapi kalau mau dibuat rumit, dibuat sangat serius, maka hal sepele apapun akan jadi masalah.
Kurang lebih begitu. Karena lama-lama nanti daftarnya jadi tambah serius, padahal tulisan ini niatnya cuma buat becanda saja. Jadi cukuplah sampai di sini saja. Terakhir, pastikan kalian rajin mandi kalau mau dapat jodoh. Juga banyak2 makan sayuran dan buah. Pun berolahraga. Karena jika ternyata tidak dapat2 juga jodohnya, minimal kalian jadi sehat. Daripada sibuk kepo, stalking, yg kalian kepoin dan stalking belum tentu juga tahu ini. Mending sibukkan diri dgn hal positif. Masuk akal, kan?

*Tere Liye
Read more...
separador

Tuesday, January 3, 2017

Studi Banding

Berapa usia kita sekarang? Apakah pencapaian yang kita lakukan sudah optimal atau belum? Apakah kita masih pantas bermain-main atau saatnya berpikir serius? Apakah  dan apakah?

Maka, ijinkan saya menulis sebuah: studi banding. Ini bukan studi banding ke LN yang menghabiskan milyaran rupiah macam yang dilakukan Yang Mulia anggota DPR atau pejabat negara, ini simpel studi banding lewat literatur, buku2 yang bisa dibaca siapapun. Kita akan membandingkan kehidupan kita dengan orang yang paling pantas dijadikan teladan. Saya tahu, semua orang tentu punya kekhasan, tapi punya pembanding dalam hidup, bisa menuntun kita melakukan refleksi. Studi banding ini tidak akan rumit, cukup 3 titik penting, sbb:

Usia 12. Nabi Muhammad sudah menemani Paman-nya melakukan perdagangan hingga Syria. Itu bukan perjalanan mudah, itu perjalanan menembus gurun pasir, sambil membawa barang-barang yang bisa dijual. Pengalamannya sebagai pedagang semakin mengesankan di tahun-tahun kemudian, reputasinya sebagai orang yang jujur, adil, dan berahklak baik terbentuk. Tahun-tahun berikutnya, Nabi tidak hanya menemani, beliau sendiri yang membawa barang dagangan.

Usia 25. Di usia yang matang, dengan reputasi pedagang mengagumkan, Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah (yang tertarik dengan karakter Nabi). Kehidupan berkeluarga dimulai, menjadi bagian masyarakat, lompat ke fase berikutnya. 

Usia 40. Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, tugasnya sebagai Nabi dimulai. Lompatan yang sangat penting.

Nah, sekarang, mari bandingkan dengan usia kita. Jika kalian remaja, usia SMP, SMA, maka itulah masa-masa brilian untuk belajar. Satu-dua malah belajar sambil bekerja, membentuk masa depan. Boleh mencari hiburan? Boleh santai? Tentu saja silahkan, namanya juga remaja, tapi jangan lupakan tugas kalian: belajar. Proses ini akan dijalani hingga usia 21-22 tahun, lulus kuliah, kemudian masuk ke dunia kerja. Yang mau jadi dokter, cukup waktunya. Yang mau jadi insinyur, bidan, guru, polisi, tentara, pedagang, pengusaha dsbgnya, dsbgnya,  genap usianya. Di usia 24 tahun, kalian sudah tiba umur matang.

Kemudian tiba di usia 25. Apa yang akan kita lakukan? Nabi menikah. Kita mungkin berbeda jodohnya. Ada yang datang lebih cepat, ada yang datang lebih lambat, namanya juga jodoh, rahasia Allah. Tapi mau cepat atau lambat, usia 25 adalah tonggak penting, kita sudah matang. Seharusnya, mau sudah menikah atau belum, kita sudah punya reputasi yang baik. Oh si A itu adalah anak muda yang oke. Oh si B itu adalah anak muda yang tahu persis mau ngapain, bukan lagi luntang-lantung tidak jelas tujuan. Usia 25 bukan lagi usia remaja. Well, boleh saja mengaku berjiwa muda, tapi berjiwa muda itu bukan berarti kita masih ganjen, manja, ikut2an trend, apalagi masih jadi beban orang lain. Usia 25 kita sudah tahu mana yang positif mana yang mubazir, sia-sia belaka. Kita bisa berpikir terbuka, bisa diajak bicara tentang tanggung-jawab dan masa depan.

Usia 40, adalah titik berikutnya. Apa yang kita capai saat usia kita 40 tahun? Ini lompatan yang sangat menarik. Tentu saja kita tidak akan jadi Nabi, tapi pencapaian apa yang bisa dilakukan saat usia kita 40 tahun? Catat baik-baik: ini bukan soal jabatan, kekuasaan, harta benda, materi, apalagi terkenal, popularitas, melainkan lebih ke: MANFAAT apa yang bisa kita berikan bagi orang banyak saat usia kita 40 tahun? Karena itulah sejatinya kehidupan. Usia 40 tahun kelak (jika kita belum tiba di usia ini), apa saja yang telah saya capai? Apakah kehidupan saya bermanfaat bagi banyak orang lain. 

Kurang lebih begitu studi bandingnya. Simpel kan? Sekarang refleksikanlah dengan kehidupan kita. Berapa usia kita, di mana posisi kita. Dalam banyak kasus, kadangkala orang tua kita sudah gregetan banget loh melihat anak-anaknya yang duuuh, ini sebenarnya nyadar umur nggak sih? Saat mereka masih welcome, tetap sayang, bukan berarti kita merasa baik-baik saja. Karena hidup kita itu mau dibawa kemana? Waktu itu kadang “kejam” sekali. Melesat tanpa disadari, bukankah baru kemarin kita masih SD? Bukankah baru kemarin SMP? SMA? Tiba-tiba, ow, ternyata kita sudah di atas 20 tahun. 

Pikirkanlah.

*Tere Liye
Read more...
separador

Tuesday, November 29, 2016

Ujian Nasional

Saya paham, Ujian Nasional itu punya tujuan baik, ada argumen positifnya. Tapi sejak belasan tahun lalu, ada sebuah bisul serius di Ujian Nasional, yang mendesak sekali lebih baik dihapus. Yaitu: mencontek. Ini crazy sekali. Dari Aceh sampai Papua, sudah jadi rahasia umum, Ujian Nasional SD, SMP dan SMA itu jadi ajang contek massal.

Beberapa tahun lalu, saya miris menyaksikan, salah-satu anak SD kelas enam di Surabaya, memutuskan melapor jika dia dipaksa memberikan contekan ke teman2 sekelasnya. Heboh sudah--masuk berita di media massa. Lantas apa hasilnya? Keluarga anak ini malah dimusuhi oleh tetangganya, dibilang sok suci, sok hebat. Saksikanlah, betapa rusaknya pemahaman masyarakat akibat dari Ujian Nasional yang dianggap segalanya. Kalian mungkin lupa dengan kejadian2 ini, tapi sbg penulis, sy mencatat banyak hal lewat tulisan. Setiap Ujian Nasional mau digelar, murid-murid dan guru seolah2 mau perang, doa bersama digelar, bertangisan. Seolah itu hidup mati, penentuan masuk surga atau neraka.

Jika kalian pendukung Ujian Nasional, jangan tutup mata atas fakta ini. Saya tahu, sebagian kecil dari murid SD, SMP dan SMA, memang diberkahi dengan sekolah yang baik, guru yang baik, dan bibit-nya memang baik, mereka tidak akan mencontek. Tapi sebagian besar di luar sana, realitasnya beda dengan yg kita lihat. Keburukan yang timbul akibat Ujian Nasional ini jauh lebih besar dibanding argumen positif yang coba dibangun. Maka daripada terus jadi bisul, melahirkan calon2 “koruptor”, lebih baik dihapus saja. Mari pikirkan solusi yang lebih baik.


Lantas apa pengganti Ujian Nasional? Inilah yang menurut hemat saya, seperti sakit perut, justeru dikasih obat panu. Jaka sembung naik ojek, kagak nyambung jek. Masalah terbesar pendidikan di Indonesia itu bukan soal Ujian Nasional, berhenti menghabiskan waktu membahas soal UN, UN dan UN. Masalah pendidikan Indonesia itu adalah: pemerataan.

Kalian tahu kenapa setiap seleksi masuk sekolah, selalu saja ada murid titipan, murid sogokan, dll di sekolah2 tertentu? Karena semua orang mengotot pengin masuk sekolah top. Lantas kenapa ada sekolah top? Karena pendidikan di Indonesia tidak merata. Ijinkan saya bertanya, kenapa si A di terima di SMA favorit, sementara si B tidak diterima? Jika kalian jawabnya: karena si A ponten ijasahnya lebih bagus, atau karena si A lebih pintar. Jelas sudah, kita sudah berbeda sekali memahami dunia pendidikan. Karena menurut orang2 dulu (seperti Ki Hajar Dewantara), pendidikan itu hak semua orang. Karena si B ini bodoh tak terkira, maka dia jelas lebih mendesak diterima di SMA favorit, biar dia tidak bodoh. Apalagi jika itu sekolah negeri, yang dibayarin oleh pajak rakyat, kenapa si B nggak boleh masuk atas diskriminasi “bodoh” atau “pintar”? Toh, bayar pajak itu, mau “bodoh” atau “pintar”, tetap bayar.

Pemerataan kualitas sekolah ini sangat penting. Tidak harus semua sekolah jadi top semua, setara, tapi minimal kesenjangannya berkurang jauh. Mulailah dari memperbaiki kualitas guru-gurunya, infrastruktur, peralatan, akses, dsbgnya, dsbgnya. Dengan pemerataan kualitas, maka bukan hanya SMA favorit saja yang punya kans murid2nya bisa masuk kampus top, melainkan SMA2 lainnya. Setiap murid, mau dia di pedalaman, di pelosok, mereka juga menerima kualitas pendidikan yang sama. Inilah masalah terbesar pendidikan di Indonesia. Sekali kualitas sekolah2 membaik, banyak masalah selesai dengan sendirinya, termasuk tentang kenapa kita mengotot sekali ada Ujian Nasional.

Saya mendatangi banyak sekolah, tersambung dengan ratusan sekolah di penjuru Indonesia lewat program literasi. Kadang menemukan sekolah (biasanya di kota), yang punya perpustakaan keren, lengkap koleksi Tere Liye mereka. Tapi lebih banyak sekolah yg tidak. Juga banyak yang jangankan perpustakaan, buku saja susah. Mereka senang sekali saat mendapat buku. Cukup berikan satu buku di sana, 200 muridnya bisa baca semua. Bagaimana mungkin murid sekolah yg ini akan bersaing dengan sekolah dgn perpustakaan super?
Mudah melaksanakan pemerataan kualitas sekolah? Tidak. Itu butuh proses panjang. Bahkan data sebaran guru seluruh Indonesia saja entah ada yang punya atau tidak data super lengkapnya. Kita hanya tahu, di kota2, guru2 menumpuk, di pelosok, tinggal sisanya saja. Kita bahkan belum bicara soal kualitas gurunya, dari sisi kuantitas saja penyebarannya sudah tidak merata. Inilah yang seharusnya menjadi strategi raksasa pemerintah, mulai melakukan pemerataan pendidikan.

Sepertinya, setelah sekian belas tahun bnyk orang menggemakan dampak buruk Ujian Nasional ini, pemerintah akan menghapusnya. Cukup sudah dampak dan komplikasi negatif Ujian Nasional kepada murid-murid kita. Sudah saatnya kita semua fokus memperbaiki pemerataan kualitas pendidikan nasional. Kita semua sejatinya adalah guru bagi generasi berikutnya. Saya, kalian yang membaca tulisan ini, orang tua, tukang parkir, menteri, dll, dll adalah guru semua. Kita semua dituntut untuk peduli. Saya, kebetulan sebagai penulis, akan mencoba mengirimkan puluhan buku2 bagi generasi berikutnya. Mendidik karakter mereka lewat cerita. Kalian, mungkin punya cara yg lebih kongkret dan lebih baik. Buat yang merokok misalnya, tidak merokok secara terbuka di depan anak2 kita, remaja2 kita, itu adalah pendidikan. Jangan sebaliknya, eh sudah merokok, nyolot pula kepada orang lain yang berusaha menjaga anak2 kita tidak merokok.

Saya percaya, masa depan pendidikan Indonesia selalu cerah, saat banyak orang bersedia mengambil bagian.

*Tere Liye
Read more...
separador

Friday, September 9, 2016

Macam-macam Gaya Berdoa Ala Tere Liye

Di dunia nyata, doa itu tidak banyak jenisnya. Cukup, imam baca doa, makmum tinggal bilang amin. Tapi di dunia maya, banyak ragamnya.
1. Doa konser
Ketika yang posting menulis begini: “Ya Allah, jadikanlah hamba orang kaya. Amin. Ayooo.... mana aminnya! Semua, klik like dan komen amin.” Ini jenis doa konser.

2. Doa mengancam
Ketika yang posting doa menulisnya begini: “Ya Allah, semoga pacarku setia. Amin. Yang nggak klik like dan nulis komen amin, tahu rasa jomblo sampai mampus.” Wah, ini doa yang sangat mengancam. 

3. Doa janji palsu
Disebut janji palsu, karena memang palsu, begini misalnya: “Ya Allah, berikanlah kami pekerjaan dengan gaji yang besar. Amin. Yang like dan komen amin, nanti masuk surga.” Agak membingungkan, karena yang nulis doa saja belum tentu masuk surga, bagaimana dia bisa “menjanjikan” si like dan si komen masuk surga? Entahlah...

4. Doa senasib sepenanggungan
“Ya Allah, berikanlah kami rumah yang mewah. Amin. Jika ini doa kalian juga, ayo klik like dan aminkan.” Buat yang merasa senasib sepenanggungan, doa-doa begini cocok kayaknya. Jadi buat yang ingin rumah mewah, mari klik like ramai-ramai. 

5. Doa yang kesepian
Jangan salah, juga ada doa-doa yang kesepian. Mungkin kalian hanya fokus pada yang ramai, tapi sebenarnya banyak doa yang kesepian. Yang misalnya menulis begini, “Ya Allah, dekatkanlah jodohku. Tolong diklik like dan amin dong.” Dan ternyata, berjam-jam, berhari2, tidak ada yang klik like dan amin doa tersebut. Sepi. Tidakkah kalian iba? Ini seriusan. Dia sudah sungguh minta tolong dilike, tapi kalian kemana? Kalian sungguh bukan friend lagi. Bagaimana mungkin, satu milyar lebih penghuni media sosial, satu pun like dan komen dia tidak dapat? Dan karena poin 5 inilah saya menulis catatan ini. Doa yang kesepian. Saat kita sibuk meminta perhatian makhluk, saat kita sibuk sekali pengin eksis di depan makhluk-makhluk, kita lupa, boleh jadi, itulah sebab kenapa hidup ini terasa tetap hambar dan hampa. 

*Tere Liye
Read more...
separador

Wednesday, August 3, 2016

Perasaan, perasaan, perasaan

*Perasaan, perasaan, dan perasaan

1. Jatuh cinta itu manusiawi. Urusan perasaan, urusan membolak-balik hati itu adalah milik Allah. Boleh jatuh cinta? Ya boleh, tidak ada ulama dari mazhab manapun yg melarang jatuh cinta kepada seseorang. Apalagi, aduhai, seperti terjatuh, kita tdk pernah tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Tiba2 perasaan itu sudah mekar tak berbilang. 

2. Lantas, kalau kalian jatuh cinta, so what? Nah, ini bagian yg menariknya. Kalian mau menyatakan perasaan itu? Lantas so what? Kalian mau dekat2 dgn seseorang itu? Kalian mau telpon2an, tahu dia sedang apa, apakah bisulnya sudah sembuh, apakah panunya tidak melebar, apakah konstipasinya sudah hilang, sudah bisa ke belakang? Kebanyakan di usia remaja, hingga 20-an something, lantas kemudiannya ini yg tidak jelas. Pacaran? Tidak pacaran? Langsung menikah?

3. Ketahuilah, kita hidup dalam norma2, nilai2, batasan2 yg harus dihormati. Kecuali kalau kalian menolak norma2, nilai2, batasan2 tersebut, silahkan (dan berhenti sudah meneruskan membaca notes ini, karena kalian sudah tdk se-zona waktu lg dgn tulisan ini). Itu benar, memiliki perasaan itu kadang serba salah, makan tak enak, tidur tak enak. Itu benar, ada keinginan utk tahu apakah seseorang itu balik menyukai, keinginan utk bilang, cemas nanti dia digaet orang. Tapi kalau hanya ini argumen kalian, oh dear, orang2 sakau, ngobat, lebih tersiksa lagi saat dipisahkan dari hobinya tersebut. Mereka bisa mencakar2, bahkan melukai diri sendiri hingga begitu mengenaskan dan (maaf) is dead. Sy rasa, seingin apapun kalian jumpa dia, paling cuma nangis, tidak akan mati. Itulah kenapa hidup kita ini punya peraturan, agar semua orang bisa punya pegangan, selamat dr merusak dirinya sendiri. Sy tdk akan menggunakan dalil2 agama dalam notes ini--karena orang2 yg pacaran, kadang risih mendengarnya. Jadi kita sama2 kuat, sy pakai logika kalian sj.

4. Tapi saya harus bilang agar lega, bagaimana dong? Ya silahkan saja kalau mau bilang. Tapi camkan ini baik2, cinta sejati adalah melepaskan. Catat itu baik2, tanyakan pd pujangga kelas dunia, hingga pujangga amatiran narsis tere liye, hampir semua bersepakat, cinta sejati adalah melepaskan, lepaskan dia jauh2, maka kalau memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terjadi. Jadi? Kalau kalian belum jelas so what-nya, lantas kemudian mau apa setelah bilang, maka mending ditahan, disimpan dalam hati. Tuhan itu mendengar, bahkan desah tersembunyi anak manusia di pojok kamar paling gelap, paling sudut, di salah-satu kampung paling terpencil, paling jauh dari peradaban, paling tdk ada aksesnya. Jodoh itu misteri. Kalau nggak pakai usaha, nanti nggak dapat, gimana dong? Tentu saja usaha, tapi bukan dengan pacaran. Usaha terbaik mencari jodoh adalah: dgn terus memperbaiki diri. Nggak paham, kok malah aneh, malah disuruh memperbaiki diri. Ya itulah, dalam banyak hal, kalau kita nggak nyambung, memang nggak ngerti. Misalnya, banyak orang yg mikir kalau mau dapat ikan itu harus mancing di sungai. Padahal sebenarnya sih, kalau mau ikan, ya tinggal pergi ke pasar ikan. Lebih tinggi kemungkinan dapat ikannya--asumsinya punya uang.

5. Tapi apa salahnya pacaran? Boleh2 saja dong? Saya justeru merasa lebih semangat, lebih kreatif, lebih apa gitu setelah pacaran? Nah itu dia, kalian benar2 menyimpan bom waktu jika meyakini pacaran itu memberikan energi positif. Pacaran itu bentuk hubungan, dan sebagaimana sebuah bentuk hubungan antar manusia, posisinya rentan rusak, gagal, dan binasa. Boleh jadi betul, riset canggih akademik membuktikan orang2 pacaran bisa memperoleh motivasi baik, tapi saya, tidak akan memilih menggunakan 'pacaran' sbg sumber energi, mengingat sifatnya yg temporer sekali. Mending sy milih kekuatan bulan, jelas2 bulan itu sudah ada milyaran tahun, pacaran paling mentok hitungan jari tangan bertahannya. 

6. Baik, baik, lantas kalau tidak boleh pacaran, gimana dong? Kongkretnya apa yg harus sy lakukan? jawabannya mudah: Tidak ada yg perlu dilakukan. jatuh cinta, alhamdulillah, itu berarti tanda kita normal. lantas? Biarkan saja. Sibukkan diri sendiri dgn hal2 positif, isi waktu bersama teman2, keluarga. Belajar banyak hal, mempersiapkan banyak hal. Hanya itu. Nggak seru, dong? Lah, memangnya kalau pacaran seru? Paling juga cuma nonton ke manalah, pergi kemanalah. Pacaran itu seolah seru, karena dunia telah menjadi etalase industri entertainment. Pesohor2 menjadi teladan--padahal akal sehat siapapun tahu itu bahkan rendah sekali nilainya. Dari jaman batu, hingga kelak dunia ini game over, pegang kata2 saya: menghabiskan waktu bersama orang tua, kakak, adik, teman2 terbaik selalu paling seru. Apalagi jika ditambah dgn terus belajar, produktif, dsbgnya.

7. Lantas bagaimana sy melewati masa2 galau ini? Lewati seperti kebanyakan remaja lainnya. Lurus. Boleh kalau kalian mau menulis diary tentang perasaan2 kalian. Boleh galau menatap langit2 kamar. Boleh cerita2 curhat sama teman dekat dan orang tua. Boleh, tapi ingatlah selalu perasaan itu punya kehormatan. Kalian pasti sebal kan lihat teman sekelas yg tiba2 datang ke sebuah pesta ultah (padahal dia tidak diundang), sudah tdk diundang, makannya paling banyak, teriakannya paling kencang, paling gaya, norak, tidak tahu malu. Nah, ada loh--bahkan banyak-- orang2 yg tdk sadar kalau dia sebenarnya juga norak dan tidak tahu malu dalam urusan perasaan. Ya, kita sih kadang tdk merasa kalau sudah genit, ganjen, lebay. Sy tahu, istilah menjaga kehormatan perasaan ini boleh jd susah dipahami, tapi itu nyata, orang2 yg bisa menjaga perasaannya, maka se galau apapun dia, sesengsara apapun dia menanggung semua perasaan, besok lusa, kemungkinan untuk tiba di ujungnya dgn selamat akan lebih besar. Jangan coba2 berdua2an, jangan coba2 pergi kemanalah hanya berdua, bergandengan tangan, dsbgnya. Itu benar2 menghabisi kehormatan kalian. 

8. Nah, bersabarlah. Tunggu hingga kalian memang telah siap. Jika sudah yakin, silahkan kirim sinyal2, menyatakan perasaan, lantas silahkan libatkan orang tua. Btw (masih ngeyel), tapi banyak juga orang2 yg menikah tanpa pacaran bercerai, kok. Dan sebaliknya, orang2 yg pacaran malah langgeng? Itu benar. Sama benarnya dgn banyak orang2 yg mabuk2an, ngobat, tetap saja umurnya panjang. Eh, ada tetangga, alimnya ampun2an, malah meninggal lebih dulu. Harusnya kan kalau mereka melanggar peraturan, langsung ada petir menyambar. Menikah, membina keluarga, langgeng atau tdk, bahagia atau tidak, boleh jadi tdk ada korelasinya dgn pacaran atau tidak. Kita mungkin tdk pernah tahu misteri ini, tapi dengan menjalani prosesnya dgn baik, mengakhirinya dgn baik, semoga fase berikutnya berjalan dgn baik.

9. Sungguh jangan habiskan masa muda kalian yang cemerlang hanya sibuk mengurus perasaan. Masa muda itu sangat penting, lebih baik habiskan untuk sekolah, belajar, dan semua kegiatan yg akan bermanfaat bagi masa depan kalian. Termasuk jangan lupa, ada keluarga, ada teman2 terbaik loh, bukan cuma pacar. Kalian mungkin tidak bisa melihatnya sekarang, tapi 20-30 tahun lagi, kalian akan ngeh sekali nasehat ini. Orang2 yg dulu sibuk pacaran, sibuk gaul, memang terlihat keren dan hebat, tapi saat usia mereka melesat 40, 50, situasinya akan berbalik arah.

Pikirkanlah.

*Tere Liye
Read more...
separador

Sunday, July 24, 2016

Usia 1/4 abad

Jika usia kita sudah 25 tahun, hampir 25 tahun, atau sudah lewat 25 tahun, mungkin hal2 berikut menarik diperhatikan. Ini hanya catatan ringan, jadi tidak perlu terlalu serius.

1. Berhentilah berpikir kalau kita masih remaja

Dalam definisi apapun, usia 25 tahun bukan lagi usia remaja. Jadi, tidak pantas bersikap seperti remaja yang masih kekanak2an. Bicaralah yang biasa2 saja, menulislah yang biasa2 saja, tidak pantas lagi kalau masih mau manja2, genit2, apalagi merasa imut menggemaskan. Apalagi kamu, Bambang, Joko, Agus, ayo, dek, nggak pantas lagi merasa diri kita paling imut menggemaskan.

2. Mulailah mengambil tanggung-jawab

Usia 1/4 abad itu sudah matang sekali. Yang kuliah, harusnya sudah lulus, dan mulai bekerja. Yang tidak kuliah, semestinya juga sudah bekerja. Kalaupun ambil S2 atau S3, cara berpikirnya sudah berbeda. Mulailah mengambil tanggung-jawab. Masa’ kita masih harus minta uang buat beli pulsa? Minta uang buat beli bensin motor? Sudah masih minta uangnya ke orang tua, eh, cuma dipakai buat telpon2an pacaran, keluyuran pacaran. Jaman dulu, anak2 usia 18 tahun bahkan sudah bisa mandiri. Entahlah, apa yang jadi sumber masalah hari ini, usia 1/4 abad tapi masih merepotkan orang tua.

3. Mulailah memikirkan cita-cita hidup dengan serius

Hidup ini tidak cuma makan, tidur, makan tidur, dstnya. Mulailah memikirkan apa yang akan kita lakukan. Apa yang hendak kita capai. Lihat ke belakang, apa hal yang telah kita capai? Dan apalagi yang hendak kita capai? Kejar impiannya, dek. Jangan bangun kesiangan, malas ngapa2in, entah besok lusa jadi apa, bodo amat. Tabiat malas itu amat berbahaya.

4. Berhenti penuh drama

Nonton drama Korea sih boleh. Tapi berhentilah hidup penuh drama. Dikit2 lebay, dikit2 heboh, dikit2 rusuh. Kita sudah 1/4 abad, bukan remaja lagi. Kita sudah dewasa, dan sebagaimana mahkluk dewasa, tahu keputusan apa yang harus diambil. Kita juga bisa memfilter mana omongan orang lain yang bermanfaat, mana yg harus ditinggalkan. Kita juga bisa memilih, mana hal penting yg harus diikuti, mana yg sudah tidak berguna lagi. Jomblo misalnya, tidak ada masalah serius dengan menjadi jomblo, malah bisa fokus sekolah dan meniti karir. Daripada menghabiskan waktu penuh drama. Berhenti penuh drama.

5. Jaga kesehatan

Kesehatan itu adalah investasi. Semakin muda kita memulai proses menjaganya, maka akan kita petik di masa depan manfaatnya. Tidak merokok, tidak begadang, apalagi minuman alkohol, dsbgnya sejak muda, itu akan dirasakan manfaatnya di masa tua. Apalagi jika ditambahkan dengan sering olahraga, menjaga makanan, itu investasi yang baik.

6. Asupan gizi untuk jiwa

Ini kadang sering betul kita abaikan. Di dalam tubuh kita itu ada yang disebut “jiwa”. Nah, jika kita sibuk memoles fisik luar, kapan kita akan mulai memoles bagian dalam kita? Kapan kita akan mulai memberikan asupan gizi bagi “jiwa” kita. Kalian tahu kenapa orang dewasa itu banyak masalahnya? Kesibukan tidak ada habis2nya? Waktu yang tidak berkah? Rasa syukur yang dangkal? Bahkan saat hidupnya sudah cukup pun, dia rela mencuri, korup, dan aniaya? Karena jiwanya tidak diberikan asupan gizi. Jika usia kita sudah 1/4 abad, mendesak sekali kita mulai melengkapi hidup ini dengan pemahaman2 terbaik, pelajaran2 penting. Jangan malas membaca buku2 yang baik, jangan malas belajar dan memperhatikan. Dan lebih penting lagi, jangan malas belajar agama.

7. Berhenti menghabiskan waktu mubazir

Masih suka berantem di media maya? Masih suka bertengkar di kolom komentar website berita? Postingan orang lain? Ayolah, berhenti menghabiskan waktu sia-sia. Kita sudah 1/4 abad lebih, ngapain harus ribut hanya karena hal2 tidak penting. Aduh, rugi amat kalau masih suka mengotot, hanya orang2 kurang kerjaan yang menghabiskan waktunya sia-sia. Lebih baik fokus produktif, terus belajar dan berkarya. Dan pastikan, kita juga tidak menghabiskan waktu banyak dengan gagdet/HP. Masa' iya, tiap menit hanya terlihat melototin HP terussss--sementara kewajiban dan pekerjaan kita menumpuk tidak beres-beres. 

Kurang lebih begitu. Semoga bermanfaat.

*Tere Liye
Read more...
separador

Thursday, July 14, 2016

Kekacauan paham

Siapa di sini yang sering sekali ditanya: "kapan menikah?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, tertawa, "Belum dapat jodohnya." atau "Makanya cariin, dong.", Ada juga yang menerima pertanyaan ini sedikit formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan, "Insya Allah segera." Ada juga yang jengkel sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam titik ekstrem, membuat malas berangkat kondangan, atau menghadiri acara keluarga--tempat di mana modus pertanyaan favorit ini sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali bertanya: "kapan menikah?", "kapan nyusul?" Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?
Siapa di sini yang sering ditanya: "kapan punya momongan?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus terang, ada juga yang sepulang dari acara tersebut, setelah menerima pertanyaan tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih. Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2 belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari tamu2 undangan lainnya.
Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak, kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi kenapa orang2 masih saja menanyakannya?
Saya sering menyaksikan teman sendiri, kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya paham rasa terganggu itu.
Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini tanpa kesimpulan solusinya.
Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan hal simpel. Kalian pernah datang ke pemakaman? Pernah datang ke acara menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, "kapan nyusul yang mati?" Kenapa tidak ada yang sambil sumringah, mencoba memecah situasi dengan percakapan ringan, "hallo om, pak, ibu, kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?"
Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran? Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy mengerti.

*Tere Liye
Read more...
separador

Followers