Friday, August 13, 2021

Mama, minta uang!

~ Mama, minta uang! 

Kemarin siang, saat anak lanang terbangun dari tidurnya lalu kugendong dengan jarik, nemplok di pangkuan sambil nenen, merem. Tiba tiba sesosok mungil datang menghampiriku. Ternyata Jasmine, anak wedokku yang paling kintung kintung yang kini berusia hampir tiga setengah tahun. 

Disusul oleh saudara sepupu sekaligus sepersusuan yang juga seumuran Jasmine. Nama aslinya Azka, namun memiliki banyak julukan : Kadut, Kaduot, Galengsong, Mbah Rorot, Andrung, Gendrang, Sapi Mandrowng, Anang Anang Umplung, dan juga Cilor Mak Trong. Besok besok entah apa lagi julukan selanjutnya. Julukan julukan itu tercipta karena palafalan kata kata yang masih belum jelas oleh dirinya sendiri. Andrung, itu maksudnya dia bilang 'anggur'. Gendrang maksudnya adalah 'gendar', Sapi Mandrowng adalah 'sapi brenggolo', kalau Anang Anang Umplung itu bukan bermaksud mengejek Mas Anang, melainkan lafal dari 'mangan ra mangan ngumpul.' Kalau Cilor Mak Trong itu adalah 'cilor maklor.'

Kalau aku lebih sering memanggilnya dengan sebutan Kadut, singkatan dari Azka Gendut. Seorang saudara yang dulu sering bantuin momong yang ngasih julukan itu. Soalnya dulu waktu masih bayi, dia gendut dan menggemaskan. Yang jelas, semua julukan itu lucu, bagi yang mendengar dan memangilnya dengan nama itu. [Sebenarnya ini nggak baik,  memanggil nama orang dengan sebutan yang orang itu tidak suka. Jangan ditiru ya]. Karena si anak dan emaknya merasa fine fine aja dipanggil dengan nama nama itu, yaudah teruskanlah. Wkwkwk. 

Kadut membawa selembar uang abu abu bernilai dua ribu. Aku tahu, dia pasti minta diantar jajan oleh Jasmine ke warung Ibuk Alif. Ibuk Alif, dia menyebutnya demikian, bukan karena si pemilik warung bernama Alif, melainkan pemilik warung adalah ibu dari anak bernama Alif. 

Kadut nggak berani ke sana sendiri. "Edi, edi edus!" [Takut wedus], alasannya. Sampai sekarang bicaranya memang belum begitu lancar, tapi justru di situlah letak humorisnya bagi para pendengar. Sepanjang jalan ke warung Ibuk Alif padahal nggak ada wedusnya. Lagian jarak dari rumahnya ke warung juga sangat dekat. Nggak nyampai dua menit jalan kaki. Wong cuma di belakang jarak empat rumah. 

Kadut takut melewati jalan itu karena pernah suatu hari, dia ke sana sendiri, terdengar suara mengembik persis suara kambing. Sebenarnya itu hanya suara orang yang pura pura jadi kambing. [Yah, begitulah akibat anak sering ditakut takuti, tumbuh menjadi anak penakut. Jangan ditiru dan jangan diteruskan ya].

Nah, berkat ajakan Kadut, Jasmine terdorong untuk juga memiliki uang di tangan. Lalu, dia mencari cara buat dapatkan uang dengan instant. Dengan cara ngepet, tentunya. Eh, bukan, dengan cara malak emaknya. 

"Mama, minta uang!" Suaranya yang khas terdengar mengusik kupingku dan kuping adeknya yang sedang kupangku. Cempreng, kecil, dan melengking, itulah suara anak gadisku. 

"Mau buat apa?" tanyaku. 

"Buat jajan," selalu itu yang menjadi tujuannya minta uang. Mbok ya sekali kali itu minta uang buat modal dagang gitu hlo. Kalau berhasil kan uangnya bisa jadi banyak. 

"Jasmine tadi pagi sudah jajan, kan?" Sebelum mengucurkan dana buat jajan, berusaha nego dulu. Ini adalah salah satu keahlian yang harus dimiliki seorang emak yang sekaligus menjabat sebagai bendahara keluarga. 

"Aaa, jajan lagi!" Nggak mau kalah dia rupanya.

"Mau jajan apa lagi?" Aku mulai curigesion bak detektif contan.

"Ngg... Jajan bisfit." Bisfit itu bukan merk jajanan baru ya buibu, itu cuma lidah anakku aja yang belum lancar bilang bis-ku-wit dengan cepat. Kalau bilangnya perlahan dia bisa. 

"Biskuit? Hmm... Coba diingat lagi, tadi pagi Jasmine sudah jajan apa aja? Tadi pagi udah jajan biskuit yang ada coklatnya, kan? Dua malah."

"Minta uang!!" Eh, malah ngotot dia. 

"Jajannya besok lagi."

Tidak terima dengan jawaban emaknya, Jasmine mulai menggeledah rak kecil di meja dapur. Di situ memang terkadang terselip uang kembalian. Ra kotang, eh, ra ketang seribu dua ribu, uang lembaran maupun koin alias kricikan. Dia mendapatkan beberapa uang koin. Kutaksir sejumlah tiga ribu limaratus rupiah. Tepat. Soalnya memang aku yang naruh uang itu di situ. Wkwkwk. 

Secepat kilat menyambar, uang koin dari genggaman Jasmine berpindah ke tanganku. Otomatis dia merengek berusaha mengambil kembali uang itu. Eits, nggak berhasil, karena kuletakkan di tempat yang lebih tinggi dari rak tadi. Ketinggiannnya di luar jangkauan Jasmine. 

Cerdik juga anak ini. Dia manjat kursi buat naik ke meja demi bisa meraih uang yang kutaruh di tempat lebih tinggi tadi. Sebelum tangan mungilnya berhasil meraih uang itu, tanganku menyambar terlebih dahulu. Jasmine terduduk di meja. 

Jasmine mulai meradang, amarah tak terbendung dia luapkan dengan cara menangis, berteriak, bahkan melempar beberapa benda yang berada di meja ke arahku.

"Minta uaaanngg!! Whaaaaaaa!!" Teriak Jasmine hingga terlihat gigi giginya beserta anak lidahnya. Si adek jadi terbangun lagi, melepaskan hisapannya dari dadaku, tapi tetap duduk diam di pangkuan. Kadut sampai menangkupkan keduabelah tangannya ke masing masing kupingnya. Teriakan melengking Jasmine membuat kuping pengang rasanya. 

"Jasmine, pelankan suaramu. Itu mengganggu." Aku mencoba mengerem amarahnya. 

"Whaaaa!! Tak balang, pie?" Tangannya meraih tudung saji kecil berwarna pink. Dilemparkan ke arahku. Lemparannya tidak mantap. Ada keraguan. I see. Sebenarnya dalam dirinya ada rasa takut kalau sampai menyakiti emaknya yang cantik ini, di sisi lain dia kesal karena keinginannya tidak bisa terpenuhi.

"Jasmine mau menyakiti mama?" 

"Whaaaa!!" Kuanggap itu sebagai jawaban 'tidak' yang tak terucapkan karena gengsi.

"Jasmine, enggak teriak. Jasmine mau ke surga kan? Di surga nggak ada orang yang teriak teriak. Semua orang gembira. Di surga, mau minta apa aja boleh, nggak ada batasnya. Banyak banyak boleh. Ini kita masih di dunia, ada batasnya, Jasmine. Kendalikan dirimu. Nggak semua hal yang Jasmine minta bisa didapatkan sekarang juga. Nggak semua yang Jasmine inginkan bisa langsung terlaksana." Khotbahku di Hari Kamis pada anakku yang sedang dilanda amarah. [Sebaiknya kalau mau ngotbahi anak, lebih efektif saat suasana hatinya sedang hepi sih. Tapi ya gimana lagi, udah kek spontan gitu, nyrocos aja bawaannya. Ini juga karena sifat alamiah perempuan yang bisa ngeluarin setidaknya sebanyak duapuluh ribu kata per hari. Dah kayak novel di KBM aja nih. Wkwkwk].

Jasmine bergeming. Mungkin sambil mencerna kata kataku. Sejak dulu, aku memang sering menceritakan tentang surga ke Jasmine. Tertanam dalam pikirannya bahwa di surga itu Jasmine boleh minta apa aja sebanyak apapun. Tentu Jasmine sangat tertarik untuk ke 'tempat' semacam itu. Tapi dengan catatan : melakukan perbuatan baik biar dibolehkan Allah ke surga-Nya. 

Perbuatan baik dan buruk akan dicatat oleh malaikat. Perbuatan baik dicatat oleh malaikat Roqib sedangkan perbuatan buruk dicatat oleh Malaikat Atit. Lalu dilaporkan kepada Allah di Hari Senin dan Kamis. Begitulah aku memberi tambahan penjelasan tentang surga pada balitaku. Sambil sedikit kubumbui dengan acting mencoret coretkan jari telunjuk tangan kanan ke telapak tangan kiri seolah menulis. Seraya bilang 'Jasmine perbuatan buruk : melempar barang barang, teriak teriak, menyakiti mamanya.' Atau di lain kesempatan 'Jasmine perbuatan baik : mau minjemi Kadut sepeda.' Begitu terus, berulang ulang, setiap ada kesempatan.  

"Dut, Kadut pulang aja dulu. Jasmine lagi marah." Anak itu menuruti permintaanku, mungkin batinnya juga anyel karena gagal jajan di warung Ibuk Alif. [Sorry hlo, Dut. Jadilah anak pemberani yang bisa jalan ke sana sendiri].

Melihat kawannya pulang, tangis dan teriakannya mereda. Tapi kakinya mulai menendang nendang dengan kasar kursi yang tadi dia pakai untuk manjat ke meja. 

GLODHAK! Kursi itu terjungkal. Anak lanangku menyaksikkan tapi tetap diam, mungkin karena kantuknya masih belum hilang. Kepalanya kembali menyandar di dadaku. 

"Mama, turun!" Seraya Jasmine merentangkan kedua tangan pertanda ingin diturunkan dari tempatnya berada. 

"Enggak. Salah sendiri nendang nendang kursi. Jadi nggak bisa turun, kan?"

"Mama, gendong!!" Tangisnya kembali ke mode on, diikuti teriakan teriakan berikutnya.

"Sabar. Tunggu papa pulang dari masjid." 

"Whaaa!! Turun, turun, turuuunn!!" Teriakannya makin keras, badannya mulai terlihat resah, menggeliat kesana kemari hingga tak sengaja menyenggol segelas teh hangat. Untung gelasnya nggak pecah.

"Astaghfirullah, Jasmine! Coba lihat akibat perbuatanmu! Ini teh hangat yang tadi kamu minta, udah mama buatkan. Mama cariin kamu tapi nggak ada. Datang datang minta uang. Marah marah." Suaraku mulai meninggi akibat melihat lantai yang becek dan kotor. Karena belum keramik, kalau lantai dapur kena air, jadinya becek dan ngepelnya susah. Mana tumpahannya mbleber mbleber lagi. Ck! 

"Mama, gendong, gendong, gendooong!" Aku paham betul kebiasaan Jasmine, saat suasana hatinya sedang tidak baik baik saja, dia pasti merengek minta gendong. Meskipun sudah umur tiga tahun, dia masih suka minta gendong barang cuma sebentar. Dalam gendonganlah Jasmine merasa nyaman, perlahan bisa menata perasaannya kembali. Kalau sudah puas digendong, dia akan minta turun dengan sendirinya. 

"Mama lagi nggak bisa nggendong" Lagian aku memang nggak bisa menggendong dua bocah sekaligus. "Tetap di situ dulu. Tunggu papa pulang."

"Turun, turun, turuun!" Jasmine tetap merengek. Hingga akhirnya mendapati bapaknya sudah pulang dari masjid. 

Kusambut dengan "Jangan diturunkan dulu, Pa!" dan dibalas dengan ekspresi 'ada apa ini?'

"Minta maaf!" Masih duduk di meja,  Jasmine mengulurkan tangan kanannya pertanda mengajak damai. Suaranya terdengar masih ketus. Begitulah anakku. Setelah tadi maksa minta uang tapi gagal, sekarang maksa minta dimaafkan. Kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Wkwkwk.  

Bapaknya mendekatkan badan ke meja,  berniat menurunkan anak gadisnya. Hup! Tubuh mungil Jasmine berpindah nemplok ke dada bapaknya. Digendong depan. Bapaknya tetap tidak menanggapi dengan kata kata. Hanya sedikit gerakan ke kanan ke kiri seperti menimang nimang. 

"Kesalahan Jasmine apa kok minta maaf?" Tetap dong dengan introgasi dulu. Harus digenahkan, biar Jasmine tahu kenapa perlu minta maaf. 

"Nggg... Jasmine numpahin teh hangat. Tapi Jasmine nggak sengajaa..." Masih terdengar sedikit isakan tangisnya. 

"Coba lihat ini Pa, akibat Jasmine marah marah." Aku mengadu. "Bukan karena itu kesalahannya" Langsung nge-switch ngomong ke Jasmine. 

"Nggg..." biar mikir dia. "Jasmine, ngg... Lempar itu ke mama," sambil nunjuk tudung saji pink tergeletak di lantai.

"Apa lagi?"

"Jasmine teriak teriak."

"Apa lagi?" Main tebak tebakan biar nggak marah marah terus.

"Jasmine... Jasmine nggak tau!" Nyerah dia. Hahaha. 

"Jasmine... Maksa maksa... Minta uang" Aku memberitahu dengan perlahan alasan utama semua kekacauan ini, yang mengharuskan dia minta maaf. 

"Coba kalau tadi Jasmine nggak maksa maksa minta uang. Coba kalau tadi Jasmine kendalikan keinginan jajannya. Nggak marah marah."

Diam sejenak. 

"Jasmine minta maaf ya, Maa..." Entah kenapa tiba tiba hatiku iba, merasa terharu. Ya Allah, anak gadisku.

Tak menunggu waktu lama, masih dalam gendongan bapaknya, kusambut uluran tangan mungilnya. Kuciumi ubun ubunnya. "Lain kali jangan diulangi ya. Mama juga minta maaf, nggak bisa langsung kasih uang ke Jasmine, mama minta maaf jadi ikutan marah tadi..."

"Ya..." Nada suaranya merendah.

"Yaudah, mandi dulu sana, biar seger" [Maksudnya, secara nggak langsung itu nyuruh bapaknya buat mandikan Jasmine].

Sekian.
Saya, emak Jasmine yang lagi hobi jajan.
Eh, nyusun kalimatnya gimana sih? Biar maksudnya tuh si Jasmine yang hobi jajan, bukan emaknya. Emaknya mah hobi makan. Wkwkwk.
Read more...
separador

Monday, August 9, 2021

Gegara Energen Kurma

Tadi selepas isyak, emak lagi neneni Adek Hamish, bocahnya sudah setengah tertidur di pangkuan ini. Tiba tiba terdengar suara glodak glodak mendekat, diikuti suara suara anak kecil. Ternyata Chacha yang bersepatu roda datang dengan duo krucil, yaitu Kadut dan Jasmine. 

Otomatis emak ber-ssstt dengan isyarat diacungkan jari tengah, eh, jari telunjuk, ke arah tiga bocah itu. Berharap mereka memelankan suaranya agar Adek Hamish tidak terbangun. Soalnya ini sudah kali ke tiga Adek Hamish nenen, lalu ditaruh di box-nya, lalu terbangun. Rasanya kan jadi pengen tak-hih, gitu. 

Chacha : Ma, Ma! [suara Chacha terdengar buru buru]
Emak     : Sstt... 
Chacha  : Ma, anu, Jasmine ngambil susu kotak gede hlo, Ma.
Emak      : Susu kotak nendi?
Chacha   : Neng sokes (showcase).
Emak      : Apa iya, Jasmine?
Jasmine : Hla anu hlo, Jasmine mau susu.
Emak      : Tapi itu bukan susu milik Jasmine. Itu susu punya siapa? 
Chacha   : Punya Chacha.
Jasmine : Hla Jasmine minta.
Emak      : Kalau mau minta, harus bilang dulu, minta izin ke yang punya. Boleh atau enggak.
Chacha  : Ho'o hlo, Min. Itu susunya Chacha.
Kadut     : Ho'o, Min.
Jasmine : Kadut ojok melu melu! [nada bicaranya mulai meninggi, hampir mau marah]
Chacha   : Susune sampe tumpah tumpah hlo, Ma.
Kadut      : Ho'o yo, Cha.
Emak      : Memang Jasmine ambil susu mau buat apa?
Jasmine : Mau buat Energen.
Emak      : Energen cara bikinnya nggak pakai susu, Jasmine. 
Jasmine : Hla tapi ada gambar susunya hlo.
Emak      : Iya, tapi cara bikinnya pakai air panas, bukan susu.
Jasmine : Jasmine mau susu. 
Emak      : Kalau mau susu, bilang, jangan ambil milik orang lain. Itu namanya mencuri. Kalau mencuri itu dihukum sama Allah, tangannya dipotong. 
Jasmine : Punya Jasmine hlo.
Emak      : Bukan, itu susu bukan milik Jasmine, tapi milik Chacha. Tadi Jasmine ambil di rumahnya Chacha kan? Bukan di rumah Jasmine. Berarti itu susunya Chacha, bukan susunya Jasmine. 
Jasmine : Punya Jasmine!
Emak      : Ambil susunya, Cha. Kembalikan. 

Chacha berusaha ngambil susu kotak 1 liter yang tadi dituang Jasmine, lalu mengembalikan ke tempat semula. Kadut ikut serta. Jasmine turut membuntutinya, merengek, berusaha mencegah, tapi gagal. Lalu Jasmine balik lagi ke tempat emak yang lagi neneni berada. 

Emak      : Nanti biar Energennya dibikinkan papa.
Jasmine : Pakai susu.
Emak      : Enggak Jasmine.
Papa       : Nanti dibikinkan papa, Min. [nyaut dari kamar mandi]
Jasmine : Minta maaf sek. [sambil mengulurkan tangan mungilnya].
Emak      : Jasmine kesalahannya apa? 
Jasmine : Jasmine ngambil susunya Chacha. 
Emak      : Jangan diulangi ya. 
Jasmine : Ya. [berlalu pergi ke belakang] Ndang to Pa, dibikinkan Energen. 
Papa       : Sebentar, papa belum selesai.
Jasmine : Papa ngapain sih, kok lama?
Papa       : Papa pup.

Di kamar... 
Adek Hamish sudah tidur lelap. Jasmine menyusul naik sendirian. Sudah berganti pakaian. 

Emak      : Jasmine kenapa kok ganti baju?
Jasmine : Hla bajunya basah hlo. 
Emak      : Hla kenapa kok basah? 
Jasmine : Kena air
Emak      : [dalam batin : a'elah, basah tu ya karena kena air] Iya, kena air pas ngapain?
Jasmine : Jasmine tadi wijik. 
Emak      : Ooh. Hla mana Energenmu? 
Jasmine : Nanti dibawa papa ke atas. 
Emak      : Emang papa bilang gimana? 
Jasmine : Jasmine naik dulu, nanti Energennya dibawakan papa, gitu.
Emak      : Ooh. 
Jasmine : Ma, ayo dibacakan buku!
Emak      : Ya, pilih tiga aja. Ambil. 
Jasmine : Okay.

Sambil rebahan di kasur, dengan tiga buah buku yang antre untuk dibaca...

Jasmine : Ayo Ma, dibacakan.
Emak      : Ya, yang mana dulu?
Jasmine : Yang ini.
Emak      : Bismillahirahmanirahim. A-ku A-nak Ju-jur.
Jasmine : Aku Anak Jujur.
Emak      : Jasmine tadi ngambil susu milik Chacha nggak bilang bilang, ya? 
Jasmine : Iya. Jasmine pengen susu. 
Emak      : Iya, tapi nggak boleh ambil milik orang lain. Kalau pengen susu, minta ke papa. Kalau papa punya uang banyak, kita beli susu sendiri. Nggak boleh ngambil milik orang lain sembarangan. Jangan diulangi ya. 
Jasmine : Ya...
Emak      : Uuh. Anak baik, shalihah. [kecup kening Jasmine]
Jasmine : Ndang, Ma. Dibacakan. 
Emak      : Sebentar. Hlo, ini Saliha anak jujur. Jujur itu bilang yang sebenarnya. Nggak bohong. Jasmine sudah jujur tadi, ngaku kalau ngambil susunya Chacha. Memang Energennya ada gambar susunya? 
Jasmine : Ada. 
Emak      : Susu apa? 
Jasmine : Susu putih. 
Emak      : Sama apa? 
Jasmine : Sama dikasih coklat. 
Emak      : Masak sih? 
Jasmine : Iya, yang bulat bulat coklatnya. 
Emak      : Itu bukan gambar coklat, tapi gambar kurma.
Jasmine : Ndang to, Ma, gek dibacakan.
Emak      : [mulai bacakan buku request-an Jasmine]

Dan berakhirlah obrolan tentang Energen Kurma, digantikan dengan obrolan cerita tentang Sali dan Saliha. 

Semoga gegara Energen Kurma dan rutin dibacakan buku Hallo Balita, Jasmine bisa paham dan mengamalkan kalau ngambil barang milik orang lain tanpa izin itu tidak baik. Ada pelajaran yang bisa dipetik.

Sekian dan jangan begadang.

Read more...
separador

Thursday, July 29, 2021

Jasmine dan Sepeda (Part 3 - Roda Empat)

Seminggu menjelang lebaran Idul Fitri, Jasmine dijemput kakung dan utinya. Tinggal di Klaten, tanpa emak dan adeknya. Tumben anaknya bersedia. Malam hari pun nggak nangis nyariin emaknya. Tidur biasa tanpa banyak drama. 

Jasmine telah menemukan kenyamanannya tinggal jauh dari emak bapaknya. Digantikan oleh kakung dan utinya. Ditemani fasilitas berupa HP dan TV yang bisa akses youtube sepuasnya. Terlebih malah ditambah dibelikan sepeda baru roda empat, pink warnanya. Motif kuda poni, Jasmine sendiri yang memilihnya.

Di Karanganyar, Jasmine sudah punya sepeda roda tiga, warna pink juga, gambar upin ipin. Beli sepeda itu hasil dari nabung dan tambahan dari beberapa donatur, termasuk dari kakung dan uti. 

Di usia yang sudah 3 tahun ini, Jasmine memiliki pengalaman menaiki berbagai macam sepeda anak. Mulai dari sepeda roda dua (dengan bantuan orang dewasa) milik saudaranya hingga sepeda roda empat miliknya. Kendaraan pertama Jasmine adalah odong-odong AngryBird, yang anggaplah itu sebagai latihan keseimbangan. Balance bike, hahaha.

Dari sekian macam sepeda, Jasmine terlihat paling nyaman mengendarai sepeda roda empat. Tanya alasannya? Temukan jawabannya di link berikut aja, karena emak Jasmine sudah mulai capek ngetik banyak-banyak. 

https://www.instagram.com/s/aGlnaGxpZ2h0OjE3ODY4Nzk1NTAwMjkxNDY0?story_media_id=2515421471396897849_7120266069&utm_medium=copy_link

Sebagai referensi buat para ortu yang pingin belikan sepeda anak balitanya, tak ada salahnya simak penjelasan di atas yaa.
Read more...
separador

Wednesday, July 21, 2021

PPKM diperpanjang....

Lagi viral PPKM, yang katanya bertujuan buat memperkecil korban Covid yang tengah membuncah. Sejak diumumkannya aturan PPKM, masyarakat menjadi resah. Apalagi kini ada aturan lagi kalau PPKM diperpanjang, bikin suasana tambah parah. Ah, entahlah.. Yang jelas dampaknya besar banget ke rakyat kelas menengah ke bawah. Rakyat kelas atas pun tak luput kena masalah. Andaikan punya tempat tinggal selain di negara plesnamdua, rasa rasanya ingin sekali pindah. Dulu, yang kata Koes Plus tanah kita tanah surga, kini sudah kadaliwarsa kah?

Sempat terpikir, dimanakah tempat di negeri ini yang tak terpengaruh hebohnya keganasan Corona dan tetekmbengeknya? Adakah setitik tempat yang tetap aman, nyaman, dan tak terusik sedikitpun oleh ulah si virus dan antek anteknya? Kapankah penghuni dunia ini kembali sehat (pikirannya)?

Pernah terbesit ingin tinggal di desa saja yang bener bener masih alami, asri, mandiri, dan terkendali. Tak butuh internet maupun Wi-Fi. Tak perlu HP, radio, pun tipi. Hanya butuh makan, tempat tinggal, pakaian, dan kedamaian di hati. Cukup kebutuhan pokok bisa terpenuhi.

Meskipun tempat tinggal hanya berupa bilik bambu. Tanpa hiasan, tanpa lukisan tegantung di situ. Tak ada tanaman hias di halaman, hanya alang alang dan rumput liar yang tumbuh. Tak ada listrik sebagai penerang, yang ada hanyalah lilin sumbu. Tapi penghuninya tak pernah mengeluh.

Tak butuh berlembar lembar pakaian memenuhi lemari. Cukup dua jenis pakaian buat sehari hari. Pakaian dinas di sawah atau kandang dan pakaian ganti. Dengan mengusung prinsip, pantang dibuang sebelum robek sana sini. T ak perlu risau, takut ketinggalan mode fashion terkini.

Sawah ladang luas membentang. Padi, jagung, ketela, kentang, kacang kacangan, hingga berbagai macam sayuran. Semua terawat dengan alami, tanpa perlu obat obatan yang harganya gila gilaan. Ternak ternak aman di dalam kandang. Sesekali digembalakan di tanah yang lapang. Makan rumput hingga kenyang. Kehidupan damai dan tenang.

Pengen makan telur mata sapi, tinggal nyolong satu dari bawah pantat ayam. Eh, maksudnya dari jerami sarang ayam. Harus hati hati dan jeli, jangan sampai ketahuan dan membuat induk ayam murka. Karena kalau ketahuan, bisa kena patok itu tangan.

Pengen pepes ikan, tinggal mancing di sungai multifungsi. Selain buat tempat mencari ikan, juga bisa buat mandi dan mencuci. Bisa kau lihat ikan ikan berenang di dalam air yang bening. Tusuk dengan tombak atau jebak dengan bubu dijamin berhasil. Ikan segar pun siap dijadikan pepes yang gurih lagi nagih.

Pengen yang segar segar sayur bayam. Tinggal petik segenggam dari kebun belakang. Bawa ke dapur, masak dengan hati riang meskipun terkadang mata pedih meradang. Terkena asap dari tungku kayu yang apinya hampir padam. Harus segera ditiup menggunakan batang bambu kecil dengan segenap kekuatan hembusan. Ah, api di tungku kembali menyala hingga masakan matang dan siap dihidangkan.

Tak lupa buah pepaya ataupun pisang selalu ada di meja makan. Baik di meja maupun lesehan, makan bersama tetaplah paling menyengangkan. Sambil bercengkerama semua anggota keluarga, tanpa terdistraksi oleh dunia maya. Menikmati hidangan dengan penuh rasa syukur dan bahagia meskipun sederhana.

PPKM diperpanjang? Tak masalah. Di lumbung masih ada stok gabah. Masih ada ternak yang bisa diandalkan di kandang belakang rumah. Masih ada air bersih melimpah. Masih ada berbagai tanaman bermanfaat yang tumbuh dengan mudah. Masih bisa menambah asupan gizi dengan buah. Masih ada pasar yang menopang perputaran ekonomi agar tidak goyah. Dan yang pasti, anak anak tetap bisa berangkat sekolah.

PPKM diperpanjang? Coba bayangkan. Kalau tinggal di lingkungan kayak gitu mah tetap aman. Karena pada dasarnya, manusia tetap bisa hidup tenang kalau kebutuhan pokok sudah dalam genggaman. Yang membuat kehidupan kian terasa sulit itu kalau menuruti hawa nafsu, keinginan. Maka dari itu, selalu mohonlah rejeki berupa sehat dan iman. Karena harta kekayaan hanyalah rejeki nomor ke sekian.

*Renungan malam
**Ngetik sambil neneni Adek Hamish yang lagi demam

Read more...
separador

Tuesday, July 13, 2021

Korban

Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini, rasa rasanya begitu sepi, tak seperti dua tahun ke belakang. Kabar berita di mana mana hanya ramai menyiarkan si makhluk kecil bernama Corona yang udah banyak banget menelan korban jiwa. Bahkan sekarang Corona banyak variannya. Alfa, Beta, Delta, Gamma, Lambda, Kappa, Oppa. Eh! Yang terakhir tadi bukan. Besok bisa bisa kita kehabisan simbol nama buat varian barunya. Lalu simbol nama yang tersisa hanyalah Sin, Cos, dan Tangen aja.

Corona tak henti hentinya menggemparkan sebagian dunia. Padahal belahan dunia bagian Eropa dan Amerika sudah berganti digemparkan oleh euforia kemenangan Italia dan Argentina, bukan lagi oleh Corona. Lalu, kenapa di belahan dunia bagian Asia, terutama negara plesnamdua ini Corona masih merajalela, ya?

Kabar ibadah haji pun tak terdengar lagi gaungnya. Atau akunya aja yang gak pernah update acara warta berita? Biasanya kan setiap tahun ada calon jemaah haji yang "unik" untuk dijadikan isi berita. Tukang bubur naik haji, emak ingin ke Mekah, itu mah udah biasa. Yang luar biasa itu, pemulung naik haji atau tunawisma bisa korban sapi, misalnya. Sepertinya, berita unik menjelang Idul Adha tahun ini adalah tukang bakso yang menjadi korban keganasan penguasa. Eh!

Katanya, beli sembako bakalan kena pajak. Dan baru baru ini, demi genjot pemasukan negara, pedagang bakso juga bakal dikenakan pajak. Ya Tuhan... Entah besok sektor apa lagi yang bakalan dikorbankan untuk dikenai pajak. Badan ini aja udah berat, ditambah beban biaya hidup yang kian menanjak. Hidup di negara +62 gini amat, yak?!

Belum lagi, ada yang namanya PPKM. Apalah itu aku gak begitu paham. Aku taunya PPKN, yang pernah dulu dipake buat di sekolahan. Gunanya biar kita jadi makhluk yang beradab bukan malah biadab. Kalo jaman sekarang, PPKN nya udah diganti jadi PPKM kali ya. Katanya sih gunanya buat menekan korban kematian karena Corona. Tuh kan, lagi lagi isinya soal Corona. 

Cara kerja PPKM itu, nyuruh masyarakat pedagang kecil tutup lapaknya. Ada yang dibatasi jam operasionalnya, digusur paksa, didenda, bahkan dagangannya harus rela dikorbankan untuk disita. Sebagian jalan raya akses transpotasi dan distribusi utama ditutup juga. Lalu masyarakat cuma diminta mbegegek neng ngomah gak entuk ngapa ngapa dan gak entuk kemana mana. Gokil, kan?

Tapi tenang... Meskipun begitu, pemimpin negeri ini sudah berpesan "jangan sampai rakyat susah makan karena PPKM darurat."

Enggak kok Pak, kita gak sariawan ataupun sakit gigi sehingga menyebabkan kita susah makan. Kita cuman sakit hati dan sakit lambung karena sering menjadi korban janji jiwa. Eh, itu mah merk minuman! Sehingga tekanan darah dan asam lambung kian melambung tinggi tinggi sekali ii ii... Kiri kanan ku lihat saja, banyak rakyat sengsara...

Benarkah begitu, pemirsa?

Berjualan alias berdagang, di jaman sekarang itu gak gampang, gan! Penuh tantangan onak duri yang mengerikan. Yang tak mampu bertahan, bakalan terkorbankan, tumbang, tergerus jaman. Lagipula, hampir semua bidang jualan pakai cara online, mulai dari jualan sandang, pangan, perabotan, sampai jasa tambal ban. Yang gak ngerti cara jualan online, minggir aja kalian!

Hebat. Pesat sekali negeri ini mengalami kemajuan di bidang perdagangan. Keren sekali, bukan?

Anyway, siapa yang tahun ini bisa ikutan korban? Semoga senantiasa Allah memberikan kelapangan hati kita buat berkorban, meskipun dalam kondisi ekonomi lagi sempit maupun lapang. Korban kambing atau iyuran korban sapi, harga cuma dua jutaan kan? Kalau bener bener niat pasti Allah mampukan. Bayangkan, kita cuma disuruh korban kambing, bukan korbankan anak kayak Nabi Ibrahim, mosok gak mau berjuang?

Yang udah berjuang tapi ternyata uang belum cukup untuk menebus seharga seekor kambing doang, tetap putus asa, jangan semangat. Lah, kebalik kan malahan. Ya intinya tu jangan bersedih hati, karena Nabi udah berkorban buat kita juga, umatnya. Maka, bergembiralah...

Ada sapi di peternakan.
Daripada bersedih hati, ayo main tebak tebakan.

Unta. Unta apa yang paling bikin bahagia? 😊

Read more...
separador

Thursday, December 31, 2020

Pray for Indonesia

Did you feel that....??
👇
Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.
(QS. Al-An'am 6: Ayat 123)
.
.
Seandainya...
👇
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)
.
.
Masih ada harapan...
👇
Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.
(QS. Hud 11: Ayat 117)
.
.
Apakah kita mengira covid, bencana alam, dan kerusakan2 lain di bumi ini adalah fenomena alam belaka?
.
Katanya, negara +62 adl negara dg mayoritas muslim terbesar di dunia. Katanya juga, di saat hujan adl salah satu waktu mustajab buat berdoa.
Maka dari itu, mbok ayo semua  muslim warga negara Indonesia raya ini kita berdoa utk keselamatan, kerukunan, dan kebaikan kita semua.
🌧️🌧️🌧️
🤲🤲🤲

Read more...
separador

Sunday, July 12, 2020

Jasmine dan Sepeda (Part 1 - Roda Dua)

Untuk ke sekian kalinya, tidur siangku bagaikan sinetron yg kebanyakan iklannya. Sebentar2 terbangun. Aku ga menyukai hal itu krn membuat kepalaku pening. Dan, hey, sekarang sudah bukan siang lagi. Matahari hampir tenggelam.

My 2-year-old punya hobi yg sangat ia tekuni, yaitu main air, menjadi salah satu alasan kenapa aku ga bisa tidur siang dg tenang. Hobinya itu membuat aku harus  sering2 mengechecknya. Dia juga punya basecamp favorite -- selain kamar mandi, yaitu 'mburi omah', yg dia selalu ingin main ke sana.

Pas lagi enak2nya tidur, tau2 ada yg datang dg suara yg terdengar panik. Terdengar jg suara tangisan anak kecil yg aku sangat mengenali suara itu.
"Mbak Ika, Jasmine tibo!"
Mak gragap, aku segera bangkit. "Jasmine!"

Innalillahi...!! 😨😱
Segera ku ambil alih anakku dari orang yg menggendong dan mengantarkannya pulang. Ku lihat ada luka di pelipis dekat mata anakku, sedikit kotor terkena pasir. Agak ngilu melihat lukanya, tp aku mencoba utk bersikap setenang mungkin.

Beberapa orang turut datang, pengen tau ada apa dan kenapa-nya. Ada yg bilang kalo Jasmine habis jatoh pas naik sepeda. Eh, Jasmine naik sepeda? Sepedanya siapa? Sama siapa? Gimana kejadiannya? Kok bisa? Dan bla bla black sheep have you any wool? Yes Sir, yes Sir, three bags full. Wkwkwk... 😜

Eh, anaknya terluka kok malah becanda!

Tenang, tenang para pemirsah yg budiman dan budiwati. Ini hlo, anakku lagi nangis krn kesakitan -- atau malah nangisnya krn kaget dan ketakutan? Aku ga terlalu peduli sama apa yg jd pertanyaan dan dugaan orang2 tentang gimana kronologi jatohnya anakku dari sepeda. Yang aku pedulikan saat itu hanyalah anakku dan perasaannya. Jasmine pasti shock, ketakutan, dan merasakan sakit tentunya. Kubersihkan lukanya dg kapas dan air (ga punya revanol atau cairan pembersih luka sejenisnya). Anaknya menangis keras.

Ada yg menyalahkan si korban yg terluka, ada yg menyalahkan si pemilik sepeda, ada yg menyalahkan sepedanya, ada yg menyalahkan situasinya, atau mungkin diam2 ada yg menyalahkan emaknya? Wkwkwk... 😆🙈
Terlepas dari itu semua, terimakasih atas segala simpati dan perhatiannya.

Yang anakku butuhkan adalah sang penenang. And guess who or what is it? Yes. Me. I am, her mother. Aku gendong dia sambil usap2 punggungnya. Ku sibakkan anak rambut yg menutupi dahinya. Ku ciumi ubun2nya. Now you are save, darling. I'm here. Sebentar kuabaikan perut yg makin membuncit ini meskipun rasanya bagaikan menggendong dua anak sekaligus.

Jasmine masih terus menangis...
"Iya Nak. Mama tau, ini rasanya sakit. Dikasih obat yaa... Biar lekas sembuh..."
Anakku bersikeras ga mau diolesi obat (pemberian om-nya). Malah tambah kenceng nangisnya.
"Tadi Jasmine kaget ya pas jatoh? Jadinya nangis... "
Setelah kuberi minum, kubawa dia sedikit menjauh dari orang2, berharap itu akan membuatnya lebih tenang. Tidak ada lagi kata2 yg keluar dari cangkem ini, yg ada hanyalah belaian dan sentuhan. Tak lama kemudian, Jasmine berhenti dari tangisnya.

Setelah ketegangannya berkurang, berangsur angsur Jasmine mulai ceria lagi, meskipun lukanya belum mau diolesi obat. It's oke, aku ga memaksanya harus diobati sekarang. Toh cuma luka ringan, bukan luka berat yg kalo ga segera ditangani bisa mengancam nyawanya. Wajar anak kecil naik sepeda trus jatoh. Apalagi Jasmine yg sama sekali belum bisa naik sepeda dan ga punya sepeda.

🧕: Dulu, mama pas kecil jg pernah jatoh dr sepeda. Kaki mama luka. Berdarah. Sama kayak Jasmine. Mama jg nangis, soalnya sakit.
👧: Iya, ya Ma. Tama kek Jasmine. Bedalah. (Sama kayak Jasmine. Berdarah).
🧕: Jasmine besok naik sepedanya yg roda tiga dulu aja yaa. Yg aman buat anak kecil kayak Jasmine. Kalo sepeda roda dua buat anak yg udah mau besar kayak Caca. Besok Jasmine beli sepedanya yg ada gambar burungnya?
👧: Moh bulung, yg ada engibetnya (yg ada angrybird-nya).
🧕: Ya. Yg ada lampunya juga? 
👧: Iya.
🧕: Besok dilihat dulu ya, di tokonya ada apa enggak.
👧: Ya.

Begitulah anak kecil. Meski gampang nangis, tapi juga gampang lekas hepi. Meski terluka dan merasakan sakit, tapi bisa segera bangkit dan ceria lagi. Setalah Jasmine mandi, bersih, seger nan wangi, doi kembali main, dan cerewet seperti tidak terjadi apa2 sebelumnya.

Nih, anaknya malah minta difotoin 👇😁

Read more...
separador

Followers