Friday, August 13, 2021
Mama, minta uang!
Monday, August 9, 2021
Gegara Energen Kurma
Thursday, July 29, 2021
Jasmine dan Sepeda (Part 3 - Roda Empat)
Wednesday, July 21, 2021
PPKM diperpanjang....
Lagi viral PPKM, yang katanya bertujuan buat memperkecil korban Covid yang tengah membuncah. Sejak diumumkannya aturan PPKM, masyarakat menjadi resah. Apalagi kini ada aturan lagi kalau PPKM diperpanjang, bikin suasana tambah parah. Ah, entahlah.. Yang jelas dampaknya besar banget ke rakyat kelas menengah ke bawah. Rakyat kelas atas pun tak luput kena masalah. Andaikan punya tempat tinggal selain di negara plesnamdua, rasa rasanya ingin sekali pindah. Dulu, yang kata Koes Plus tanah kita tanah surga, kini sudah kadaliwarsa kah?
Sempat terpikir, dimanakah tempat di negeri ini yang tak terpengaruh hebohnya keganasan Corona dan tetekmbengeknya? Adakah setitik tempat yang tetap aman, nyaman, dan tak terusik sedikitpun oleh ulah si virus dan antek anteknya? Kapankah penghuni dunia ini kembali sehat (pikirannya)?
Pernah terbesit ingin tinggal di desa saja yang bener bener masih alami, asri, mandiri, dan terkendali. Tak butuh internet maupun Wi-Fi. Tak perlu HP, radio, pun tipi. Hanya butuh makan, tempat tinggal, pakaian, dan kedamaian di hati. Cukup kebutuhan pokok bisa terpenuhi.
Meskipun tempat tinggal hanya berupa bilik bambu. Tanpa hiasan, tanpa lukisan tegantung di situ. Tak ada tanaman hias di halaman, hanya alang alang dan rumput liar yang tumbuh. Tak ada listrik sebagai penerang, yang ada hanyalah lilin sumbu. Tapi penghuninya tak pernah mengeluh.
Tak butuh berlembar lembar pakaian memenuhi lemari. Cukup dua jenis pakaian buat sehari hari. Pakaian dinas di sawah atau kandang dan pakaian ganti. Dengan mengusung prinsip, pantang dibuang sebelum robek sana sini. T ak perlu risau, takut ketinggalan mode fashion terkini.
Sawah ladang luas membentang. Padi, jagung, ketela, kentang, kacang kacangan, hingga berbagai macam sayuran. Semua terawat dengan alami, tanpa perlu obat obatan yang harganya gila gilaan. Ternak ternak aman di dalam kandang. Sesekali digembalakan di tanah yang lapang. Makan rumput hingga kenyang. Kehidupan damai dan tenang.
Pengen makan telur mata sapi, tinggal nyolong satu dari bawah pantat ayam. Eh, maksudnya dari jerami sarang ayam. Harus hati hati dan jeli, jangan sampai ketahuan dan membuat induk ayam murka. Karena kalau ketahuan, bisa kena patok itu tangan.
Pengen pepes ikan, tinggal mancing di sungai multifungsi. Selain buat tempat mencari ikan, juga bisa buat mandi dan mencuci. Bisa kau lihat ikan ikan berenang di dalam air yang bening. Tusuk dengan tombak atau jebak dengan bubu dijamin berhasil. Ikan segar pun siap dijadikan pepes yang gurih lagi nagih.
Pengen yang segar segar sayur bayam. Tinggal petik segenggam dari kebun belakang. Bawa ke dapur, masak dengan hati riang meskipun terkadang mata pedih meradang. Terkena asap dari tungku kayu yang apinya hampir padam. Harus segera ditiup menggunakan batang bambu kecil dengan segenap kekuatan hembusan. Ah, api di tungku kembali menyala hingga masakan matang dan siap dihidangkan.
Tak lupa buah pepaya ataupun pisang selalu ada di meja makan. Baik di meja maupun lesehan, makan bersama tetaplah paling menyengangkan. Sambil bercengkerama semua anggota keluarga, tanpa terdistraksi oleh dunia maya. Menikmati hidangan dengan penuh rasa syukur dan bahagia meskipun sederhana.
PPKM diperpanjang? Tak masalah. Di lumbung masih ada stok gabah. Masih ada ternak yang bisa diandalkan di kandang belakang rumah. Masih ada air bersih melimpah. Masih ada berbagai tanaman bermanfaat yang tumbuh dengan mudah. Masih bisa menambah asupan gizi dengan buah. Masih ada pasar yang menopang perputaran ekonomi agar tidak goyah. Dan yang pasti, anak anak tetap bisa berangkat sekolah.
PPKM diperpanjang? Coba bayangkan. Kalau tinggal di lingkungan kayak gitu mah tetap aman. Karena pada dasarnya, manusia tetap bisa hidup tenang kalau kebutuhan pokok sudah dalam genggaman. Yang membuat kehidupan kian terasa sulit itu kalau menuruti hawa nafsu, keinginan. Maka dari itu, selalu mohonlah rejeki berupa sehat dan iman. Karena harta kekayaan hanyalah rejeki nomor ke sekian.
*Renungan malam
**Ngetik sambil neneni Adek Hamish yang lagi demam
Tuesday, July 13, 2021
Korban
Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini, rasa rasanya begitu sepi, tak seperti dua tahun ke belakang. Kabar berita di mana mana hanya ramai menyiarkan si makhluk kecil bernama Corona yang udah banyak banget menelan korban jiwa. Bahkan sekarang Corona banyak variannya. Alfa, Beta, Delta, Gamma, Lambda, Kappa, Oppa. Eh! Yang terakhir tadi bukan. Besok bisa bisa kita kehabisan simbol nama buat varian barunya. Lalu simbol nama yang tersisa hanyalah Sin, Cos, dan Tangen aja.
Corona tak henti hentinya menggemparkan sebagian dunia. Padahal belahan dunia bagian Eropa dan Amerika sudah berganti digemparkan oleh euforia kemenangan Italia dan Argentina, bukan lagi oleh Corona. Lalu, kenapa di belahan dunia bagian Asia, terutama negara plesnamdua ini Corona masih merajalela, ya?
Kabar ibadah haji pun tak terdengar lagi gaungnya. Atau akunya aja yang gak pernah update acara warta berita? Biasanya kan setiap tahun ada calon jemaah haji yang "unik" untuk dijadikan isi berita. Tukang bubur naik haji, emak ingin ke Mekah, itu mah udah biasa. Yang luar biasa itu, pemulung naik haji atau tunawisma bisa korban sapi, misalnya. Sepertinya, berita unik menjelang Idul Adha tahun ini adalah tukang bakso yang menjadi korban keganasan penguasa. Eh!
Katanya, beli sembako bakalan kena pajak. Dan baru baru ini, demi genjot pemasukan negara, pedagang bakso juga bakal dikenakan pajak. Ya Tuhan... Entah besok sektor apa lagi yang bakalan dikorbankan untuk dikenai pajak. Badan ini aja udah berat, ditambah beban biaya hidup yang kian menanjak. Hidup di negara +62 gini amat, yak?!
Belum lagi, ada yang namanya PPKM. Apalah itu aku gak begitu paham. Aku taunya PPKN, yang pernah dulu dipake buat di sekolahan. Gunanya biar kita jadi makhluk yang beradab bukan malah biadab. Kalo jaman sekarang, PPKN nya udah diganti jadi PPKM kali ya. Katanya sih gunanya buat menekan korban kematian karena Corona. Tuh kan, lagi lagi isinya soal Corona.
Cara kerja PPKM itu, nyuruh masyarakat pedagang kecil tutup lapaknya. Ada yang dibatasi jam operasionalnya, digusur paksa, didenda, bahkan dagangannya harus rela dikorbankan untuk disita. Sebagian jalan raya akses transpotasi dan distribusi utama ditutup juga. Lalu masyarakat cuma diminta mbegegek neng ngomah gak entuk ngapa ngapa dan gak entuk kemana mana. Gokil, kan?
Tapi tenang... Meskipun begitu, pemimpin negeri ini sudah berpesan "jangan sampai rakyat susah makan karena PPKM darurat."
Enggak kok Pak, kita gak sariawan ataupun sakit gigi sehingga menyebabkan kita susah makan. Kita cuman sakit hati dan sakit lambung karena sering menjadi korban janji jiwa. Eh, itu mah merk minuman! Sehingga tekanan darah dan asam lambung kian melambung tinggi tinggi sekali ii ii... Kiri kanan ku lihat saja, banyak rakyat sengsara...
Benarkah begitu, pemirsa?
Berjualan alias berdagang, di jaman sekarang itu gak gampang, gan! Penuh tantangan onak duri yang mengerikan. Yang tak mampu bertahan, bakalan terkorbankan, tumbang, tergerus jaman. Lagipula, hampir semua bidang jualan pakai cara online, mulai dari jualan sandang, pangan, perabotan, sampai jasa tambal ban. Yang gak ngerti cara jualan online, minggir aja kalian!
Hebat. Pesat sekali negeri ini mengalami kemajuan di bidang perdagangan. Keren sekali, bukan?
Anyway, siapa yang tahun ini bisa ikutan korban? Semoga senantiasa Allah memberikan kelapangan hati kita buat berkorban, meskipun dalam kondisi ekonomi lagi sempit maupun lapang. Korban kambing atau iyuran korban sapi, harga cuma dua jutaan kan? Kalau bener bener niat pasti Allah mampukan. Bayangkan, kita cuma disuruh korban kambing, bukan korbankan anak kayak Nabi Ibrahim, mosok gak mau berjuang?
Yang udah berjuang tapi ternyata uang belum cukup untuk menebus seharga seekor kambing doang, tetap putus asa, jangan semangat. Lah, kebalik kan malahan. Ya intinya tu jangan bersedih hati, karena Nabi udah berkorban buat kita juga, umatnya. Maka, bergembiralah...
Ada sapi di peternakan.
Daripada bersedih hati, ayo main tebak tebakan.
Unta. Unta apa yang paling bikin bahagia? 😊
Thursday, December 31, 2020
Pray for Indonesia
Did you feel that....??
👇
Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.
(QS. Al-An'am 6: Ayat 123)
.
.
Seandainya...
👇
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)
.
.
Masih ada harapan...
👇
Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.
(QS. Hud 11: Ayat 117)
.
.
Apakah kita mengira covid, bencana alam, dan kerusakan2 lain di bumi ini adalah fenomena alam belaka?
.
Katanya, negara +62 adl negara dg mayoritas muslim terbesar di dunia. Katanya juga, di saat hujan adl salah satu waktu mustajab buat berdoa.
Maka dari itu, mbok ayo semua muslim warga negara Indonesia raya ini kita berdoa utk keselamatan, kerukunan, dan kebaikan kita semua.
🌧️🌧️🌧️
🤲🤲🤲
Sunday, July 12, 2020
Jasmine dan Sepeda (Part 1 - Roda Dua)
Untuk ke sekian kalinya, tidur siangku bagaikan sinetron yg kebanyakan iklannya. Sebentar2 terbangun. Aku ga menyukai hal itu krn membuat kepalaku pening. Dan, hey, sekarang sudah bukan siang lagi. Matahari hampir tenggelam.
My 2-year-old punya hobi yg sangat ia tekuni, yaitu main air, menjadi salah satu alasan kenapa aku ga bisa tidur siang dg tenang. Hobinya itu membuat aku harus sering2 mengechecknya. Dia juga punya basecamp favorite -- selain kamar mandi, yaitu 'mburi omah', yg dia selalu ingin main ke sana.
Pas lagi enak2nya tidur, tau2 ada yg datang dg suara yg terdengar panik. Terdengar jg suara tangisan anak kecil yg aku sangat mengenali suara itu.
"Mbak Ika, Jasmine tibo!"
Mak gragap, aku segera bangkit. "Jasmine!"
Innalillahi...!! 😨😱
Segera ku ambil alih anakku dari orang yg menggendong dan mengantarkannya pulang. Ku lihat ada luka di pelipis dekat mata anakku, sedikit kotor terkena pasir. Agak ngilu melihat lukanya, tp aku mencoba utk bersikap setenang mungkin.
Beberapa orang turut datang, pengen tau ada apa dan kenapa-nya. Ada yg bilang kalo Jasmine habis jatoh pas naik sepeda. Eh, Jasmine naik sepeda? Sepedanya siapa? Sama siapa? Gimana kejadiannya? Kok bisa? Dan bla bla black sheep have you any wool? Yes Sir, yes Sir, three bags full. Wkwkwk... 😜
Eh, anaknya terluka kok malah becanda!
Tenang, tenang para pemirsah yg budiman dan budiwati. Ini hlo, anakku lagi nangis krn kesakitan -- atau malah nangisnya krn kaget dan ketakutan? Aku ga terlalu peduli sama apa yg jd pertanyaan dan dugaan orang2 tentang gimana kronologi jatohnya anakku dari sepeda. Yang aku pedulikan saat itu hanyalah anakku dan perasaannya. Jasmine pasti shock, ketakutan, dan merasakan sakit tentunya. Kubersihkan lukanya dg kapas dan air (ga punya revanol atau cairan pembersih luka sejenisnya). Anaknya menangis keras.
Ada yg menyalahkan si korban yg terluka, ada yg menyalahkan si pemilik sepeda, ada yg menyalahkan sepedanya, ada yg menyalahkan situasinya, atau mungkin diam2 ada yg menyalahkan emaknya? Wkwkwk... 😆🙈
Terlepas dari itu semua, terimakasih atas segala simpati dan perhatiannya.
Yang anakku butuhkan adalah sang penenang. And guess who or what is it? Yes. Me. I am, her mother. Aku gendong dia sambil usap2 punggungnya. Ku sibakkan anak rambut yg menutupi dahinya. Ku ciumi ubun2nya. Now you are save, darling. I'm here. Sebentar kuabaikan perut yg makin membuncit ini meskipun rasanya bagaikan menggendong dua anak sekaligus.
Jasmine masih terus menangis...
"Iya Nak. Mama tau, ini rasanya sakit. Dikasih obat yaa... Biar lekas sembuh..."
Anakku bersikeras ga mau diolesi obat (pemberian om-nya). Malah tambah kenceng nangisnya.
"Tadi Jasmine kaget ya pas jatoh? Jadinya nangis... "
Setelah kuberi minum, kubawa dia sedikit menjauh dari orang2, berharap itu akan membuatnya lebih tenang. Tidak ada lagi kata2 yg keluar dari cangkem ini, yg ada hanyalah belaian dan sentuhan. Tak lama kemudian, Jasmine berhenti dari tangisnya.
Setelah ketegangannya berkurang, berangsur angsur Jasmine mulai ceria lagi, meskipun lukanya belum mau diolesi obat. It's oke, aku ga memaksanya harus diobati sekarang. Toh cuma luka ringan, bukan luka berat yg kalo ga segera ditangani bisa mengancam nyawanya. Wajar anak kecil naik sepeda trus jatoh. Apalagi Jasmine yg sama sekali belum bisa naik sepeda dan ga punya sepeda.
🧕: Dulu, mama pas kecil jg pernah jatoh dr sepeda. Kaki mama luka. Berdarah. Sama kayak Jasmine. Mama jg nangis, soalnya sakit.
👧: Iya, ya Ma. Tama kek Jasmine. Bedalah. (Sama kayak Jasmine. Berdarah).
🧕: Jasmine besok naik sepedanya yg roda tiga dulu aja yaa. Yg aman buat anak kecil kayak Jasmine. Kalo sepeda roda dua buat anak yg udah mau besar kayak Caca. Besok Jasmine beli sepedanya yg ada gambar burungnya?
👧: Moh bulung, yg ada engibetnya (yg ada angrybird-nya).
🧕: Ya. Yg ada lampunya juga?
👧: Iya.
🧕: Besok dilihat dulu ya, di tokonya ada apa enggak.
👧: Ya.
Begitulah anak kecil. Meski gampang nangis, tapi juga gampang lekas hepi. Meski terluka dan merasakan sakit, tapi bisa segera bangkit dan ceria lagi. Setalah Jasmine mandi, bersih, seger nan wangi, doi kembali main, dan cerewet seperti tidak terjadi apa2 sebelumnya.
Nih, anaknya malah minta difotoin 👇😁
