Showing posts with label True Story of Mine. Show all posts
Showing posts with label True Story of Mine. Show all posts

Tuesday, December 7, 2021

Biarkan Anakmu Sesekali Merasakan Keweca

Aku tinggal di lingkungan yang banyak anak anaknya. Setiap hari disuguhi dengan keriuhan, gelak tawa, teriakan teriakan, hingga pecah tangis anak anak. Sudah biasa. Toh, aku juga memiliki anak kecil.

Anak anak di lingkunganku, semuanya adalah saudara, dari keturunan orang tua dari ibu mertua. Ibu mertuaku adalah anak bungsu dari empat bersaudara, yang semuanya perempuan. Ibu mertua dan ketiga kakaknya tinggal di satu pekarangan. Berlanjut hingga ke anak cucunya. Hanya ada beberapa yang tinggal di luar pekarangan, tapi tidak begitu jauh. 

Aku senang, menjadi bagian dari keluarga suamiku yang banyak dan kompak. Bahkan, ada tetangga bilang kalau keluarga kami ini ternak anak. Ibarat setiap tahun, ada aja yang melahirkan. 

Ada tiga anak yang sepantaran usianya dengan anak pertamaku, yaitu Zidan, Arkha, dan Karina. Arkha adalah keponakanku. Usia anak anak itu sekitar 3,5 hingga 4 tahunan.

Pagi ini, pagi yang sama seperti sebelum sebelumya, kami berkerumun di penjual sayur keliling, Mbah Mariyem, namanya. Mbah Mariyem biasa mangkal di sini sekitar jam setengah delapan. Hanya Hari Minggu yang tidak jualan, libur. 

Bisa dipastikan, selain keramaian emak emak, tak ketinggalan juga anak anak. Minta jajan ini itu. Berebut minta dilayani duluan. Berebut ambil jajanan, siapa yang mengambil duluan, dia yang kebagian. Karena terkadang sudah kehabisan. Jajanan yang banyak diminati anak anak adalah susu kedele, snack, dan permen lolipop limaratusan.

Zidan dan Arkha, adalah yang paling sering berebut jajan. Terkadang salah satu di antara keduanya sampai menangis karena tidak kebagian jajan yang diinginkan. Anakku pun kadang juga berebut dengan salah satu dari mereka. 

"Ibuk, mau susu kedele!", pinta Zidan yang sedikit berteriak, saat melihat Arkha menyeruput susu kedele dari bungkus plastiknya menggunakan sedotan. Zidan datang bersamaan dengan ibunya. Mereka memang sedikit terlambat, hingga kehabisan susu kedele. 

"Habis, Le." Jawab Mbah Mariyem setelah memastikan ketersediaan susu kedele di bronjongnya. 

"Aaaa, susu kedele! Mau susu kedeleeee!" Zidan semakin keras berteriak hingga mengalihkan perhatian para pembeli lainnya. Semua mata tertuju pada anak laki laki, bungsu dari tiga bersaudara itu. 

Sering seperti itu. Aku sudah terbiasa. Namanya juga anak anak. Wajar, bukan? 

"Sudah habis. Besok lagi." Sang ibu mencoba memberi pengertian. 

"Sekaraaang! Susu kedeleee! Huaaaa!" Zidan semakin menjadi, sambil memandangi Arkha, dia mulai mengamuk. Memukuli ban sepeda Mbah Mariyem. Merobohkan kursi plastik yang tak bersalah. Hingga memukuli ibunya. Ibunya hanya diam dan beberapa kali menghindar, tapi tidak barusaha mencegah tangan anaknya mendarat di tubuhnya. 

"Habis, Zi. Besok lagi." Kata sebagian orang yang masih berada di situ. 

"Mas Zidan dikasih, Le." Melihat tingkah Zidan yang heboh, ibu Arkha berinisiatif meminta anaknya untuk berbagi. 

"Gak mau!" Arkha menjauh. 

"Jangan pelit pelit, besok kalo main ke rumah Mas Zidan, gak dipinjemi mainan hlo." Ibunya mulai mengancam, setelah perintahnya ditolak oleh anaknya. 

Aku sedikit menaruh perhatian pada dua ibu dan dua anak itu. Kuperhatikan saja, tanpa ikut angkat bicara. 

"Mas Zidan dikasih sedikit ya, Arkha" Ibu Zidan juga berusaha merayu agar Arkha bersedia membagi susu kedele di tangannya yang kini tinggal separuh.

"Gak mau." Arkha tetap pada pendiriannya. 

"Awas besok kamu gak diajak jalan jalan lagi sama Mas Zidan." Ibu Arkha mengungkit kebaikan yang pernah keluarga Zidan lakukan, berharap agar anaknya gantian berbuat baik pada temannya itu. Membagi susu kedele miliknya. 

"Besok kamu gak tak pinjemi mainan. Besok kalo aku punya makanan, kamu gak tak kasih. Gak diajak ke mall. Kapok!" Anak yang tahun depan masuk TK itu mengungkapkan kekesalannya dengan memberi ancaman pada Arkha juga. Tapi yang diancam tetap diam saja. 

"Ibuk, ayo beli jajan di Mbak Mila!" lanjutnya, setelah gagal mendapatkan apa yang dia inginkan. 

"Arkha pelit!" imbuh Zidan, seraya menarik narik daster ibunya untuk segera pergi ke warung Mbak Mila.

Ibu Zidan mau tidak mau menuruti permintaan anaknya, sebagai solusi agar anaknya tidak merengek dan mengamuk lagi. Mengingat dia sudah lelah dengan segala rengekan anaknya beberapa hari terakhir ini. 

"Minta ini itu, marah, ngamuk, bikin pusing saja!" Keluh ibu Zidan pada satu kesempatan. 

Ya. Orang tua Zidan adalah tipe orang tua yang mudah mengabulkan keinginan anak, tidak tega dengan tangisan anak, tidak tahan dengan amukan anak. 

Pernah aku menyarankan ibu Zidan untuk tidak selalu menuruti semua keinginan anaknya, karena itu juga demi kebaikan diri anak kelak. Tapi sepertinya ibu Zidan lebih tidak tahan melihat anaknya menangis dan mengamuk. Lagipula, orang tua Zidan tergolong orang berada, sehingga mampu menyediakan apa yang anaknya inginkan, meskipun awalnya dibikin kesal dulu oleh perangai anaknya. 

Meskipun begitu, Zidan termasuk anak yang mudah untuk berbagi, tanpa banyak paksaan dan ancaman. Misalkan dia memiliki mainan baru, atau makanan, dan ada anak lain yang kepingin, Zidan mau meminjamkan mainannya barang sebentar, atau membagi sedikit makanan miliknya, demi untuk temannya bisa merasakan.

Selang beberapa menit, ibu dan anak itu kembali dari warung Mbak Mila, terlihat dia membawa beberapa jenis jajanan dan satu unit bus dalam bentuk mainan, yang tentunya tidak dijual oleh Mbah Mariyem. 

Anak itu memamerkan jajanan dan mainan barunya pada Arkha. Balas dendam nih ceritanya. Bisa dipastikan, Arkha akan merengek pada ibunya karena ingin memiliki mainan yang sama seperti yang dibeli Zidan. Tapi sayang, ibu Arkha tidak langsung membelikannya. Lalu pecahlah amukan dan tangisan si Arkha. 

Sering begitu. Aku sudah terbiasa. Namanya juga anak anak. Wajar, bukan?

Satu anak memiliki mainan baru, dipamerkan pada anak lain. Biasanya, dengan jumawa dia akan bilang begini, "Aku punya mainan baruuu, kamu apa punya?" 

Meronta rontalah jiwa kompetisi anak yang dipameri. Dia bakalan minta ke orang tuanya dibelikan mainan yang sama, atau yang lebih bagus daripada mainan yang temannya pamerkan. 

Berulang ulang, begitu terus siklusnya. Menyebabkan menumpuknya berbagai jenis mainan, mulai dari yang masih baru dan bagus, hingga yang sudah usang dan rusak, tapi dibuang juga sayang. Jadilah sebagai koleksi barang rongsokan.  

Itulah yang terjadi di rumah Arkha. Dua kantong plastik besar ditambah satu keranjang laundry, sebagai wadah mainan, itu pun masih kurang. Ada beberapa mainan besar yang tidak muat diwadahi kantong plastik, teronggok di lantai. 

***

Di lain waktu, saat tidak ada kesibukan urusan perdapuran, kami ada kesempatan untuk sekedar bersantai lebih lama. Para emak ngobrol, anak anaknya bermain. Hanya ada Arkha dan Zidan yang bermain di tempat kami ngobrol. Anakku bermain di rumah Karina, bersama teman teman perempuan yang lainnya. 

Tiba tiba... Arkha menangis. Mengadu, habis dipukul Zidan. Biasalah, berebut mainan. 

"Zidan nakaaal. Hwaaaa! Arkha marah marah dan menangis. Dia menarik mobil mobilan miliknya. Mendekat ke arah di mana ibunya duduk.

Yah, begitulah. Karena asyiknya ngobrol, terkadang kami lengah saat mengawasi anak anak bermain, ada saja salah satu yang nangis. 

"Ada apa kok nangis? Rebutan mainan?" Tanya ibu Arkha. 

"Zidan nakaaal" Arkha masih menangis. 

"Sudah, gakpapa. Main bareng lagi sana." Respon ibu Arkha sambil mengusap air mata anaknya. 

Ibu Zidan juga tampak menasihati anaknya, "Zidan, kan sudah punya mainan kayak gitu. Mobil mobilanmu banyak. Punyamu diambil coba, bawa sini. Buat main bareng."

Tangis Arkha mulai reda. Zidan pergi ke rumahnya untuk mengambil mobil mobilan miliknya. 

Mobil mobilan Arkha baru beli beberapa hari yang lalu. Masih terlihat bagus, hanya saja beberapa sticker yang menghiasi mainan itu sudah dilepasi oleh pemiliknya. Tunggu saja, tak lama lagi pasti giliran rodanya yang bakal lepas. Aku yakin itu. 

Zidan datang membawa dua mainan mobil mobilannya. Ukurannya sedikit lebih kecil daripada mobil mobilan Arkha. Di rumahnya, sebenarnya Zidan juga memiliki banyak mainan. Bahkan lebih banyak dan lebih bagus daripada mainan Arkha. Sebagian besar mainan yang sudah rusak, dibuang oleh ayahnya. Tapi, jika kuperhatikan, anak itu selalu merasa mainan temannya lebih menarik daripada mainannya sendiri. 

Beberapa mainan Zidan juga terkadang tertinggal di rumahku, di rumah Arkha, atau di rumah teman yang lain. Ada yang dicari, ada pula yang dibiarkan hingga lama, tidak peduli. Jadi, aku atau ibunya Arkha yang mengembalikan ke tempat pemiliknya. 

Apakah anak laki laki memang begitu ya  sifatnya? Entahlah... Aku belum pengalaman membesarkan anak laki laki hingga seusia mereka. 

Zidan mendekatkan dua mobil mobilannya ke mobil mobilan Arkha. Bukan bermaksud untuk bermain bersama. Tapi untuk bertukar mainan. 

"Aku pinjam mobil mobilanmu, kamu main mobil mobilanku, Kha." Kata Zidan, matanya tak lepas dari mainan milik anak berbadan gempal itu. 

"Gak mau! Ini punyaku hlo." Aku paham yang dirasakan Arkha. Memainkan mainan yang masih baru memang lebih menyenangkan.

"Ibuuuk, ayo beli mobil mobilan kayak punya Arkha!" Rengek Zidan pada ibunya, sambil tangannya menunjuk nunjuk ke arah mainan Arkha. Ibunya bergeming. Mungkin bingung juga harus bersikap bagaimana. 

"Mas Zidan dipinjami, Le. Gantian. Kamu pakai mobilnya Mas Zidan. Biar Mas Zidan pinjam mobilmu sebentar." Ibu Arkha mencoba membujuk anaknya. 

Aku hanya memperhatikan, tidak berkomentar. 

"Gak mau, nanti dibawa pulang Zidan hlo!" Arkha belum merelakan mainannya disentuh orang lain. 

"Enggak. Cuma dipinjam, main di sini. Nanti dikembalikan. Pinjam ya, Arkha?" Akhirnya ibu Zidan berani angkat bicara. 

"Nanti dibawa pulang..." Arkha sedikit ragu. 

"Eh, budhe punya permen, Arkha mau?" kata ibu Zidan, tiba tiba.

"Hlo dikasih permen budhe, mau gak?" ibu Arkaa menambahkan. 

"Budhe kasih permen, tapi Mas Zidan dipinjami mobilnya, ya?" ibu Zidan mencoba negosiasi seraya mengeluarkan permen lolipop, jajanan Zidan yang belum sempat dimakan. 

Arkha kelihatan sejenak berpikir. 

Sesaat kemudian dia mengangguk. Deal.  Mainan mobil mobilannya ditukar dengan sebiji permen lolipop, bonus beberapa biji permen kecil. Dan dia bersedia main dengan mobil mobilan milik Zidan. 

Wow. Terkabullah keinginan Zidan dengan mudahnya.

Lalu dua anak itu bermain bersama dan emak mereka kembali ngobrol bersamaku. 

***

Tadi siang, saat aku momong Hamzah, si bungsu, membawa serta mainan piano kecil milik Arkha. Anakku kegirangan memencet mencet tuts mainan itu. Lalu tiba tiba Zidan datang. Sepertinya dia juga tertarik pada mainan yang dibawa anakku. Beberapa kali aku lihat dia ingin mengambil mainan itu dari anakku, tapi mungkin tidak berani karena ada aku. 

Kubilang pada Zidan untuk memainkannya bersama. Kuletakkan piano kecil itu di kursi, lalu mengajari anakku memencet tuts bareng Zidan. Tapi anakku malah membawanya kesana kemari. Tidak mau main bareng. Zidan membuntuti terus sambil tangannya mencoba meraih piano itu. Tapi gagal. 

Lalu aku pulang, piano kecil itu kukembalikan ke tempat semula, di rumah Arkha. Zidan ingin mengikutiku pulang, tapi urung. 

Selang beberapa lama, saat ada ibunya, Zidan menangis, meraung, menginginkan mainan itu. Dia minta ibunya mengambilkannya di rumah Arkha. Saat itu ibu Arkha juga mendengar tangisan Zidan. Lalu dia mengambilkan mainan itu untuk dipinjam Zidan. Entah dibawa pulang atau dimainkan di sana, aku tidak tahu. 

Dulu, sulungku, Aisyah, juga pernah punya mainan seperti itu. Dipinjam Zidan, lama tidak dikembalikan. Tahu tahu mainan itu sudah rusak, bagian penutup baterainya hilang, dan tidak bisa bunyi lagi. Setelah itu, kalau ada mainan anakku yang dipinjam Zidan, aku tidak membolehkan dibawa pulang, main di rumah saja. 

Sering kulihat, Zidan memperlakukan mainannya dengan kasar. Akrha pun demikian. Jangankan mainan miliknya sendiri, milik orang lain juga sama. Pantas saja, mainan baru cepat sekali rusaknya. Apa memang sifat anak laki laki seperti itu ya? 

***

Sorenya, saat anak anak dan emak emak kumpul di halaman belakang, terlihat Zidan menenteng kotak. Ternyata berisi mainan baru, piano juga, dengan fitur lebih bagus daripada milik Arkha. 

Sekali lagi. Wow. Terkabullah keinginan Zidan dengan mudahnya. 

Anakku yang melihatnya pun tak luput dari rasa ingin memiliki mainan seperti itu juga. Bahkan, saat mainan Zidan dipinjam anakku, Arkha juga ingin memainkannya, padahal dia sendiri sudah punya. 

Anakku merengek minta dibelikan. Apakah aku membelikannya? Atau berniat akan membelikannya? Tidak. Hahaha. 

Beruntung Zidan mau meminjamkan mainannya sebentar, agar teman kecilnya merasakan sensasi memainkan piano baru itu. 

Kuberitahu anakku, kalau dulu dia juga pernah memiliki mainan seperti itu. Pernah memainkannya, lama. Dan itu sudah cukup. Tidak perlu mengulanginya lagi. Anakku bukan Zidan, dan kondisi orang tuanya pun tidak sama seperti orang tua Zidan. 

Setiap aku tidak bisa memenuhi keinginan anakku, aku selalu memberi penjelasan bahwa tidak semua keinginan kita bisa terwujud. Selama kita masih di dunia, itu ada batasnya. Ada keinginan yang bisa terpenuhi, ada yang enggak. Begitu aku menjelaskan. Berkali kali, berulang ulang. Hingga anakku hafal. Kalaupun dia merengek minta sesuatu, itu tidak akan berlangsung lama. 

Ah, anak anak. Makhluk kecil yang terkadang membuat kita lemah. 

***

'Kendalikan anakmu sendiri!' Andai saja batinku bisa bersuara. Sejak dari tadi, bahkan sejak lama, aku ingin melontarkan  kalimat itu. Tapi tak mampu. Hanya bisa terucap pada suamiku saat kucurhati perihal kejadian beberapa hari lalu. 

Jika kejadian seperti itu terjadi antara Zidan dan anakku, mungkin akan lain ceritanya. Tapi, menyaksikkannya terjadi pada anak anak lain, aku hanya bisa berperan sebagai pemirsa. 

Terkadang, kita menjadi orang yang gak enakan. Sulit mengatakan 'tidak' pada orang lain meski itu membuat kita tidak nyaman. Terlebih jika dihadapkan pada saudara sendiri yang lebih berada dan lebih tua. Jadinya kita lah yang mengalah. Bahkan hingga memaksa anak untuk menjadi 'goodboy' di hadapan orang lain. 

Kadang aku heran dengan mereka yang -- entah sadar atau tidak -- menyusahkan diri mereka sendiri, lantas mengeluhkan kondisi yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri.

Dua ibu itu kerap mengeluh karena anaknya kalau menginginkan sesuatu itu harus ada dan segera. Anak jadi tidak sabaran dan tidak mau pengertian.  Nangis, merengek, ngamuk, digunakan anak sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya. 

***

Sekembalinya dari rumah uti kakung, anakku membawa sebuah mobil mobilan kecil, tantenya yang ngasih. Saat main ke rumahku, Zidan, yang notabene mengoleksi hot wheels, tertarik dengan mainan anakku. Dia ingin pinjam, tapi anakku belum mau meminjamkannya. 

Pernah, suatu hari, anakku bersedia meminjamkannya. Dibawa pulang oleh Zidan. Berada di rumahnya hingga berminggu minggu, tak kunjung dikembalikan. Kuminta anakku mengambilnya ke rumah Zidan. Tapi nihil, dia pulang dengan tangan kosong. 

Satu kesempatan, aku bertanya pada ibu Zidan tentang keberadaan mobil kecil milik anakku di rumahnya. Hari berikutnya, ibu Zidan mengembalikannya. 

"Oh, ini punya Aisyah to? Aku gak perhatikan, soalnya mainan Zidan banyak. Kadang tercecer, ketinggalan, jadi aku gak tahu." Kata ibu Zidan sambil menyerahkan mobil mobilan itu. 

"Iya. Makasih ya, Mbak." Jawabku mengakhiri obrolan. 

Setelah kuperhatikan, rasa rasanya ada yang kurang dari mobil itu. Ah, iya, kaca bagian depannya hilang. Copot. Hmm... Gapapa lah, masih bisa dipakai main, ini. Mainan kecil begini biasa aku bawa kalau pergi pergi, buat main si bungsu. 

***

Sekarang Aisyah lagi susah untuk berbagi. Entah itu soal makanan atau mainan. Kuberi tahu Aisyah untuk memberikan sebagian miliknya, Allah suka hlo sama anak yang suka berbagi. Tapi jika si anak tetap tidak bersedia, ya sudah. Aku tidak memaksanya. 

"Kalo Aisyah lagi gak mau ya jangan dipaksa!", begitu kilahnya. 

Pun jika ada anak lain yang tidak mau berbagi dengan anakku, biarlah. Aku tidak akan memaksa anak itu harus mau membagi sebagian miliknya untuk anakku.

Impas, bukan? 

Oke, baiklah. Tidak mengapa jika anak anak sedang tidak ingin berbagi. Ini hanya sementara. InsyaAllah besok kalo Aisyah dan teman temannya sudah usia sekolah, mereka akan lebih mengerti dan bersedia untuk berbagi, dengan ikhlas tanpa paksaan. 

Untuk itu, aku akan membiarkan anakku sesekali merasakan kecewa lantaran keinginannya tidak dapat terpenuhi. Aku juga akan mengendalikan anakku sendiri, bukan mengendalikan anak orang lain maupun menciptakan kondisi sedemikian mungkin demi terwujudnya keinginan anak sendiri.

Dan yang juga penting adalah sikap orang tua dalam menyikapi sikap anaknya. Bagaimana mengajarkan dan meneladani anak anak agar mau berbagi. Pun agar anak mau menerima kekecewaan lantaran tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tugas kita adalah mendampingi sang buah hati menghadapi rasa kecewanya dan memberikan penjelasan rasa kecewa itu ada dan harus diterima dengan lapang dada. 

Sekian. 
Read more...
separador

Tuesday, November 2, 2021

BTS

Demam BTS melanda semua kalangan, mulai dari remaja hingga anak anak. Termasuk anak perempuanku (3,5 tahun). Minta dibelikan baju BTS, meja belajar BTS, tas BTS. Serba BTS.

πŸ‘§πŸ» : Mama, Jasmine dibelikan baju BTS.
πŸ§•πŸΌ : BTS itu apa?
πŸ‘§πŸ» : BTS ya BTS. 
πŸ§•πŸΌ : Mama nggak tahu.
πŸ‘§πŸ» : BTS itu koya.
πŸ§•πŸΌ : Mama tahunya koya bubuk yang di soto. Ya, Pa?
πŸ‘¨πŸ» : Iya. Jasmine ambil bawang putih itu hlo, dihancurkan, bikin koya.
πŸ‘§πŸ» : Bukan koya yang di soto!
πŸ§•πŸΌ : Hla apa? 
πŸ‘§πŸ» : BTS ya BTS!

Suara anak wedok mulai meninggi, karena menganggap emaknya yang gak gaul, gak ngerti idola yang lagi ngehits di kalangan teman teman sepermaian anaknya. Hahaha. Makanya Jasmine jadi sebel lalu merengek dan teriak teriak. Nyebut nyebut be-te-as-be-te-es terus. 

Sebenarnya, emak gak bego bego amat soal apa itu BTS. Setidaknya bisa googling lah. Memang sih, gambar karakter BTS, lebih tepatnya yang diinginkan Jasmine adalah BT21 (Gabungan dari BTS dan abad 21) ini imut dan lucu lucu. Pantas juga dipakai untuk pernak pernik anak anak. Pantas saja anakku juga suka. Sekilas, emak juga sedikit tertarik. Ups!

πŸ‘§πŸ» : Besok kalo Jasmine udah besar, Jasmine mau beli baju BTS sendiri!
πŸ‘¨πŸ» : Hello Kitty aja, Min.
πŸ‘§πŸ» : Jasmine gak mau Hello Kitty! Maunya BTS! Jasmine mau meja berajar BTS!
πŸ§•πŸΌ : Be-te-as-be-te-es, Jasmine ikut ikutan temennya?
πŸ‘§πŸ» : Aaaaa! BTS! 
πŸ§•πŸΌ : Jadilah dirimu sendiri to, Min. Gak usah ikut ikut temennya. 
πŸ‘§πŸ» : Nek gak dibelikan baju BTS, mama tak gebuk!
πŸ§•πŸΌ : Mengancaaam terus. Teriaki mamanyaaa terus. Jasmine mau menyakiti mama? Iya?
πŸ‘§πŸ» : Hla makane mama kui, Jasmine belikan baju BTS!
πŸ§•πŸΌ : Memang kalo pakai baju BTS trus jadi cantik apa? Memang kalo pake meja belajar BTS trus jadi keren?
πŸ‘§πŸ» : Iya lah. Keren.
πŸ§•πŸΌ : Kata siapa? 
πŸ‘§πŸ» : Kata Erin.

Dan masih berlanjut perdebatan antara emak dan anak mengenai BTS.

πŸ§•πŸΌ : Gak usah ikut ikut temennya. Keluarga kita punya aturan sendiri. Keluarga mereka punya aturan sendiri. Mereka pakai BTS, terserah. Tapi keluarga Pak Arief gak usah be-te-as-be-te-es-an.
πŸ‘§πŸ» : Aaaaa! Jasmine mau baju BTS! Papa, ayo ke Taman beli baju BTS! Papaaa! 
πŸ‘¨πŸ» : Hujan, Min. Gak usah BTS BTS. Gak usah ikut ikut temennya. (Bapaknya paling gak setuju kalo anak wedoknya mengidolakan BTS, yang entah benda apa itu).
πŸ‘§πŸ» : Papa, ayo ke Alfamart! (Eh, ganti haluan dia. Alfamart memang salah satu tempat favoritnya sih. Hahaha).
πŸ‘¨πŸ» : Enggak. Kemaren udah ke sana. 
πŸ‘§πŸ» : Aaaaa! Ke Alfamart!
πŸ§•πŸΌ : Jasmine. Listen. Dengerin mama. Coba perhatikan. Jasmine gak bisa keturutan beli baju BTS, tapi Jasmine bisa keturutan punya buku banyak, temennya gak keturutan punya buku banyak. Ya kan? Gak harus pakai baju BTS, anak mama tetap cantik. Gak harus meja belajar BTS, Jasmine tetap keren. Ada yang bisa keturutan, ada yang gak bisa keturutan. Gak semua bisa keturutan, Jasmine. 
πŸ‘§πŸ» : Gak semua hal, gitu hlo. (Eh, bisa bisanya dia ralat ucapan emaknya).
πŸ§•πŸΌ : Hahaha. Iya. Gak semua hal bisa keturutan, Jasmine. (Emak ketawa kan jadinya).
πŸ‘§πŸ» : Mama kok gembira?
πŸ§•πŸΌ : Soalnya Jasmine lucu. Hahaha. 

Sedikit bisa meredakan suasana yang memanas. Saking seringnya emak bilang ke Jasmine kala dia merengek minta ini itu, "Gak semua hal bisa keturutan, Jasmine." Dia sampai hafal. Hahaha. 

πŸ§•πŸΌ : Kita ini masih di dunia, Jasmine. Ada batasnya. Gak bisa semua hal keturutan. Kalo di surga, gak ada batasnya. Semua semua bisa. 
πŸ‘§πŸ» : Jasmine mau makan buah buanyak buanyak di surga. 
πŸ§•πŸΌ : Bisa. 
πŸ‘§πŸ» : Jasmine mau makan permen, es krim, mau main HP lama lama. 
πŸ§•πŸΌ : Boleh. 
πŸ‘§πŸ» : Jasmine mau pake baju banyak banyak di surga. 
πŸ§•πŸΌ : Pakai baju banyak banyak ya gak bisa lah. Pakai ya satu satu. Kalo banyak banyak, nanti gimana? Hahaha. 
πŸ‘§πŸ» : Hahaha. 
πŸ§•πŸΌ : Di surga itu bajunya warna hijau hlo. Warna kesukaan Jasmine. 
πŸ‘§πŸ» : Jasmine mau baju yang buanyaaak sekali. 
πŸ§•πŸΌ : Boleh. Kan di surga gak ada batasnya. Mau apa apa boleh. 

Akhirnya, keinginan Jasmine akan BTS mereda, gak meledak ledak kayak tadi. Sejauh ini sih, untuk menghadapi Jasmine yang merengek minta ini itu, pakai jurus "dunia vs surga" terbukti manjur. Hahaha. 

Masing masing keluarga memiliki aturan sendiri. Keluarga kalian begini begitu. Keluarga kami pun ingin ini ingin itu banyak sekali. Tapiiii... Selama masih di dunia, ada batasnya. Dan terbatas pula kemampuan orang tua memenuhi segala keinginan anaknya. 

Apapun itu. Entah anak minta jajan, mainan, nonton HP, tidak boleh berlebihan. Untuk urusan memenuhi keinginan anak  (keinginan hlo ya, bukan kebutuhan), kami berprinsip "Mending anak nangis sekarang daripada gedenya anak bikin kita nangis". Artinya apa? Lebih baik menyaksikkan anak kita merengek nangis nangis kejer minta sesuatu yang tidak begitu penting baginya, daripada selalu menuruti keinginannya dan menjadikan dia anak manja yang kalau keinginannya tidak keturutan akan marah marah ngamuk bahkan sampai menyakiti fisik dan perasaan orangtuanya.

Semoga kelak Jasmine paham bahwa yang mama dan papa lakukan adalah demi kebaikan Jasmine. Karena, sesuatu yang kamu sukai, belum tentu baik bagimu. Dan sesuatu yang kamu benci, belum tentu buruk bagimu. Jadilah anak baik, nurut kata Allah, contoh perilaku Rasulullah, dengerin nasihat orang tua. 

Semoga juga, mama dan papa jadi ortu yang dowo ususe dan jembar segarane. Hehehe.

Salam,
Emak emak non Army
Read more...
separador

Friday, August 13, 2021

Mama, minta uang!

~ Mama, minta uang! 

Kemarin siang, saat anak lanang terbangun dari tidurnya lalu kugendong dengan jarik, nemplok di pangkuan sambil nenen, merem. Tiba tiba sesosok mungil datang menghampiriku. Ternyata Jasmine, anak wedokku yang paling kintung kintung yang kini berusia hampir tiga setengah tahun. 

Disusul oleh saudara sepupu sekaligus sepersusuan yang juga seumuran Jasmine. Nama aslinya Azka, namun memiliki banyak julukan : Kadut, Kaduot, Galengsong, Mbah Rorot, Andrung, Gendrang, Sapi Mandrowng, Anang Anang Umplung, dan juga Cilor Mak Trong. Besok besok entah apa lagi julukan selanjutnya. Julukan julukan itu tercipta karena palafalan kata kata yang masih belum jelas oleh dirinya sendiri. Andrung, itu maksudnya dia bilang 'anggur'. Gendrang maksudnya adalah 'gendar', Sapi Mandrowng adalah 'sapi brenggolo', kalau Anang Anang Umplung itu bukan bermaksud mengejek Mas Anang, melainkan lafal dari 'mangan ra mangan ngumpul.' Kalau Cilor Mak Trong itu adalah 'cilor maklor.'

Kalau aku lebih sering memanggilnya dengan sebutan Kadut, singkatan dari Azka Gendut. Seorang saudara yang dulu sering bantuin momong yang ngasih julukan itu. Soalnya dulu waktu masih bayi, dia gendut dan menggemaskan. Yang jelas, semua julukan itu lucu, bagi yang mendengar dan memangilnya dengan nama itu. [Sebenarnya ini nggak baik,  memanggil nama orang dengan sebutan yang orang itu tidak suka. Jangan ditiru ya]. Karena si anak dan emaknya merasa fine fine aja dipanggil dengan nama nama itu, yaudah teruskanlah. Wkwkwk. 

Kadut membawa selembar uang abu abu bernilai dua ribu. Aku tahu, dia pasti minta diantar jajan oleh Jasmine ke warung Ibuk Alif. Ibuk Alif, dia menyebutnya demikian, bukan karena si pemilik warung bernama Alif, melainkan pemilik warung adalah ibu dari anak bernama Alif. 

Kadut nggak berani ke sana sendiri. "Edi, edi edus!" [Takut wedus], alasannya. Sampai sekarang bicaranya memang belum begitu lancar, tapi justru di situlah letak humorisnya bagi para pendengar. Sepanjang jalan ke warung Ibuk Alif padahal nggak ada wedusnya. Lagian jarak dari rumahnya ke warung juga sangat dekat. Nggak nyampai dua menit jalan kaki. Wong cuma di belakang jarak empat rumah. 

Kadut takut melewati jalan itu karena pernah suatu hari, dia ke sana sendiri, terdengar suara mengembik persis suara kambing. Sebenarnya itu hanya suara orang yang pura pura jadi kambing. [Yah, begitulah akibat anak sering ditakut takuti, tumbuh menjadi anak penakut. Jangan ditiru dan jangan diteruskan ya].

Nah, berkat ajakan Kadut, Jasmine terdorong untuk juga memiliki uang di tangan. Lalu, dia mencari cara buat dapatkan uang dengan instant. Dengan cara ngepet, tentunya. Eh, bukan, dengan cara malak emaknya. 

"Mama, minta uang!" Suaranya yang khas terdengar mengusik kupingku dan kuping adeknya yang sedang kupangku. Cempreng, kecil, dan melengking, itulah suara anak gadisku. 

"Mau buat apa?" tanyaku. 

"Buat jajan," selalu itu yang menjadi tujuannya minta uang. Mbok ya sekali kali itu minta uang buat modal dagang gitu hlo. Kalau berhasil kan uangnya bisa jadi banyak. 

"Jasmine tadi pagi sudah jajan, kan?" Sebelum mengucurkan dana buat jajan, berusaha nego dulu. Ini adalah salah satu keahlian yang harus dimiliki seorang emak yang sekaligus menjabat sebagai bendahara keluarga. 

"Aaa, jajan lagi!" Nggak mau kalah dia rupanya.

"Mau jajan apa lagi?" Aku mulai curigesion bak detektif contan.

"Ngg... Jajan bisfit." Bisfit itu bukan merk jajanan baru ya buibu, itu cuma lidah anakku aja yang belum lancar bilang bis-ku-wit dengan cepat. Kalau bilangnya perlahan dia bisa. 

"Biskuit? Hmm... Coba diingat lagi, tadi pagi Jasmine sudah jajan apa aja? Tadi pagi udah jajan biskuit yang ada coklatnya, kan? Dua malah."

"Minta uang!!" Eh, malah ngotot dia. 

"Jajannya besok lagi."

Tidak terima dengan jawaban emaknya, Jasmine mulai menggeledah rak kecil di meja dapur. Di situ memang terkadang terselip uang kembalian. Ra kotang, eh, ra ketang seribu dua ribu, uang lembaran maupun koin alias kricikan. Dia mendapatkan beberapa uang koin. Kutaksir sejumlah tiga ribu limaratus rupiah. Tepat. Soalnya memang aku yang naruh uang itu di situ. Wkwkwk. 

Secepat kilat menyambar, uang koin dari genggaman Jasmine berpindah ke tanganku. Otomatis dia merengek berusaha mengambil kembali uang itu. Eits, nggak berhasil, karena kuletakkan di tempat yang lebih tinggi dari rak tadi. Ketinggiannnya di luar jangkauan Jasmine. 

Cerdik juga anak ini. Dia manjat kursi buat naik ke meja demi bisa meraih uang yang kutaruh di tempat lebih tinggi tadi. Sebelum tangan mungilnya berhasil meraih uang itu, tanganku menyambar terlebih dahulu. Jasmine terduduk di meja. 

Jasmine mulai meradang, amarah tak terbendung dia luapkan dengan cara menangis, berteriak, bahkan melempar beberapa benda yang berada di meja ke arahku.

"Minta uaaanngg!! Whaaaaaaa!!" Teriak Jasmine hingga terlihat gigi giginya beserta anak lidahnya. Si adek jadi terbangun lagi, melepaskan hisapannya dari dadaku, tapi tetap duduk diam di pangkuan. Kadut sampai menangkupkan keduabelah tangannya ke masing masing kupingnya. Teriakan melengking Jasmine membuat kuping pengang rasanya. 

"Jasmine, pelankan suaramu. Itu mengganggu." Aku mencoba mengerem amarahnya. 

"Whaaaa!! Tak balang, pie?" Tangannya meraih tudung saji kecil berwarna pink. Dilemparkan ke arahku. Lemparannya tidak mantap. Ada keraguan. I see. Sebenarnya dalam dirinya ada rasa takut kalau sampai menyakiti emaknya yang cantik ini, di sisi lain dia kesal karena keinginannya tidak bisa terpenuhi.

"Jasmine mau menyakiti mama?" 

"Whaaaa!!" Kuanggap itu sebagai jawaban 'tidak' yang tak terucapkan karena gengsi.

"Jasmine, enggak teriak. Jasmine mau ke surga kan? Di surga nggak ada orang yang teriak teriak. Semua orang gembira. Di surga, mau minta apa aja boleh, nggak ada batasnya. Banyak banyak boleh. Ini kita masih di dunia, ada batasnya, Jasmine. Kendalikan dirimu. Nggak semua hal yang Jasmine minta bisa didapatkan sekarang juga. Nggak semua yang Jasmine inginkan bisa langsung terlaksana." Khotbahku di Hari Kamis pada anakku yang sedang dilanda amarah. [Sebaiknya kalau mau ngotbahi anak, lebih efektif saat suasana hatinya sedang hepi sih. Tapi ya gimana lagi, udah kek spontan gitu, nyrocos aja bawaannya. Ini juga karena sifat alamiah perempuan yang bisa ngeluarin setidaknya sebanyak duapuluh ribu kata per hari. Dah kayak novel di KBM aja nih. Wkwkwk].

Jasmine bergeming. Mungkin sambil mencerna kata kataku. Sejak dulu, aku memang sering menceritakan tentang surga ke Jasmine. Tertanam dalam pikirannya bahwa di surga itu Jasmine boleh minta apa aja sebanyak apapun. Tentu Jasmine sangat tertarik untuk ke 'tempat' semacam itu. Tapi dengan catatan : melakukan perbuatan baik biar dibolehkan Allah ke surga-Nya. 

Perbuatan baik dan buruk akan dicatat oleh malaikat. Perbuatan baik dicatat oleh malaikat Roqib sedangkan perbuatan buruk dicatat oleh Malaikat Atit. Lalu dilaporkan kepada Allah di Hari Senin dan Kamis. Begitulah aku memberi tambahan penjelasan tentang surga pada balitaku. Sambil sedikit kubumbui dengan acting mencoret coretkan jari telunjuk tangan kanan ke telapak tangan kiri seolah menulis. Seraya bilang 'Jasmine perbuatan buruk : melempar barang barang, teriak teriak, menyakiti mamanya.' Atau di lain kesempatan 'Jasmine perbuatan baik : mau minjemi Kadut sepeda.' Begitu terus, berulang ulang, setiap ada kesempatan.  

"Dut, Kadut pulang aja dulu. Jasmine lagi marah." Anak itu menuruti permintaanku, mungkin batinnya juga anyel karena gagal jajan di warung Ibuk Alif. [Sorry hlo, Dut. Jadilah anak pemberani yang bisa jalan ke sana sendiri].

Melihat kawannya pulang, tangis dan teriakannya mereda. Tapi kakinya mulai menendang nendang dengan kasar kursi yang tadi dia pakai untuk manjat ke meja. 

GLODHAK! Kursi itu terjungkal. Anak lanangku menyaksikkan tapi tetap diam, mungkin karena kantuknya masih belum hilang. Kepalanya kembali menyandar di dadaku. 

"Mama, turun!" Seraya Jasmine merentangkan kedua tangan pertanda ingin diturunkan dari tempatnya berada. 

"Enggak. Salah sendiri nendang nendang kursi. Jadi nggak bisa turun, kan?"

"Mama, gendong!!" Tangisnya kembali ke mode on, diikuti teriakan teriakan berikutnya.

"Sabar. Tunggu papa pulang dari masjid." 

"Whaaa!! Turun, turun, turuuunn!!" Teriakannya makin keras, badannya mulai terlihat resah, menggeliat kesana kemari hingga tak sengaja menyenggol segelas teh hangat. Untung gelasnya nggak pecah.

"Astaghfirullah, Jasmine! Coba lihat akibat perbuatanmu! Ini teh hangat yang tadi kamu minta, udah mama buatkan. Mama cariin kamu tapi nggak ada. Datang datang minta uang. Marah marah." Suaraku mulai meninggi akibat melihat lantai yang becek dan kotor. Karena belum keramik, kalau lantai dapur kena air, jadinya becek dan ngepelnya susah. Mana tumpahannya mbleber mbleber lagi. Ck! 

"Mama, gendong, gendong, gendooong!" Aku paham betul kebiasaan Jasmine, saat suasana hatinya sedang tidak baik baik saja, dia pasti merengek minta gendong. Meskipun sudah umur tiga tahun, dia masih suka minta gendong barang cuma sebentar. Dalam gendonganlah Jasmine merasa nyaman, perlahan bisa menata perasaannya kembali. Kalau sudah puas digendong, dia akan minta turun dengan sendirinya. 

"Mama lagi nggak bisa nggendong" Lagian aku memang nggak bisa menggendong dua bocah sekaligus. "Tetap di situ dulu. Tunggu papa pulang."

"Turun, turun, turuun!" Jasmine tetap merengek. Hingga akhirnya mendapati bapaknya sudah pulang dari masjid. 

Kusambut dengan "Jangan diturunkan dulu, Pa!" dan dibalas dengan ekspresi 'ada apa ini?'

"Minta maaf!" Masih duduk di meja,  Jasmine mengulurkan tangan kanannya pertanda mengajak damai. Suaranya terdengar masih ketus. Begitulah anakku. Setelah tadi maksa minta uang tapi gagal, sekarang maksa minta dimaafkan. Kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Wkwkwk.  

Bapaknya mendekatkan badan ke meja,  berniat menurunkan anak gadisnya. Hup! Tubuh mungil Jasmine berpindah nemplok ke dada bapaknya. Digendong depan. Bapaknya tetap tidak menanggapi dengan kata kata. Hanya sedikit gerakan ke kanan ke kiri seperti menimang nimang. 

"Kesalahan Jasmine apa kok minta maaf?" Tetap dong dengan introgasi dulu. Harus digenahkan, biar Jasmine tahu kenapa perlu minta maaf. 

"Nggg... Jasmine numpahin teh hangat. Tapi Jasmine nggak sengajaa..." Masih terdengar sedikit isakan tangisnya. 

"Coba lihat ini Pa, akibat Jasmine marah marah." Aku mengadu. "Bukan karena itu kesalahannya" Langsung nge-switch ngomong ke Jasmine. 

"Nggg..." biar mikir dia. "Jasmine, ngg... Lempar itu ke mama," sambil nunjuk tudung saji pink tergeletak di lantai.

"Apa lagi?"

"Jasmine teriak teriak."

"Apa lagi?" Main tebak tebakan biar nggak marah marah terus.

"Jasmine... Jasmine nggak tau!" Nyerah dia. Hahaha. 

"Jasmine... Maksa maksa... Minta uang" Aku memberitahu dengan perlahan alasan utama semua kekacauan ini, yang mengharuskan dia minta maaf. 

"Coba kalau tadi Jasmine nggak maksa maksa minta uang. Coba kalau tadi Jasmine kendalikan keinginan jajannya. Nggak marah marah."

Diam sejenak. 

"Jasmine minta maaf ya, Maa..." Entah kenapa tiba tiba hatiku iba, merasa terharu. Ya Allah, anak gadisku.

Tak menunggu waktu lama, masih dalam gendongan bapaknya, kusambut uluran tangan mungilnya. Kuciumi ubun ubunnya. "Lain kali jangan diulangi ya. Mama juga minta maaf, nggak bisa langsung kasih uang ke Jasmine, mama minta maaf jadi ikutan marah tadi..."

"Ya..." Nada suaranya merendah.

"Yaudah, mandi dulu sana, biar seger" [Maksudnya, secara nggak langsung itu nyuruh bapaknya buat mandikan Jasmine].

Sekian.
Saya, emak Jasmine yang lagi hobi jajan.
Eh, nyusun kalimatnya gimana sih? Biar maksudnya tuh si Jasmine yang hobi jajan, bukan emaknya. Emaknya mah hobi makan. Wkwkwk.
Read more...
separador

Monday, August 9, 2021

Gegara Energen Kurma

Tadi selepas isyak, emak lagi neneni Adek Hamish, bocahnya sudah setengah tertidur di pangkuan ini. Tiba tiba terdengar suara glodak glodak mendekat, diikuti suara suara anak kecil. Ternyata Chacha yang bersepatu roda datang dengan duo krucil, yaitu Kadut dan Jasmine. 

Otomatis emak ber-ssstt dengan isyarat diacungkan jari tengah, eh, jari telunjuk, ke arah tiga bocah itu. Berharap mereka memelankan suaranya agar Adek Hamish tidak terbangun. Soalnya ini sudah kali ke tiga Adek Hamish nenen, lalu ditaruh di box-nya, lalu terbangun. Rasanya kan jadi pengen tak-hih, gitu. 

Chacha : Ma, Ma! [suara Chacha terdengar buru buru]
Emak     : Sstt... 
Chacha  : Ma, anu, Jasmine ngambil susu kotak gede hlo, Ma.
Emak      : Susu kotak nendi?
Chacha   : Neng sokes (showcase).
Emak      : Apa iya, Jasmine?
Jasmine : Hla anu hlo, Jasmine mau susu.
Emak      : Tapi itu bukan susu milik Jasmine. Itu susu punya siapa? 
Chacha   : Punya Chacha.
Jasmine : Hla Jasmine minta.
Emak      : Kalau mau minta, harus bilang dulu, minta izin ke yang punya. Boleh atau enggak.
Chacha  : Ho'o hlo, Min. Itu susunya Chacha.
Kadut     : Ho'o, Min.
Jasmine : Kadut ojok melu melu! [nada bicaranya mulai meninggi, hampir mau marah]
Chacha   : Susune sampe tumpah tumpah hlo, Ma.
Kadut      : Ho'o yo, Cha.
Emak      : Memang Jasmine ambil susu mau buat apa?
Jasmine : Mau buat Energen.
Emak      : Energen cara bikinnya nggak pakai susu, Jasmine. 
Jasmine : Hla tapi ada gambar susunya hlo.
Emak      : Iya, tapi cara bikinnya pakai air panas, bukan susu.
Jasmine : Jasmine mau susu. 
Emak      : Kalau mau susu, bilang, jangan ambil milik orang lain. Itu namanya mencuri. Kalau mencuri itu dihukum sama Allah, tangannya dipotong. 
Jasmine : Punya Jasmine hlo.
Emak      : Bukan, itu susu bukan milik Jasmine, tapi milik Chacha. Tadi Jasmine ambil di rumahnya Chacha kan? Bukan di rumah Jasmine. Berarti itu susunya Chacha, bukan susunya Jasmine. 
Jasmine : Punya Jasmine!
Emak      : Ambil susunya, Cha. Kembalikan. 

Chacha berusaha ngambil susu kotak 1 liter yang tadi dituang Jasmine, lalu mengembalikan ke tempat semula. Kadut ikut serta. Jasmine turut membuntutinya, merengek, berusaha mencegah, tapi gagal. Lalu Jasmine balik lagi ke tempat emak yang lagi neneni berada. 

Emak      : Nanti biar Energennya dibikinkan papa.
Jasmine : Pakai susu.
Emak      : Enggak Jasmine.
Papa       : Nanti dibikinkan papa, Min. [nyaut dari kamar mandi]
Jasmine : Minta maaf sek. [sambil mengulurkan tangan mungilnya].
Emak      : Jasmine kesalahannya apa? 
Jasmine : Jasmine ngambil susunya Chacha. 
Emak      : Jangan diulangi ya. 
Jasmine : Ya. [berlalu pergi ke belakang] Ndang to Pa, dibikinkan Energen. 
Papa       : Sebentar, papa belum selesai.
Jasmine : Papa ngapain sih, kok lama?
Papa       : Papa pup.

Di kamar... 
Adek Hamish sudah tidur lelap. Jasmine menyusul naik sendirian. Sudah berganti pakaian. 

Emak      : Jasmine kenapa kok ganti baju?
Jasmine : Hla bajunya basah hlo. 
Emak      : Hla kenapa kok basah? 
Jasmine : Kena air
Emak      : [dalam batin : a'elah, basah tu ya karena kena air] Iya, kena air pas ngapain?
Jasmine : Jasmine tadi wijik. 
Emak      : Ooh. Hla mana Energenmu? 
Jasmine : Nanti dibawa papa ke atas. 
Emak      : Emang papa bilang gimana? 
Jasmine : Jasmine naik dulu, nanti Energennya dibawakan papa, gitu.
Emak      : Ooh. 
Jasmine : Ma, ayo dibacakan buku!
Emak      : Ya, pilih tiga aja. Ambil. 
Jasmine : Okay.

Sambil rebahan di kasur, dengan tiga buah buku yang antre untuk dibaca...

Jasmine : Ayo Ma, dibacakan.
Emak      : Ya, yang mana dulu?
Jasmine : Yang ini.
Emak      : Bismillahirahmanirahim. A-ku A-nak Ju-jur.
Jasmine : Aku Anak Jujur.
Emak      : Jasmine tadi ngambil susu milik Chacha nggak bilang bilang, ya? 
Jasmine : Iya. Jasmine pengen susu. 
Emak      : Iya, tapi nggak boleh ambil milik orang lain. Kalau pengen susu, minta ke papa. Kalau papa punya uang banyak, kita beli susu sendiri. Nggak boleh ngambil milik orang lain sembarangan. Jangan diulangi ya. 
Jasmine : Ya...
Emak      : Uuh. Anak baik, shalihah. [kecup kening Jasmine]
Jasmine : Ndang, Ma. Dibacakan. 
Emak      : Sebentar. Hlo, ini Saliha anak jujur. Jujur itu bilang yang sebenarnya. Nggak bohong. Jasmine sudah jujur tadi, ngaku kalau ngambil susunya Chacha. Memang Energennya ada gambar susunya? 
Jasmine : Ada. 
Emak      : Susu apa? 
Jasmine : Susu putih. 
Emak      : Sama apa? 
Jasmine : Sama dikasih coklat. 
Emak      : Masak sih? 
Jasmine : Iya, yang bulat bulat coklatnya. 
Emak      : Itu bukan gambar coklat, tapi gambar kurma.
Jasmine : Ndang to, Ma, gek dibacakan.
Emak      : [mulai bacakan buku request-an Jasmine]

Dan berakhirlah obrolan tentang Energen Kurma, digantikan dengan obrolan cerita tentang Sali dan Saliha. 

Semoga gegara Energen Kurma dan rutin dibacakan buku Hallo Balita, Jasmine bisa paham dan mengamalkan kalau ngambil barang milik orang lain tanpa izin itu tidak baik. Ada pelajaran yang bisa dipetik.

Sekian dan jangan begadang.

Read more...
separador

Tuesday, July 13, 2021

Korban

Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini, rasa rasanya begitu sepi, tak seperti dua tahun ke belakang. Kabar berita di mana mana hanya ramai menyiarkan si makhluk kecil bernama Corona yang udah banyak banget menelan korban jiwa. Bahkan sekarang Corona banyak variannya. Alfa, Beta, Delta, Gamma, Lambda, Kappa, Oppa. Eh! Yang terakhir tadi bukan. Besok bisa bisa kita kehabisan simbol nama buat varian barunya. Lalu simbol nama yang tersisa hanyalah Sin, Cos, dan Tangen aja.

Corona tak henti hentinya menggemparkan sebagian dunia. Padahal belahan dunia bagian Eropa dan Amerika sudah berganti digemparkan oleh euforia kemenangan Italia dan Argentina, bukan lagi oleh Corona. Lalu, kenapa di belahan dunia bagian Asia, terutama negara plesnamdua ini Corona masih merajalela, ya?

Kabar ibadah haji pun tak terdengar lagi gaungnya. Atau akunya aja yang gak pernah update acara warta berita? Biasanya kan setiap tahun ada calon jemaah haji yang "unik" untuk dijadikan isi berita. Tukang bubur naik haji, emak ingin ke Mekah, itu mah udah biasa. Yang luar biasa itu, pemulung naik haji atau tunawisma bisa korban sapi, misalnya. Sepertinya, berita unik menjelang Idul Adha tahun ini adalah tukang bakso yang menjadi korban keganasan penguasa. Eh!

Katanya, beli sembako bakalan kena pajak. Dan baru baru ini, demi genjot pemasukan negara, pedagang bakso juga bakal dikenakan pajak. Ya Tuhan... Entah besok sektor apa lagi yang bakalan dikorbankan untuk dikenai pajak. Badan ini aja udah berat, ditambah beban biaya hidup yang kian menanjak. Hidup di negara +62 gini amat, yak?!

Belum lagi, ada yang namanya PPKM. Apalah itu aku gak begitu paham. Aku taunya PPKN, yang pernah dulu dipake buat di sekolahan. Gunanya biar kita jadi makhluk yang beradab bukan malah biadab. Kalo jaman sekarang, PPKN nya udah diganti jadi PPKM kali ya. Katanya sih gunanya buat menekan korban kematian karena Corona. Tuh kan, lagi lagi isinya soal Corona. 

Cara kerja PPKM itu, nyuruh masyarakat pedagang kecil tutup lapaknya. Ada yang dibatasi jam operasionalnya, digusur paksa, didenda, bahkan dagangannya harus rela dikorbankan untuk disita. Sebagian jalan raya akses transpotasi dan distribusi utama ditutup juga. Lalu masyarakat cuma diminta mbegegek neng ngomah gak entuk ngapa ngapa dan gak entuk kemana mana. Gokil, kan?

Tapi tenang... Meskipun begitu, pemimpin negeri ini sudah berpesan "jangan sampai rakyat susah makan karena PPKM darurat."

Enggak kok Pak, kita gak sariawan ataupun sakit gigi sehingga menyebabkan kita susah makan. Kita cuman sakit hati dan sakit lambung karena sering menjadi korban janji jiwa. Eh, itu mah merk minuman! Sehingga tekanan darah dan asam lambung kian melambung tinggi tinggi sekali ii ii... Kiri kanan ku lihat saja, banyak rakyat sengsara...

Benarkah begitu, pemirsa?

Berjualan alias berdagang, di jaman sekarang itu gak gampang, gan! Penuh tantangan onak duri yang mengerikan. Yang tak mampu bertahan, bakalan terkorbankan, tumbang, tergerus jaman. Lagipula, hampir semua bidang jualan pakai cara online, mulai dari jualan sandang, pangan, perabotan, sampai jasa tambal ban. Yang gak ngerti cara jualan online, minggir aja kalian!

Hebat. Pesat sekali negeri ini mengalami kemajuan di bidang perdagangan. Keren sekali, bukan?

Anyway, siapa yang tahun ini bisa ikutan korban? Semoga senantiasa Allah memberikan kelapangan hati kita buat berkorban, meskipun dalam kondisi ekonomi lagi sempit maupun lapang. Korban kambing atau iyuran korban sapi, harga cuma dua jutaan kan? Kalau bener bener niat pasti Allah mampukan. Bayangkan, kita cuma disuruh korban kambing, bukan korbankan anak kayak Nabi Ibrahim, mosok gak mau berjuang?

Yang udah berjuang tapi ternyata uang belum cukup untuk menebus seharga seekor kambing doang, tetap putus asa, jangan semangat. Lah, kebalik kan malahan. Ya intinya tu jangan bersedih hati, karena Nabi udah berkorban buat kita juga, umatnya. Maka, bergembiralah...

Ada sapi di peternakan.
Daripada bersedih hati, ayo main tebak tebakan.

Unta. Unta apa yang paling bikin bahagia? 😊

Read more...
separador

Sunday, July 12, 2020

Jasmine dan Sepeda (Part 1 - Roda Dua)

Untuk ke sekian kalinya, tidur siangku bagaikan sinetron yg kebanyakan iklannya. Sebentar2 terbangun. Aku ga menyukai hal itu krn membuat kepalaku pening. Dan, hey, sekarang sudah bukan siang lagi. Matahari hampir tenggelam.

My 2-year-old punya hobi yg sangat ia tekuni, yaitu main air, menjadi salah satu alasan kenapa aku ga bisa tidur siang dg tenang. Hobinya itu membuat aku harus  sering2 mengechecknya. Dia juga punya basecamp favorite -- selain kamar mandi, yaitu 'mburi omah', yg dia selalu ingin main ke sana.

Pas lagi enak2nya tidur, tau2 ada yg datang dg suara yg terdengar panik. Terdengar jg suara tangisan anak kecil yg aku sangat mengenali suara itu.
"Mbak Ika, Jasmine tibo!"
Mak gragap, aku segera bangkit. "Jasmine!"

Innalillahi...!! 😨😱
Segera ku ambil alih anakku dari orang yg menggendong dan mengantarkannya pulang. Ku lihat ada luka di pelipis dekat mata anakku, sedikit kotor terkena pasir. Agak ngilu melihat lukanya, tp aku mencoba utk bersikap setenang mungkin.

Beberapa orang turut datang, pengen tau ada apa dan kenapa-nya. Ada yg bilang kalo Jasmine habis jatoh pas naik sepeda. Eh, Jasmine naik sepeda? Sepedanya siapa? Sama siapa? Gimana kejadiannya? Kok bisa? Dan bla bla black sheep have you any wool? Yes Sir, yes Sir, three bags full. Wkwkwk... 😜

Eh, anaknya terluka kok malah becanda!

Tenang, tenang para pemirsah yg budiman dan budiwati. Ini hlo, anakku lagi nangis krn kesakitan -- atau malah nangisnya krn kaget dan ketakutan? Aku ga terlalu peduli sama apa yg jd pertanyaan dan dugaan orang2 tentang gimana kronologi jatohnya anakku dari sepeda. Yang aku pedulikan saat itu hanyalah anakku dan perasaannya. Jasmine pasti shock, ketakutan, dan merasakan sakit tentunya. Kubersihkan lukanya dg kapas dan air (ga punya revanol atau cairan pembersih luka sejenisnya). Anaknya menangis keras.

Ada yg menyalahkan si korban yg terluka, ada yg menyalahkan si pemilik sepeda, ada yg menyalahkan sepedanya, ada yg menyalahkan situasinya, atau mungkin diam2 ada yg menyalahkan emaknya? Wkwkwk... 😆🙈
Terlepas dari itu semua, terimakasih atas segala simpati dan perhatiannya.

Yang anakku butuhkan adalah sang penenang. And guess who or what is it? Yes. Me. I am, her mother. Aku gendong dia sambil usap2 punggungnya. Ku sibakkan anak rambut yg menutupi dahinya. Ku ciumi ubun2nya. Now you are save, darling. I'm here. Sebentar kuabaikan perut yg makin membuncit ini meskipun rasanya bagaikan menggendong dua anak sekaligus.

Jasmine masih terus menangis...
"Iya Nak. Mama tau, ini rasanya sakit. Dikasih obat yaa... Biar lekas sembuh..."
Anakku bersikeras ga mau diolesi obat (pemberian om-nya). Malah tambah kenceng nangisnya.
"Tadi Jasmine kaget ya pas jatoh? Jadinya nangis... "
Setelah kuberi minum, kubawa dia sedikit menjauh dari orang2, berharap itu akan membuatnya lebih tenang. Tidak ada lagi kata2 yg keluar dari cangkem ini, yg ada hanyalah belaian dan sentuhan. Tak lama kemudian, Jasmine berhenti dari tangisnya.

Setelah ketegangannya berkurang, berangsur angsur Jasmine mulai ceria lagi, meskipun lukanya belum mau diolesi obat. It's oke, aku ga memaksanya harus diobati sekarang. Toh cuma luka ringan, bukan luka berat yg kalo ga segera ditangani bisa mengancam nyawanya. Wajar anak kecil naik sepeda trus jatoh. Apalagi Jasmine yg sama sekali belum bisa naik sepeda dan ga punya sepeda.

🧕: Dulu, mama pas kecil jg pernah jatoh dr sepeda. Kaki mama luka. Berdarah. Sama kayak Jasmine. Mama jg nangis, soalnya sakit.
👧: Iya, ya Ma. Tama kek Jasmine. Bedalah. (Sama kayak Jasmine. Berdarah).
🧕: Jasmine besok naik sepedanya yg roda tiga dulu aja yaa. Yg aman buat anak kecil kayak Jasmine. Kalo sepeda roda dua buat anak yg udah mau besar kayak Caca. Besok Jasmine beli sepedanya yg ada gambar burungnya?
👧: Moh bulung, yg ada engibetnya (yg ada angrybird-nya).
🧕: Ya. Yg ada lampunya juga? 
👧: Iya.
🧕: Besok dilihat dulu ya, di tokonya ada apa enggak.
👧: Ya.

Begitulah anak kecil. Meski gampang nangis, tapi juga gampang lekas hepi. Meski terluka dan merasakan sakit, tapi bisa segera bangkit dan ceria lagi. Setalah Jasmine mandi, bersih, seger nan wangi, doi kembali main, dan cerewet seperti tidak terjadi apa2 sebelumnya.

Nih, anaknya malah minta difotoin 👇😁

Read more...
separador

Thursday, July 9, 2020

Jasmine and The Pee

Anak perempuanku yg bernama Jasmine, selama ini ku kenal sbg anak yg manis nan penurut. MasyaAllah... Tabarakallah... Aku bangga memilikinya. Dia mudah sekali menerima nasihat dariku, mudah dikendalikan, dan kalo dia lg badmood mudah pula diswitch jd good mood, jd feeling good. Lucunya lagi, kalo dia dinasihatin, terkadang malah balik nasihatin, wkwkwk... 😜

Tapi... Seiring perkembangan dan pertambahan usianya, aku merasa dia tidak sama lagi spt Jasmine yg dulu. Sekarang usianya 27 bulan alias 2 tahun lebihnya sekitar 3 bulan. Detailnya 839 hari (terhitung mulai dari aku posting tulisan ini). Akhir2 ini, aku dibuatnya jengkel dan marah2 krn "hal yg sama." Dia melakukan perilaku yg seharusnya tidak dia lakukan... 😣

Orang tua mana yg sengaja ngajarin anaknya yg jelek2? Pasti ga ada kan? Begitu juga aku, sbg ibunya, dan didukung pula oleh Pak Arief, sbg bapaknya. Kami berdua selalu ngajarin dan nyontohin Jasmine perilaku / adab yg baik, mulai dari hal2 kecil -- yg mungkin orang lain anggap sbg hal remeh temeh sekalipun. Salah satunya adab yg baik saat ke kamar mandi.

Aku ajari anakku adab kalo mau pipis atau pup di kamar mandi. Masuk kaki kanan, keluar kaki kiri. Eh, ini salah Jasmine. Kebalik. Masuk kaki kiri, keluar kaki kanan. Jangan lupa berdoa biar ga diganggu setan. Jangan banyak bicara dan jangan berlama lama. Bukannya sombong, di usia segitu anakku udah hafal lafaz doa kalo mau masuk dan keluar kamar mandi. Bahkan, sejak usianya kurang dari satu setengah tahun, dia udah bisa mengekspresikan rasa kebelet pup-nya dg bilang "eek", sebelum terlanjur brojolan di celana. Dan fase toilet training nya Jasmine terbilang gampang. I'm proud of her! 😘

Did you know? Saat dia berada di fase penasaran dg alat kelaminnya, suka pegang2 alat kelaminnya, dg lugas aku kenalkan nama alat kelaminnya. Kalo anak perempuan itu nama kelaminnya vagina. Kalo anak laki2 itu penis. Dia familier dg dua kata yg dianggap orang lain tabu itu. Bukan menyebut kelamin dg nama palsu spt manuk, burung, titit, dsb. Kukasih tau juga kalo alat kelamin itu sangat berharga, harus dijaga. Harus ditutup, malu kalo sampe kelihatan orang. Ga boleh dipegang pegang sembarangan, takut kena kuman. Aku ngajarin Jasmine tentang pentingnya punya rasa malu.

Tapi terkadang, apa yg selama ini diajarkan pada anak di rumah, bisa rusak oleh ajaran dari luar rumah. Di situ aku merasa perjuanganku selama ini sia2. Hiks. Mo marah, tapinya pada siapa...??

Pada akhirnya, Jasmine lah yg menjadi korban kemarahan emaknya krn melakukan "hal yg sama" itu. Dua hari lalu, pagi2 Jasmine udah mandi, perut udah terisi, ready lanjut dinas ke luar (bermain sama temen2nya). Selang beberapa waktu, aku memergokinya jongkok tanpa rok di halaman rumah orang. Ternyata dia pipis di sana. Astaghfirullah... 🤦‍♀

Kutarik dia pulang, kubersihkan, kupakekan roknya kembali, lanjut dia pergi dinas lagi. Nyang mburi omah (lokasi favorite anak2 buat main). Nah, neng kono enek kalen sbg pemisah antara jalan dan sawah. Jasmine main ke sana sama sodaranya. Pulang2, ku lihat dia telanjang, roknya basah dan dicangking. Aku dapat laporan dari sodaranya kalo anakku habis pipis neng kalen.
Astaghfirullah... 🤦‍♀ (1)

Tadi siang, Jasmine melakukan aktivitas yg sama kek biasanya, main sama temen2nya. Waktu itu aku ketiduran. Tiba2 aku diteriaki sama Pak Arief "Ma, hlo Jasmine udoh!" (Jasmine telanjang).
Aku kaget, mak tratap, kepala pusing krn terbangun mendadak. Mak bedunduk, mak pethungul, kulihat bocahnya muncul dari balik gorden, menuju ke tempat dimana aku masih berbaring. Tanpa rasa bersalah, dan dg polosnya dia melapor padaku "Mama, celanane Jasmine ditotoli" (Celananya Jasmine dikotori).

Tapi yg terlintas di pikiranku seketika itu adalah:
Astaghfirullah... 🤦‍♀ (2)
Terjadi lagi??!! 😲😓
Pemandangan macam apa ini??!! 😤😣

Segera kutarik Jasmine sambil mencari dimana keberadaan celana hijaunya. Kata2 intrograsi meluncur begitu aja dari cangkem ini, tanpa ba bi bu, tanpa peduli ekspresi gadis kecil itu -- yg mungkin ketakutan krn emaknya teriak2.
Jasmine kenapa pulang2 telanjang (lagi)?!
Habis pipis sembarangan (lagi)?!
Pipis sama siapa (lagi) kali ini?!
Pipis dimana?!
Mana celananya?!
Dan bla bla bla...
Emaknya berubah jd kayak monster, Jasmine nangis kejer.

Kutemukan celana Jasmine tergeletak di halaman tanah dlm kondisi basah dan kotor. Di tanah itu ada dua bagian yg basah (aku menduga, salah satunya adl bekas pipisnya Jasmine). Segera kugiring anakku ke kamar mandi, kubersihkan, kupakekan celana ganti yg bersih. Kugendong dia ke tempat tidur. Kubaringkan dia di kasur.

Dia masih nangis2, sambil bilang "Maaf ya Maaa..." (Selalu spt itu, tiap kali kena marah, dia pasti bilang begitu). Anaknya ku omongin banyak2... Sambil ku usap2 kepalanya, punggungnya... Aku tau, dia lelah dan ngantuk, lagipula sekarang adl jam bobok siangnya.

Jasmine jangan pipis sembarangan lagi.
Malu, dilihat orang.
Nanti bau pesing, kan di sana buat lewat orang.
Allah suka anak yg bersih.
Kalo pipis di kamar mandi. Trus cawik.
Lain kali jangan diulangi lagi yaa.
Janji?
Mama ga suka Jasmine pipis sembarangan.
Bla bla bla... Hingga anaknya ketiduran...

Mungkin, bagi sebagian ortu, anak pipis di mana aja, adl hal lumrah. Malahan, ada yg kalo anaknya pengen pipis, disuruh pipis di depan rumahnya. Bukannya dianter ke kamar mandi. Tapi bagiku, aku ga mentolerir perilaku anakku yg semacam itu. It's oke kalo dia masih ngompol, it's not a big deal. Yang jadi masalah adl aku ga suka dia dg sengaja pipis sembarangan.

Dan aku adl tipe emak yg akan menerapkan konsekuensi atas perilaku anakku yg menyimpang dr aturan. Kami sepakat, kalo Jasmine melakukan suatu pelanggaran, itu artinya bakalan ada jatah kesenangannya yg berkurang. Jasmine senang main HP, senang mimik susu kotak, juga makan jagung bakar. Karena dia pipis sembarangan (berkali kali), maka kesenangan itu kucabut darinya. Ga ada jatah main HP menjelang tidur (boleh nonton tapi ga boleh sbg operator), ga ada jatah beli susu kotak, pun jagung bakar. Hahahaha 😈

Dianggap sbg emak yg jahat? 😏
Bodo amat! 😝

Aku bukanlah ibu yg sempurna atau sok sempurna dlm hal mendidik anak. Aku cuma ibu yg pingin memiliki anak yg lebih baik dari diriku yg apalah2 ini. Memilikinya bisa menjadikan diriku lebih baik lagi. Mungkin saat kecil, anak kita terlihat begitu manis, baik, dan sholih, tapi belum tentu kelak dia akan tetap spt itu. Dan belum tentu juga anak yg masih kecil terlihat nakal, bandel, suka bikin onar, besok gedenya akan terus begitu. Tugas kita sbg ortu hanyalah mendampingi mereka agar anak2 kita tetap berada di jalur yg seharusnya. Kita ga pernah tau sampai kapan kita bisa membersamai mereka. Maka dari itu, selagi kita masih ada, mari kita tanamkan adab2 yg baik sedari dini, karena masa2 itulah anak2 mudah diajari. Sungguh, mereka adl spons yg luar biasa, mudah menyerap apapun di sekitarnya. Mari kita didik anak2 kita adab2 yg baik sebelum mereka terlanjur dididik oleh lingkungan. Semoga senantiasa Allah membentengi anak2 kita dr perilaku yg buruk.

Sekian.
Saya, emak yg leluasa main HP krn ga dipinjem oleh anaknya 😆😈😜

Read more...
separador

Siklus Berkembangbiaknya Pakaian Anakku

Bagi yg punya balita dan lagi aktif2nya, pasti paham banget dong soal kenapa pakaian mereka cepet banget berkembangbiaknya. Pagi, kranjang/ ember wadah pakaian kotor udah kosong mlompong, menjelang siang, satu dua stel pakaian anak mengisi kekosongan. Eh, belum nyampe sore, pakaian2 itu udah saling fall in love, bercumbu mesra, tumpuk undung hingga akhirnya mereka beranak pinak dg pesatnya. 😅

Itu tandanya anak kita sehat2, punya banyak pakaian yg layak, dan bisa selalu tersedia dlm kondisi bersih. Alhamdulillah yaa.. Semoga kita (juru cuci manual cap Nyonya duduk) senantiasa diberi kekuatan, kesehatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam mengendalikan perkembangbiakan pakaian anak2 kita. Semoga rasa lelah yg sering menghampiri tubuh ini berbuah manis suatu saat nanti, Aamiin... 😇

Selain mengendalikan perkembangbiakan pakaian, aku juga belajar mengendalikan diri, utk ga terlalu bayak ikut campur urusan gadis cilikku. Juga berusaha meredam cangkem ini utk tidak berteriak "Jangan!!" atau "Nanti kotor!!" Anakku mau main sama temennya neng mburi omah (lokasi favorite anak2 buat bermain), mau naik turun tangga di rumah berkali kali, mau main hujan, main pasir, main lumpur, main air sampe nyemplung ember sekalipun, aku berusaha ga mempermasalahkannya. Ku biarin. Sesukanya. Sebahagianya. Aku baru akan ikut campur kalo udah ada tanda bahaya, terdengar suara tangisannya, atau kalo dia melakukan suatu pelanggaran.

Tak jarang tingkah polah anak bikin ortu gregetan, takut, khawatir, pun sekaligus  bikin bangga. Dulu, kalo aku liat anakku main air, kungkum, aku khawatir nanti dia bisa kepleset atau takut dia masuk angin. Aku sebel krn pakaiannya basah dan harus ganti, aku jadi capek nyuci. Sekarang, aku berusaha utk ga terlalu ambil pusing, tanamkan positive thinking. Misal, saat mata ini menyaksikkan anak lg asyik main air. Batin ini berkata, gak apa2 Nak, sebahagiamu. Sehat, sehat, sehat, ga sakit, ga masuk angin. Dengan begitu, aku merasa diri ini lebih selow dan lebih waras, wkwkwk... 😌😜

Kalo kondisi biasa, anakku cuma mengotori dua stel pakaian. Pagi dan sore. Kalo kondisi luar biasa dan di luar dugaan, anakku bisa mengotori lebih dari tiga stel pakaian. Pagi habis mandi, beberapa menit kemudian, menjelang siang, habis mandi sore, menjelang tidur, dan kadang saat dia udah tidur pun (krn ngompol). Wkwkwk... 😜

Keesokan harinya, pakaian2 yg sedang beranak pinak di keranjang itu udah kembali bersih spt semula. Mereka hidup bahagia di dalam lemari meski hanya sekejap saja. Suatu saat nanti, pakaian kotor yg menumpuk itu hanya akan menjadi kenangan yg pasti ku rindukan. ☺

Tamat.

Read more...
separador

Tuesday, July 7, 2020

Jasmine dan Susu Kotak (Part 1 - di Warung Sebelah)

~ Jasmine dan Susu Kotak (Part 1 -- di Warung Sebelah)

Kemaren, siang2 waktu aku lg duduk2 santuy, tiba2 ujug2 mak bedunduk  ada yg mendatangi. Eh, jebulnya anak gadisku sendiri... Pulang dari main...

👧: Mama, Jamin mau tutu (Jasssmine mau susu) -- anakku mah gitu, kalo kecepeten nyebut namanya, Jasmine jadinya Jamin 🤦‍♀
🧕: Susu apa?
👧: Tutu totlat (susu coklat)
🧕: (Dalem hati... Untung cuma minta susu coklat, bukan susu ibu. Kan dia udah disapih, umurnya dah dua tahun lebih). Beli di mana?
👧: Di Mbak Meloni (Padahal namanya Melani).
🧕: Ya, nanti yaa.. Bobok siang dulu. Kalo dah bangun nanti trus beli susu coklat.
👧: Moh bobok tiang!
🧕: Jasmine pilih mana? Bobok siang dulu, trus beli susu. Atau... Ga bobok siang, ga beli susu.
👧: Jamin mau tutuuuu...!! (dia mulai teriak, makin merengek, sebentar lg pasti akan turun tangan, ngamuk. Bisa ngeplak, njiwit, njambak, atau apapun itu yg bisa dibilang semacam KDRT. Wkwkwk...).
🧕: Jangan menyakiti! (Ku pegangi tangan mungilnya yg barusan mendarat di wajahku, habis ngeplak).
👧: (Tangannya beralih ke rambutku, berniat njambak).
🧕: Anak baik tu ga menyakiti! Kalo dijambak itu sakit, tau?! (Sebelum rambutku mbrodol kena jambak yg makin kuat, ku genggam erat lengan ciliknya, sedikit demi sedikit biar jarinya terlepas dr rambutku yg kusut krn udah lama ga kesentuh air dan shampoo).
👧: (Akhirnya benteng pertahanannya utk mendapatkan susu coklat runtuh jg, nangis kejer lah dia. Wkwkwk...).
🧕: (Puk puk puk... Peluk doi sambil elus2 punggungnya).
👧: Maaf ya Maa... (Sambil masih nangis, tp ga seheboh yg tadi).
🧕: Iya.. Mama tau, Jasmine kesal krn pengen banget mimik susu coklat tapi ga langsung mama belikan ya? Susu yg ada gambar beruangnya itu kan? Masalahnya adalah Jasmine belum bobok siang. Nanti kalo pas mimik susu trus Jasmine  ngantuk, jadi ky mas yg di video 'tung tak tung tung' itu pie? (Sambil meragain kepala Jasmine yg teklak tekluk pura2 ngantuk dan itu bikin kami berdua tersenyum lucu. Video bisa dilihat di postingan sebelum2nya). Nah, ayo sekarang bobok siang dulu, nanti kalo udah bangun, ga ngantuk lg, trus beli susu deh!
👧: Beli tutu dua ✌ totlat sama tobeli
🧕: (Eh, nglunjak dia. Wkwkwk). Satu aja ya☝ Soalnya susunya mahal, tiga-ribu-lima-ratus. Mahal itu harus pake uang banyak. Uangnya mama sedikit, cuma cukup buat beli susu satu.

----------

Sering anakmu merengek minta sesuatu, hingga melakukan KDRT padamu, Mak? (Basanya anak2 takut sama bapaknya, so, yg lebih sering jd korban adl emaknya)
Kalo iya. Brarti sama. Hahaha...
Mungkin bagi sebagian besar ortu, melihat tingkah anaknya yg spt itu jd sebel, anyel, mangkel, marai frustrasi dan rasane pengen mengisolasi diri. Wkwkwk...
Daripada menyaksikkan tangisan dan amukan anak, mending diturutin aja keinginan si anak. Biar lekas piling gud, laik asyud. Yes. Si anak menang! 😏

Kalo aku, NO WAY! 🙅‍♀
Terkadang, utk urusan sepele spt itu, aku ga mau kalah dan ga mau ngalah begitu aja sama anakku. Di sini, aku lah yg pegang kendali, aku lah ratunya. Hahaha..

Enak aja, dia minta ini itu dg segera langsung seketika sim salabim tanpa melakukan suatu usaha, tanpa ada kontribusinya. Bukannya sbg ortu ga ikhlas, bukannya ga sayang anak, tapi, apa salahnya ngajarin anak utk menunda kesenangan, membiasakan anak utk tidak manja yg kemauannya harus diturutin segera, melatih anak utk menaati aturan keluarga dan memenuhi kewajiban dahulu baru mendapatkan haknya? 😒

Selain itu, aku ingin mengajarkan anakku ttg KEINGINAN vs KENYATAAN. Manusia boleh berkeinginan, tapi hidup tak selalu memberikannya. Sangat realistis kalo banyak keinginan manusia tidak terpenuhi, termasuk keinginan anak. Aku ingin menunjukkan ke anakku kalo semua orang juga mengalami hal yg sama : TIDAK SEMUA KEINGINAN MEREKA TERPENUHI, apalagi dalam satu waktu semua terjadi. Memang berat, tapi ini harus dibiasakan agar anak melihat kenyataan dan belajar menerima kenyataan.

Bagiku, rutinitas bobok siang itu penting utk anakku. Dan wajib hukumnya. Makanya, kalo anakku melewatkan jam bobok siangnya, pasti akan ada konsekuensi di belakangnya. Misal : ga dibolehin main HP seharian hingga malam, ga boleh minta susu, permen, atau jajanan lain.

Aturan kalo Jasmine minta sesuatu:
1. Jasmine minta, oke ku kasih saat itu juga.
2. Jasmine minta, well, let's talk about it later, tunggu dulu, nanti ku kasih.
3. Jasmine minta, I'll give you another better, semisal krn permintaan dia ga bisa ku penuhi atau permintaannya terlalu absurd bagiku, wkwkwk...

Selain ga mau kalah, aku jg ga mau ngalah dr anakku. Kalo dia udah mulai keterlaluan, main tangan, ga akan aku biarkan diri ini menjadi sasaran bulan2an. Memangnya ga sakit apa kalo dipukul, dijambak, dijiwit?! Mentang2 dia masih kecil, aku yg udah besar ini dipukuli, trus aku suruh ngalah diem aja gitu. Oo, tidak bisa begitu Esmeraldah... No no no no! ✋😒

Meski aku ga mau ngalah, aku tetap berusaha mencoba memahami apa yg dia rasakan. Aku tau dia sangat menginginkan susu coklat favoritenya. Di sini, dia jarang banget dapet jatah minum susu kotak (mengingat anggaran rumahtangga tak cukup buat selalu menyediakan susu untuknya) 🙈
Semua perasaan dapat diterima. Sebagian tindakan harus dibatasi. Aku mencoba menerima dan memahami perasaan Jasmine yg mungkin kesal, marah, krn dia tdk mendapatkan apa yg dia inginkan, jadilah perasaannya diinterpretasikan menjadi perilaku agresif, mukul, njambak. Tapi, kalo direspon dg  kata2 yg 'membenarkan' adanya perasaan negatif itu, dia bisa jauh lebih tenang dan ga merengek atau melakukan KDRT lg padaku.

Akhlak dan kebiasaan seseorang dibentuk sejak dia masih kecil. Jika sedari kecil terbiasa bicara kasar, berperilaku kasar, sampai dia jadi uztad pun akan jadi uztad yg kasar. So, aku ga mentolerir perilaku menyimpang dr anakku dg alasan "Ah, namanya juga anak2."

Aku mencoba memahami bahwa saat perasaan anak tidak baik, mereka tidak bisa berperilaku baik. Jasmine kesal, marah, krn ga dibelikan susu? It's normal. Boleh marah.. Silakan.. Aku ga melarang anakku marah, pun ga melarangnya menangis.
Perilaku yg ga ku ijinkan saat Jasmine marah adl :
1. Teriak atau menjerit berlebihan
2. Melempar atau merusak barang2
3. Menyakiti diri sendiri atau orang lain

----------

Nah, setelah amarah dan rengekan Jasmine mereda, kami berdua gojekan spt biasa di kamar, belajar buku kisah nabi2, bermain peran, aku jadi Jasmine, Jasmine jadi aku, hingga kami lelah, ngantuk, akhirnya ketiduran hingga waktu ashar menjelang.

Malamnya, sehabis isyak, kami jalan berdua, bergandengan tangan, membawa selembar uang menuju ke warung sebelah milik mbak Meloni, eh, Melani. Beli susu kotak coklat ultra mimi. Karena Jasmine udah penuhi kewajibannya bobok siang, maka aku pun berikan haknya utk menikmati susu coklat keinginannya.

Di warung, Jasmine minta tambahan jajan pilus. Meski harganya cuma limaratus tetep ga ku belikan, krn dlm kesepakatan, dia cuma boleh beli susu kotak satu. Untungnya dia mengerti dan ga bikin rusuh di sana krn ga dibelikan pilus. Setelah berhasil mendapatkan susu coklatnya, kami berdua pulang dg riang gembira, sambil ngobrol2 tentunya... 😁

----------

Kelihatan so easy, yes? 😅
Jasmine mudah dikendalikan. Cuma dibilangi begini begitu aja, ga butuh waktu lama, amukan dan amarahnya bisa mereda. Luluh. Bisa nurut kata2 emaknya.
Yah. Begitulah efek dari "the power of cangkem" 🤭
Maksudnya, sering2 lah ngajakin ngobrol anak, intinya sih itu.
Yg aku lakukan : berperan sbg teman yg asyik buat Jasmine.
Yg orang lain lihat : "Ini udah emak2 kok bicara dan tingkahnya kek anak2 sih?"

Demikian.
Saya, emak yg galak 😒

Read more...
separador

Wednesday, July 1, 2020

Nyapih Jasmine

Allah SWT berfirman:

"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)

Sebagai seorang muslim dan sekaligus seorang ibu, kalau punya anak usianya sudah mendekati 2 tahun, yang dipikirkan pasti soal MENYAPIH. Eh, tapi ada juga ding, ibu lain di luar sana yang juga mikirin setoran dana talangan haji buat anaknya yang masih bayi, saking panjangnya antrean, sampai sampai anak baru lahir aja udah didaftarin haji. Wkwkwk.

Di sini aku mau cerita caraku menyapih anak perempuanku yang paling kintung kintung sedunia tiada tara, Jasmine namanya. Ceritaku ini mungkin bakalan panjang dan membosankan. Jadi, siap siap kopi dan camilan. Hehehe.

Menurutku, prosesi menyusu bukan hanya sekedar transfer makanan atau minuman dari emak ke anak. Tapi di sanalah, di payudara emaklah, ditemukan kenyamanan, keamanan, juga kasih sayang. Percaya gak?

Nih ya...
Pernah gak kamu perhatikan? Saat anakmu lagi marah, nangis, atau ketakutan, lalu kamu peluk, kamu taroh kepala anakmu di dadamu, sambil punggungnya diusap usap, lalu dia berangsur angsur menjadi lebih tenang, apa lagi kalau sekalian disusui. Dari yang tadinya nangis kejer bisa ketiduran hingga pulas. Itu tandanya, menyusu tidak hanya sekedar berfungsi buat ngisi perut si anak. Makanya, kalau si bapak lagi marah, sebel, badmood, coba juga disusui, bisa bisa minta nambah! Wkwkwk.

Pernah gak waktu menyusui anakmu, kamu juga merasakan ketenangan dan kebahagiaan? Saat menyusui, sambil liatin anakmu, kamu belai rambutnya yang lembut meskipun baru tumbuh sehelai dua helai. Kamu perhatikan rambut alisnya yang masih samar, belum begitu nampak. Matanya yang bening dan bulat menatapmu seolah kamulah satu satunya hal yang menarik baginya. Bibirnya yang monyong monyong lagi sibuk dalam urusan pengeyutan. Jemari tangannya yang mungil, ada kuku kuku yang mini di sana, dan kamu tersenyum karena ternyata mirip dengan kukumu. Kamu menyadarinya gak cara tangannya yang manis menjelajahi lehermu, kerah bajumu, wajahmu, atau terkadang suka memainkan hidungmu yang tak mancung itu? Kamu melihatnya gak, kedua tangan kecil itu menekan lembut dadamu, seolah ingin membantu melancarkan aliran ASImu? Pernah gak kamu merasakan sensasi kebahagiaan dan memperhatikan semua gerak gerik bayimu itu?

Menurutku lagi, misal menyusu adalah tempat bagi anak menemukan keaman dan kenyaman, maka sapih adalah proses emak dan anak keluar dari zona aman dan nyamannya selama ini. Jadi sebenernya, gak cuma si anak yang menginginkan ketenangan dan kenyamanan berupa nenen, tapi si bapak juga. Ups! Makanya, anaknya lekas di sapih, Mak, bapaknya udah ngantre tuh! Wkwkwk.

Tapiiii... Gimana cara ngajak si kecil agar mau keluar dari confort zone? Apakah saat anak ultah ke dua, ujug ujug langsung sapih gitu aja tanpa pemberitahuan sebelumnya? Makbedunduk langsung distop gak boleh menyusu lagi dengan berbagai alasan yang mengada ada dan tipuan belaka? Coba bayangin, gimana rasanya, misal kamu udah enak enak tinggal di rumah petak, eeh, tau tau kena gusur tanpa surat pemberitauan terlebih dulu. How does it feel?
Hancur hati iniiii... Remuque hati iniiii...
Mungkin itu juga yang dirasakan anakmu kalau cara nyapihmu seperti itu, Mak.
Mungkin batinnya : "Hlo iki mbokku maksude yoopo kok tega mbi aku? Wingi iseh entuk nyusu tiba tiba saiki gak entuk ki pie?"

Apa gak kasihan, Mak?

Cara nyapih anak dadakan, selain bikin anak trauma dan terluka batinnya, juga bikin payudara emak jadi bengkak. Siapa yang sudah terlanjur ngalami kek gitu? Cung! Hehehe.

Karena pada prinsipnya, makin sering dikenyut, ASI makin banyak diproduksi. Nah, giliran pengenyutan dihentikan secara tiba tib, terjadi penumpukan produksi ASI, itu yang bikin payudara jadi berasa penuh dan sakit. Parahnya lagi, bisa sampai bikin emak demam. Belum lagi kalau payudara dikasih oles oles bahan yang semestinya gak boleh tertelan, misalnya lipstik, betadine, balsem, minyak kayu putih, dsb. Dah gitu masih ditambah tambahi dengan sandiwara, membohongi anak dengan bilang nenennya sakit lah, pura pura dihasaplast lah, atau dikasih pahit pahit lah. Tanpa sadar hal itu sama aja ngajari anak berbohong. Kasihan, Mak.

Kalau zaman dulu, bisa dipastikan sebagian besar ibu memang begitu cara menyapihnya, karena mungkin belum mengetahui kalau ada cara lain dalam menyapih yang lebih menyenangkan. It's oke. Maklum. Ortu zaman dulu, asal anak sehat dan bahagia, sudah merasa luar biasa. Dan Alhamdulillah, ortu kita telah merawat dan membesarkan kita hingga kini memiliki anak sendiri, giliran kita yang berperan menjadi orang tua.

Orang tua zaman now yang katanya milenial, memiliki akses lebih luas terhadap pengetahuan daripada orang tua zaman old. Melek ilmu, terutama parenting. Berseliweran dimana mana, bisa diperoleh kapan saja. Cuman yang menjadi pertanyaan, bersediakah mengamalkannya? 

Dan demi kebaikan bersama, aku gak menerapkan cara nyapih yang mendadak dangdut seperti cara zaman old ke Jasmine dan adek adeknya kelak. Aku ingin menjaga perasaan anakku, aku ingin aku dan anakku sama sama rela lepas dari zona nyaman kami berdua, dan kami akan menghadapi semua tantangan ini bersama sama.

Lika liku negosiasi pemberhentian menyusu antara aku dengan Jasmine.

Mama : Jasmine... Anak mama yang paling kintung kintung sedunia, besok kalo udah umur 2 tahun gak usah nenen lagi yaa... Kan Jasmine udah jadi anak kecil, bukan bayi lagi.
Jasmine : Nenen bobok kayak bayi, Maa...
Mama : Walah...

------

Mama : Meskipun Jasmine udah gak nenen mama lagi, tapi mama tetep sayang sama Jasmine. Jasmine boleh mimik susu sapi moo, yang stoberi, atau yang coklat juga boleh. Mimik jus, teh hangat, susu kedele, mimik air putih cuurrrr. Tapi gak boleh nenen.
Jasmine : Nenen, Maaa. Jasmine mau nenen.
Mama : Waduh!

------

Jasmine : Mas Dudut nenen (dia lihat temen sebayanya lagi nenen sambil bobok)
Mama : Iya, tapi besok sebentar lagi Mas Dudut juga gak boleh nenen kayak Jasmine.
Jasmine : Jasmine nenen, Maa.
Mama : Main puzzle aja yuk. Dibikin rumah. Atau baca buku yang ada gambar hewan hewannya.
Jasmine : Beyajang, Ma. (menurut Jasmine, baca buku itu dibilang belajar)
Mama : Belajar sama papa, yaa.
Jasmine : Sama mama wae cok! (sama mama aja kok)
Mama : Bhaiquelah!

------

Jasmine : Bobok nenen neng nduwung, Ma (dia minta bobok sambil nenen di kamar atas)
Mama : Iya, nanti yaa. Tunggu sholat isyak dulu.
Jasmine : Nco, nco, Jasmine bobok nenen neng nduwung. (nanti Jasmine bobok nenen di kamar atas) 
Mama : Hmm...

------

Mama : Jasmine nenennya sebentar aja yaa.
Jasmine : .... (masih asyik ngenyut)
Mama : Jasmine sebentar lagi umur 2 tahun hloo, gak nenen yaa?
Jasmine : Ya. (lanjut nenen)
Mama : Tenan?
Jasmine : Tenan. (lanjut lagi)
Mama : Janji?
Jasmine : Janji. (dan tetap masih lanjut nenen)
Mama : Duh, Dek! (aku tau, meski udah janji, pasti besok besok tetep minta nenen lagi)

------

Alhamdulillahnya, anakku udah bisa merespon apa yang kubilang ke dia. Jadi kuharap dia ngerti dan paham maksud omongan emaknya ini. Meskipun anak anak kalian ada yang belum bisa menanggapi obrolan kalian, jangan kira anak kalian tuh gak ngerti apa apa. Mereka itu pandai, mereka pembelajar yang handal. So, jangan ragu buat sering sering ngajak anak ngobrol, Mak.

Memang butuh kesabaran ekstra dan waktu tak sebentar. Bahkan aku mempersiapkan diriku dan Jasmine sejak dia umur 1.5 tahun. Saat dia lagi menyusu, saat lagi nonton video lagu lagu di HP, saat dia lihat teman sebayanya menyusu, dan terutama saat dia menjelang tidur kondisi sudah merem tapi belum lelap, selalu kukasih tau dia kalau sebentar lagi udah gak boleh menyusu, soalnya Allah ngasih jatah Jasmine menyusu sebaiknya sampai umur 2 tahun aja.

Di samping persiapan jauh jauh hari, juga butuh teknik. Mengurangi frekuensi dia menyusu dengan distraksi dan negosiasi. Ya gitu caranya, saat anak pengen menyusu, alihkan ke hal lain yang dirasa lebih menarik minat dia. Anak kecil itu rentang konsentrasinya masih pendek, jadi perhatiannya mudah dialihkan. Jadi kita sebagai ortunya memang dituntut sabar dan pintar mengalihkan perhatian. Dengan begitu, otomatis frekuensi menyusu jadi berkurang. Misal semula, sehari bisa menyusu 5x, bisa berkurang jadi 2x sehari. Lama kelamaan siang sudah gak menyusu, cuma malam aja menyusunya sebagai ritual menjelang bobok.

Selain itu, peran keluarga juga sangat penting, terutama suami. Bikin si anak lebih deket dengan bapaknya. Misal waktu malam ingin menyusu (otomatis anak bakalan nangis, rewel, dan menyebalkan), biarkan si bapak yang menghadle anak. Entah dengan cara diajak main, diambilkan minum atau makan, dibacakan buku, digendong sampai anaknya ketiduran. Intinya, biar anak terbiasa gak menyusu malam. Sesekali emak bisa rehat lebih awal. Gimana? Seneng atau seneng banget, Mak? Wkwkwk.

Makasih ya my ipel ipel and uyelable husband, yang sudah merelakan pundaknya malam malam buat gendong anak kita selama proses sapih. Hehehe.

Nah, kalau anak sudah biasa gak menyusu, karena lebih asyik main sama temannya, eh, tiba tiba rebutan mainan, nangis kejer, jangan sodorin nenen sebagai penenangnya. Pokoknya jangan tawari anak buat menyusu, kecuali pada kondisi tertentu, misal jika anak sakit, gak doyan makan minum selain inginnya menyusu aja.

Ngomong ngomong soal sakit, Jasmine mulai gak kususui ya sejak dia habis sakit. Diare. Demam. Waktu priksa ke dokter, Jasmine dengar sendiri kata dokter kalau pupnya masih cair, jadi gak dibolehkan minum susu dan produk turunannya, juga gak dibolehkan makan coklat dan makanan manis manis dulu.

Di rumah...
Mama : Jasmine dengar kata buk dokter kan? Pupnya masih cair, gak boleh mik susu dulu. Gak boleh nenen.
Jasmine : Nenen, Maaa...
Mama : Jasmine pupnya masih cair hloo.
Jasmine : Macih cain? (masih cair?)
Mama : Iyaa. Besok kalau udah gak cair, boleh mik susu lagi. Sekarang mimiknya ganti teh hangat dulu aja yaa.
Jasmine : Nco, nco, ndak cain, boyeh mimik cucu? (nanti kalau pupnya gak cair boleh mimik susu?)
Mama : Iyaa. Tapi susu sapi moo, bukan susu nenen.
Jasmine : Cucu cocat. (susu coklat)
Mama : Susu coklat boleh, stroberi juga boleh.

Sejak saat itu, tiiiiapp hari Jasmine minta menyusu, meskipun pupnya sudah gak cair, sudah kembali normal, selalu aku ingetin kalau dia gak boleh mik nenen, bolehnya susu sapi moo. So, ada hikmah di balik musibah. Hehehe.

Tapi, apakah berhenti sampai di situ, Jasmine gak minta menyusu lagi?
Oh, tentu tidak, Mak!
Perjuangan kami berdua masih berlanjut...

Ciri khasnya Jasmine, kalau minta sesuatu tapi gak keturutan, dia bakalan nangis sambil minta digendong. Jadi ya dikuat kuatin aja ini pundak biar gak makin semplok membawa beban yang makin bertambah. Udah Jasmine yang makin berat (sejak gak menyusu lagi, makannya jadi tambah lahap), ditambah beban di perut karena makin menggendut, pun beban pikiran kalau kurang piknik dan kurang transferan. Wkwkwk.

Selain faktor dari dalam, yaitu antara aku dan Jasmine, juga pasti tak lepas dari pengaruh faktor luar, bisa itu ortu, mertua, saudara, tetangga, atau bahkan komentar netijen.

Pernah ibukku menyarankan buat menyapih Jasmine dengan cara konvensional, yang seperti aku hindari tadi. Tapi aku gak setuju. Aku jelaskan ke ibuk kalau ada cara lain yang lebih menyenangkan. Lalu ibuk juga menyarankan buat suntik sapih. Ini gak salah ketik. Suntik sapih hlo ya, bukan sapi. Memang ada sapih dengan cara suntik. Di klinik tempat aku kontrol kehamilan, ada layanan suntik sapih. Jadi, si ibu diberi suntikan yang entah obat apa aku gak tahu, tujuannya biar si anak gak mau menyusu lagi. Mungkin suntikan itu berpengaruh ke rasa ASI atau gimana mekanismenya aku gak tanya ke petugas kliniknya. Karena selain aku takut disuntik, juga memang dari awal aku gak setuju sapih dengan cara seperti itu. Untungnya ibukku mengerti, dan aku akan membuktikan cara sapihku yang lebih menyenangkan ini berhasil di Jasmine.

Selain saran dari ibuk, ada juga saudara yang menyarankan agar Jasmine segera disapih, dengan cara lama. Mengingat aku hamil, tapi masih menyusui. Breastfeeding while pregnant bagi sebagian orang memang terlihat masih asing. Anggapan orang zaman dulu, kalau menyusui tapi keburu hamil lagi, maka mau gak mau harus disapih. Tapi kalau zaman sekarang, menyusui selama hamil, itu gak apa apa. Dengan catatan tidak terjadi keluhan kehamilan yang berarti selama menyusui. Awal awal aku hamil, sedang aku masih menyusui, di bagian perut bawah memang terasa agak nyeri saat Jasmine ngenyut nenen terlalu kuat. Tapi itu biasa, dan tidak membahayakan diriku maupun calon adiknya Jasmine.

Saran bisa datang darimana saja, meskipun tanpa diminta. Begitu juga dengan ilmu, bisa didapat dari mana saja meski tanpa sengaja. Jasmine adalah anak pertamaku, otomatis, menjadi ibu adalah hal baru bagiku. Tapi aku selalu berusaha update ilmu, biar saat dihadapkan pada kenyataan, setidaknya gak kagetan. Dan gak sering beralasan "Maklum, baru anak pertama," untuk sebuah ketidaktahuan. Jangankan baru anak pertama, wong yang sudah punya tiga empat anak aja kadang masih kelabakan mempraktikkan teori yang selama ini dipelajari. Hehehe.

Sesaat pasca sapih...
Suatu hari, aku, Jasmine, dan bapaknya Jasmine lagi nonton TV.
Jasmine : Nenen, Maa...
Mama : Kan Jasmine udah gak boleh nenen.
Jasmine : Eeh, macuk macuuk (tangannya dimasukin ke baju emak, ketemu puting, diplintir plintir).
Mama : Saru, malu ah! Mama geliii...
Jasmine : Yoo nenennya yo Maa. (hlo nenennya)
Mama : Nenennya udah habis susunya. (karena lama gak dikenyut, ASI ku udah gak keluar lagi)
Jasmine : Dihabiscan capa? (dihabiskan siapa?)
Mama : Dihabiskan Jasmine.
Jasmine : Ini nenennya papa?
Mama : Iya, ini nenennya papa. Dikembalikan ke papa, ya? (dalam batin ketawa)
Jasmine : Ni Pa, nenennya.
Papa : Yaa... (bapaknya lempeng lempeng aja jawabnya)
Mama : Besok gantian dipinjam dedek ya nenennya?
Jasmine : Jasmine mau nenen...
Mama : Kan susunya udah dihabiskan Jasmine. Nonton TV aja yuk. Eh, ada hewan hewanya gak yaa? (Jasmine suka nonton acara yg ada hewan hewannya)
Jasmine : Ada.
Mama : Dicari dulu yang ada hewan hewannya.

Begitu seterusnya hingga gak terasa sudah sebulan Jasmine gak nenen. Dan memang kalau dia pingin ngenyut, sudah gak bisa keluar ASInya, keknya dia juga sudah lupa gimana cara ngenyutnya, jadi dia menolak nenen dengan sendirinya. Hahaha.

Meskipun sudah bisa dibilang sukses nyapih Jasmine, perasaan sedih dan bersalah kadang masih nyelip di dada. Aku gak nyangka aja "segampang" itu proses nyapihnya. Gak perlu kebanyakan drama, gak perlu oles puting segala, gak perlu jamu jamuan, eeh, anaknya cuma perlu diajak ngobrol dan dialihkan perhatiannya. Jadi, sejak tanggal 1 Februari dia sudah gak nenen. Itu artinya belum genap 2 tahun. Lebih tepatnya saat dia umur 22 bulan. Kadang aku kangen pingin dikenyut lagi, mendekapnya lagi di dada ini, sambil nyiumi ubun ubunnya dengan rambutnya yang tipis. Kek seolah olah mau ditinggal Jasmine rabiiii... Hiks...

Yang lagi proses sapih, tetap sabar dan tetap bakoh ya, Mak! Rengekan dan tangisan anak memang sering melemahkan kita. Selalu libatkan Allah di setiap usaha kita. Selalu iringi usaha dengan doa. Karena hanya Allah yang menentukan kapan anak bersedia lepas dari menyusunya.

Semoga ceritaku bermanfaat dan bisa jadi bahan pertimbangan "cara menyapih" anak anak kalian. Sekali lagi, ceritaku ini bukan bermaksud sok tahu atau underestimate cara menyapih buibu yang berbeda dengan cara menyapihku. Karena, ibu lah yang paling mengerti kondisi anak anaknya, dan semua ibu pasti menginginkan yang terbaik buat anak anaknya.

Sekian,

Read more...
separador

Jasmine dan Sepeda (Part 2 - Roda Tiga)

🎵Kring kring kring ada sepeda
🎵Sepedaku roda tiga
🎵Kudapat dari ayah
🎵Karna rajin bekerja

Eh, liriknya gimana sih? Masak anak seumuran pengendara sepeda roda tiga, yg notabene masih balita udah disuruh kerja? Eksploitasi anak itu namanya! Masih mending kan ya kalo liriknya "karna rajin belajar"? Belajar juga ga harus di sekolah, bagi balita mah belajar bisa dimanapun dan kapan pun, asal emak bapaknya mau ngajarin... 🤗

Seperti Jasmine, anakku yg paling kintung2 sedunia tiada tara, utk mendapatkan sebuah sepeda roda tiga aja, dia harus belajar ngumpulin uang dg cara bekerja, eh, memalak, duh, sorry typo, maksudnya dg cara menabung. 🤭

🎵Bang bing bung yok kita nabung
🎵Tang ting tung hey jangan dihitung
🎵Tau tau kita nanti dapat untung
🎵Dari kecil kita mulai menabung

Ada yg masih inget lagu itu? Kalo iya, mestinya sekarang kalian udah jadi orang tua. Wkwkwk... 😜

Nah, sbg orang tua, aku mulai ngajari anakku utk nabung sejak dia umur 2 tahun. Demi buat beli sepeda roda tiga. Doi nabung pake uang beneran, bukan uang monopoli, apalagi uang mainan yg ada gambar berbi2annya. Nabungnya jenis uang retjeh gaes, koin 500 atau 1000an. Program nabung mulai sejak bln Februari kemaren, minimal sehari seribu. Target bisa beli sepeda bln Juli atau sebelum pertengahan Agustus. Itu berarti sekitar setengah tahun dia harus bersabar ngumpulin koin demi koin yg dia masukin ke dalam celengan plastik bentuk domba warna merah seharga 4000 rupiah, yg dibeli di warung sebelah (warungnya Mbak Meloni). 😁

Uang yg terkumpul dari hasil tabungan Jasmine jebulnya belum cukup buat beli sepeda gaes.. 😆
Perlu tombok ini brarti!
But it's not a big deal, krn aku mengajarkan proses, bukan hasil. Dengan menabung, kuharap Jasmine belajar utk bisa sedikit lebih bersabar, berhemat (ga banyak minta jajan), berupaya lebih giat utk mendapatkan apa yg dia inginkan, dan dia akan lebih menghargai barang yg udah dia upayakan dg susah payah. Sbg ibu, mudah aja bagiku langsung membelikan sepeda buat anakku, tinggal malak si bapak, "Pa, minta uang! Ga ada uang, ga ada jatah malam!" Wkwkwk.. 😜
Tapi enggak demikian yg aku lakukan gaes.. 😒

Mungkin, ada yg menganggap kami ini ortu yg pelit dan berbelit. Anak cuma minta sepeda yg harganya ga seberapa aja ga langsung dibelikan. Sebenernya, jauh sebelum viralnya kebiasaan goes, aku udah berencana membelikan Jasmine sepeda. Bahkan, jenis dan spesifikasi sepedanya pun sudah aku tentukan. Harga juga sudah kupikirkan. Hanya saja, aku ingin biar Jasmine merasakan sensasi dari kalimat "akan indah pada waktunya", wkwkwk... 😜

Sebagian besar ortu mungkin berpikir "dulu aku boleh susah, tapi anakku jangan sampe susah." So, dg alasan sayang dan cinta kasihnya ke anak, ortu dg mudahnya memberikan segala fasilitas utk si anak yg dulunya fasilitas itu ga bisa didapet sama ortu. Memang, masing2 ortu punya kemampuan finansial berbeda beda utk membahagiakan anaknya, dan itu hak mereka membelikan ini itu ke anak2 mereka tanpa perlu banyak usaha.

Kalo aku dan suami (meskipun pada saat kondisi finansial kami mampu membelikan anak ini itu), tetap sepakat bahwa "awake dewe biyen pernah rekoso, saiki anak2e dewe yoben melu ngrasakne". Huahahaha. Ortu yg jahat! 😈

Dulu, utk sekedar beli mie ayam semangkok aja, aku harus nyisihin uang saku. Suami pun begitu, utk beli sepatu harus nabung dulu. Jadi, apa salahnya Jasmine dan adek2nya kelak jg harus berusaha dulu utk mendapatkan apa yg mereka mau. Wong misalnya dia pengen permen atau susu kotak, ga langsung aku kasih saat itu juga. Ada kewajiban yg harus dia penuhi dulu sebelum mendapatkan haknya, misal harus tidur siang dulu. Ga ada reward sebelum effort. Wkwkwk.. 😜

Aku tau, anakku begitu menginginkan memiliki sepeda sendiri. Terkadang, kasihan juga melihatnya jalan kali atau sesekali berlari kecil, mengekor teman2nya yg pada naik sepeda. Dia selalu semangat manjat2 sepeda motor milik kakung atau bapaknya. Dia selalu ingin pinjem sepeda (roda empat) milik teman sepermainannya meski cuma sebentar. Selalu ingin bisa menaiki sepeda kecil roda dua milik sodara sepupunya. Bahkan, sempat terjadi tragedi dia jatoh dr sepeda itu dan meninggalkan bekas luka di pelipis dekat matanya. (Kisah ini ada di "Jasmine dan Sepeda - Part 1")

Kalo udah begitu, aku hanya bisa menyemangatinya utk lebih giat masukin uang koin ke dalam dombanya (dia selalu semangat utk hal ini). "Kalo uangnya Jasmine udah buanyaaak sekali, besok kita beli sepeda sendiri yaa..," kataku.

Dan, pada hari ini...
Alhamdulillah akhirnya Jasmine berhasil mendapatkan sepeda pertamanya dari hasil nabung selama kurleb setengah tahun, ditambah uang pemberian dari kakung dan utinya, dan ngambil sejimpit dari dompet bapaknya. Wkwkwk... 😜

Congrats my lovely! 😍
Now you got what you want. You have your own bike. Enjoy it. And take good care of it... 😘

Read more...
separador

Thursday, June 25, 2020

Cilok

Tadi pagi, sekitar jam 9an, habis marahan sama suami krn selisih paham dan keinginan soal rancangan meja dapur, aku lihat doi udah wangi, rapi, dan tamvan. Tumben mandi sepagi itu (biasanya mandinya habis duhur).

Lalu beberapa saat doi menghilang dari pandanganku, tiba2 datang nyangking kresek berisi tepung terigu sama tepung kanji. "Bikin cilok gimana caranya, Ma?"
Tumben juga, lagi marahan kok tiba2 doi yg ngajak ngobrol duluan. Jadilah kami berdua uprek bikin cilok sambil ngobrol kek biasanya, sesekali towal towel manja. Wkwkwk..

Siang2 ciloknya dah jadi. Diicip icip, dicomat comot sama para ponakan. Enak. Akhirnya mereka mau beli. Kami mah prinsipnya gitu, seneng nglarisi dagangan sodara sendiri. Sampe sore ini tadi cilok tinggal separoh, tau2 ada yg borong, 10rb'an dua. Eh, ternyata ciloknya cuma tinggal 15rb. Alhamdulillah, laris manis...

Dua hari ini jualan es campur ga ada yg beli sama sekali, tapi yg namanya rejeki ga berhenti sampe di situ aja. Nyatanya, selama jualan es campur ga laku, kami sekeluarga masih sehat, bisa makan kenyang, dan sekarang dapat ganti rejeki berupa uang hasil dari jualan cilok dadakan.

Kami udah terlatih menghadapi naik turunnya usaha dalam berdagang. Kami mah santai aja. Jualan beberapa hari ini kok sepi, bahkan ga laku sama sekali, positive thinking dan yakin aja, Allah pasti kasih rejeki yg lebih (dlm bentuk lain selain uang). Jualan kok lancar terus, ibarat tanpa hambatan yg berarti, dapet penghasilan ngaliiir terus, mau buat belanja itu adaaa aja uangnya, wah patut dicurigai. Jangan2 ini ujian yg tak terasa, jangan2 penghasilan selama ini ga berkah krn ga dikeluarkan zakatnya, ga sempet sedekah, dan malah menjadikan ibadah2 kita melemah krn terlalu fokus ngurusi dagangan.

Kenapa kami bisa bilang begitu?
Karena kami pernah merasakannya, kami pernah mengalaminya. Makanya, sekarang kami ngasih porsi "sekedarnya" aja dalam urusan dunia... Ga perlu ngoyo ngejar dunyo...

Demikian.
Saya, istrinya bakul cilok dadakan.

Read more...
separador

Sunday, June 21, 2020

Jasmine dan Sandal Jepit

Suatu pagi, sambil nunggu pelanggan es campur datang, aku rebahan di kasur lantai yg tipis dan udah usang. Sambil buka aplikasi shopee, lihat2 sandal jepit murah2an, niatan pengen belikan anak gadisku sandal. Dia cuma punya dua sandal. Pertama, sandal jepit yg ada bunyi nyit nyit, yg ku beli sejak dia belajar jalan, sekitar setahun lebih yg lalu dan sekarang udah kekecilan. Kedua, sandal jepit karet harga 13rb, yg kalo anaknya main entah kemana, sandal itu sering ketinggalan. Jadi, emak pengen belikan sandal lagi, misal sepasang sandalnya ketinggalan, masih punya sandal cadangan sembari nyari sandal yg ketinggalan.

🧕: (lagi scroll2 gambar berbagai macam sandal anak di Shopee).
👧: (rebahan di sebelah dan ikut liatin layar HP emaknya). Ayo Ma, beli sandal yg kek gini2 yo (sambil nunjuk ke salah satu gambar sandal).
🧕: Tapi ini harganya mahal.
👧: Ayo Ma, beli yg mahal yo.
🧕: Mahal itu harus pake uang yg banyak, uangnya mama sedikit. Jd ga bisa beli yg mahal.
👧: Beli sandal yg tetil aja ya, Ma. (beli yg kecil)
🧕: 😅

Mahal antonimnya kecil 😂
Ya, begitulah anak gadisku. Dia berusaha menerima kenyataan kalo emaknya ga bisa belikan sandal yg harganya mahal, makanya beli sandal yg kecil aja, yg ga mahal. 😅

Dari obrolan spontan kek tadi, kalo diterus terusin, Jasmine bisa belajar istilah2 dlm ukuran. Seperti : besar - kecil, mahal - murah, tinggi - rendah,  panjang - pendek. Cuma karena belum tau istilah "murah", jadi dia pake kata "kecil" yg menunjukkan arti "uangnya sedikit".

InsyaAllah, Nak, kapan2 mama belikan sandal yg pas di kaki Jasmine dan pas jg di dompet papa. Wkwkwk.. 😜

Pa, minta uang, buat beli sandal Jasmine.. 😘

Read more...
separador

Followers